Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan domperidone pada anak berusia di bawah 12 tahun tidak membawa efikasi bermakna dan justru malah membawa bahaya berupa peningkatan risiko efek samping. Domperidone merupakan antagonis reseptor dopamine-2 perifer dengan sifat prokinetik dan antiemetik, yang diresepkan untuk penanganan mual dan muntah.[1,2]
Sejarah Penggunaan Domperidone pada Anak di Praktik Klinis
Domperidone bekerja dengan meningkatkan gerakan atau kontraksi lambung dan usus. Hal ini membantu meningkatkan proses pencernaan dan mengurangi gejala yang berhubungan dengan kelainan gastrointestinal. Salah satu keuntungan signifikan dari penggunaan domperidone adalah tidak menembus sawar darah-otak, yang mana mengurangi efek pada sistem saraf pusat.[2]
Pemilihan antara domperidone dengan obat lain yang sering digunakan untuk menangani mual-muntah seperti metoclopramide atau ondansetron pada anak seringkali didasarkan pada pertimbangan efek samping. Domperidone awalnya dianggap sebagai alternatif yang lebih aman bagi anak-anak karena rendahnya penetrasi obat terhadap sawar darah-otak.[3]
Meski begitu, bukti-bukti lebih baru menunjukkan adanya risiko kardiovaskular yang signifikan akibat penggunaan domperidone, yaitu pemanjangan interval QT. Pada kelompok anak, temuan tersebut menimbulkan banyak penelitian baru serta perubahan pada pedoman penggunaan domperidone di tiap negara.[3]
Efikasi Domperidone pada Anak di Bawah 12 Tahun
Selain aspek keamanan yang masih kontroversial untuk penggunaan anak di bawah 12 tahun, efikasi domperidone juga telah banyak dievaluasi. Hal ini menimbulkan adanya pergeseran paradigma terutama setelah adanya studi klinis fase 3 berskala besar yang mempertanyakan manfaat domperidone bila dibandingkan dengan plasebo.[4]
Sebuah uji klinis acak multisenter mencoba mengevaluasi efikasi domperidone pada anak dengan gastroenteritis akut. Studi ini menunjukkan bahwa domperidone yang diberikan dengan dosis 0,25 mg/kg sebanyak 3 kali sehari selama 48 jam tidak menunjukkan keunggulan yang signifikan secara statistik bila dibandingkan dengan plasebo.
Menurut uji klinis tersebut, domperidone bila dibandingkan dengan plasebo tidak berhasil menghentikan muntah atau mengurangi kebutuhan akan terapi penyelamatan. Berdasarkan hasil studi ini juga, otoritas kesehatan di Inggris menyimpulkan adanya kekurangan efikasi pada penggunaan domperidone sebagai terapi muntah akut pada anak di bawah usia 12 tahun.[6]
Keamanan Domperidone pada Anak di Bawah 12 Tahun
Penggunaan domperidone pada populasi anak menjadi perhatian dan telah dievaluasi secara global dalam beberapa tahun terakhir. Fokus penelitian belakangan ini ada pada risiko efek samping kardiovaskular yang serius dan berkaitan dengan sistem konduksi jantung. Domperidone diketahui dapat memperpanjang interval QT pada pemeriksaan elektrokardiogram (EKG).[4]
Sebuah studi tentang pemanjangan QT dilakukan menggunakan dosis terapi dan dosis supraterapi yang direkomendasikan pada orang dewasa, yaitu dosis 10 dan 20 mg diberikan 4 kali sehari. Studi ini menunjukkan bahwa perbedaan maksimal interval QTc tidak melebihi ambang batas klinis yaitu 10 msec. Rerata perubahan pada penelitian tersebut sebesar 3,4 msec (1,0 - 5,9 msec). Pemanjangan QT yang diamati pada dosis terapi yang dianjurkan dinilai tidak relevan secara klinis.[5]
Meski begitu, penggunaan pada kelompok berisiko tinggi perlu menjadi perhatian karena adanya risiko aritmia fatal seperti Torsades de Pointes hingga kematian mendadak. Badan keamanan obat di beberapa negara, termasuk Indonesia, memperingatkan penggunaan domperidone pada pasien dengan gangguan irama jantung. Kelompok risiko tinggi lain adalah pasien dengan gangguan elektrolit atau penyakit jantung kongestif.[5-7]
Keamanan Penggunaan Domperidone pada Anak Menurut Otoritas Kesehatan
Berdasarkan tinjauan manfaat dan risiko, beberapa otoritas kesehatan di berbagai negara, seperti di Inggris dan Malaysia, telah memperbarui label keamanan domperidone dengan membatasi penggunaan domperidone hanya untuk anak di atas 12 tahun dengan berat minimal 35 kg.[4,7]
Pembatasan tersebut utamanya didasarkan pada studi fase 3 multisenter yang menunjukkan bahwa pada anak di bawah 12 tahun, domperidone memiliki efikasi yang rendah. Ditambah lagi, domperidone juga tidak menunjukkan profil keamanan yang cukup kuat terhadap risikonya bila dibandingkan dengan plasebo.[6]
Di Indonesia, BPOM menyarankan tenaga kesehatan agar selektif dalam meresepkan domperidone. Penggunaan domperidone pada anak dapat dipertimbangkan untuk mengatasi mual-muntah akibat kemoterapi atau radiasi kanker. BPOM sendiri mencantumkan bahwa penggunaan pada bayi dan anak di bawah 12 tahun dengan berat badan kurang dari 35 kg masih belum diketahui efikasi dan keamanannya.[5]
Perspektif Penggunaan Domperidone pada Anak di Indonesia
Di Indonesia, pada Public Assessment Report tahun 2024, BPOM mengeluarkan pernyataan yang sejalan dengan hasil studi global yang menunjukkan bahwa efikasi domperidone pada anak masih rendah dan memerlukan pertimbangan keamanan yang ketat. Meski begitu, posisi regulasi di Indonesia masih memberikan ruang untuk penggunaan domperidone dengan durasi singkat.[5,8]
Di Indonesia, sediaan dalam bentuk drops dan sirup anak juga masih beredar dengan anjuran dosis 0,25 mg/kg diberikan 3-4 kali, terutama untuk digunakan pada gangguan pengosongan lambung. Menyikapi hal ini, sebaiknya kita sebagai klinisi mempertimbangkan manfaat dan risiko dari penggunaan domperidone pada anak dengan seksama, terutama mengingat bukti efikasi domperidone yang rendah beserta adanya risiko pemanjangan QT.[4-8]
Alternatif Antiemetik untuk Anak di Bawah 12 Tahun
Walaupun domperidone banyak digunakan di Indonesia, pada populasi anak <12 tahun atau <35 kg dapat dipertimbangkan antiemetik lain dengan menilai profil risiko-manfaat yang lebih baik.
Ondansetron merupakan terapi antiemetik lini pertama yang direkomendasikan pada berbagai pedoman klinis, termasuk pedoman Infectious Diseases Society of America (IDSA), European Society for Paediatric Gastroenterology, Hepatology and Nutrition (ESPGHAN), Canadian Paediatric Society (CPS), dan American Academy of Family Physicians (AAFP) untuk gastroenteritis akut,mual muntah pasca operasi, dan muntah terkait terapi kanker.[3,9,10-13]
Ondansetron
Ondansetron merupakan antagonis reseptor 5-HT3. Pada meta analisis yang melibatkan 3.482 anak, didapatkan bahwa ondansetron merupakan satu-satunya agen yang secara signifikan mampu menghentikan muntah (OR 0,28), mencegah rawat inap (OR 2,93), dan mengurangi kebutuhan rehidrasi intravena.[9]
Ondansetron juga memblokir reseptor serotonin pada saluran cerna dan memberikan onset aksi cepat pada sistem saraf pusat sehingga ondansetron lebih menguntungkan dalam situasi gawat darurat. Pada anak <12 tahun dan berat badan <35 kg yang mengalami kesulitan menelan akibat mual hebat, rute pemberian obat menjadi penentu keberhasilan terapi. Sediaan formulasi ondansetron memudahkan pemberian tanpa memerlukan asupan air berlebih.[9,10]
Metoclopramide Sebaiknya Tidak Digunakan Pada Anak
Alternatif obat antiemetik lain yaitu metoclopramide bekerja pada reseptor D2 yang mirip dengan domperidone. Secara garis besar, penggunaan metoclopramide pada anak <12 tahun dianggap lebih berisiko karena potensi efek samping ekstrapiramidal serius seperti distonia, akathisia, dan diskinesia tardif. Ini terjadi karena metoclopramide menembus sawar darah-otak secara signifikan.[10]
Selain itu, metoclopramide tidak memberikan keunggulan klinis yang berarti dalam mengurangi frekuensi muntah pada anak bila dibandingkan plasebo untuk menangani kasus gastroenteritis pada anak.[9,10]
Kesimpulan
Domperidone yang dahulu umum digunakan untuk terapi mual muntah pada populasi anak-anak, termasuk anak berusia di bawah 12 tahun dan berat badan <35 kg, saat ini telah mengalami pergeseran dalam hal pengawasan berdasarkan bukti ilmiah karena berkaitan dengan risiko efek samping dan rendahnya efikasi.
Dahulu, domperidone lebih disukai dibandingkan antiemetik lain untuk penggunaan pada anak karena memiliki keunggulan farmakologis berupa penetrasi sawar darah-otak yang lebih rendah. Namun, bukti lebih baru menunjukkan bahwa domperidone memiliki efikasi yang rendah dan membawa risiko kardiovaskular berupa pemanjangan interval QT yang bisa mencetuskan aritmia fatal pada kelompok risiko tinggi.
Adanya risiko pemanjangan interval QT, efikasi yang meragukan, serta praktik penggunaannya pada gejala yang bersifat dapat sembuh sendiri, menjadikan otoritas kesehatan di banyak negara mengambil kebijakan untuk membatasi penggunaan domperidone. Ondansetron merupakan antiemetik lini pertama yang direkomendasikan bagi anak berusia di bawah 12 tahun karena telah terbukti efektif dan lebih aman menurut berbagai studi.
