Aspek keamanan implan payudara yang berbahan silikon untuk augmentasi maupun rekonstruksi payudara telah lama menjadi bahan diskusi ilmiah yang menarik di antara praktisi medis, peneliti, dan pembuat regulasi. Artikel ini membahas implikasi medis penggunaan implan payudara silikon dan aspek keamanannya berdasarkan bukti klinis terbaru.[1-4]
Kemajuan dalam teknologi implan dan teknik bedah telah meningkatkan keamanan dan luaran. Namun, komplikasi seperti infeksi, kontraktur kapsul, ruptur implan, dan limfoma sel besar anaplastik yang berkaitan dengan implan payudara tetap menjadi perhatian klinis yang signifikan. Deteksi dini dan penanganan yang tepat terhadap komplikasi ini sangat penting untuk menjaga kesehatan, fungsi, dan kepuasan pasien.[1-4]
Penggunaan Gel Silikon sebagai Bahan Implan Payudara
Terdapat bermacam bahan implan payudara, tetapi bahan yang dianggap memberikan hasil cukup baik adalah silikon gel dan saline. Implan saline sendiri sebenarnya memiliki selubung yang terbuat dari elastomer silikon, sehingga perbedaan di antara kedua jenis implan ini adalah pada material pengisi selubung implan tersebut.[1]
Keunggulan implan saline adalah kemudahan untuk mendeteksi ruptur pada selubung implan, harga yang relatif lebih murah, dan lebar sayatan pada kulit yang lebih kecil. Lebar sayatan lebih kecil karena implan saline umumnya dimasukan ke bawah jaringan payudara dalam kondisi belum terisi, kemudian diisi dengan saline melalui selang yang tersambung ke lumen selubung implan. Kekurangannya adalah angka kejadian rippling dan ruptur implan yang lebih tinggi.[1-3]
Keunggulan implan payudara berbahan silikon gel adalah bentuk dan perabaan yang lebih natural (mendekati konsistensi jaringan payudara normal). Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa angka kepuasan pasien yang menggunakan implan silikon lebih tinggi daripada implan saline. Selain itu, rippling pada permukaan implan juga lebih minimal, sehingga angka kejadian ruptur implan lebih rendah.[1-3]
Berbagai studi toksikologi menunjukkan bahwa seandainya terjadi komplikasi berupa ruptur implan, maka hampir seluruh materi gel silikon tetap berada di tempat semula karena sifat kohesif gel silikon. Selain itu, penelitian toksikologi pada hewan coba juga tidak menunjukkan adanya efek toksik sistemik yang disebabkan oleh silikon baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.[2-4]
Evolusi Implan Payudara Silikon dan Dampaknya terhadap Hasil Operasi
Generasi pertama implan berbahan silikon gel digunakan pada tahun 1962. Selubung implan berupa dua buah elastomer silikon yang dijahit di tepi. Generasi kedua implan silikon berkembang pada tahun 1970-an. Selubung implan dibuat lebih tipis dengan gel pengisi yang lebih cair. Perubahan ini diharapkan memberikan perabaan lebih natural, tetapi masalah timbul karena molekul silikon ternyata dapat berdifusi melalui selubung implan yang dibuat lebih tipis.[1]
Pada tahun 1980-an, muncul generasi implan payudara ketiga. Implan generasi ketiga ini memiliki selubung elastomer yang berlapis-lapis, sehingga lebih kuat dan mencegah difusi molekul silikon. Selubung yang lebih kuat ini menurunkan angka kejadian ruptur implan secara signifikan.[1,2]
Pada tahun 1992, FDA melarang peredaran implan silikon di Amerika Serikat karena laporan kasus penyakit autoimun dan kanker yang berhubungan dengan implan silikon. Setelah larangan berakhir pada tahun 2006, muncul implan payudara generasi keempat dan kelima. Generasi tersebut menjalani proses produksi yang lebih ketat. Kekuatan selubung implan juga amat diperhatikan dengan meningkatkan cross linking dan jumlah lapisan elastomer selubung implan.[1,2]
Implan generasi terbaru juga tersedia dalam bentuk anatomis atau tear drop sehingga dapat memberikan bentuk payudara yang lebih natural. Implan dengan bentuk anatomis ini memiliki kohesivitas gel yang amat tinggi, sehingga menurunkan risiko rippling pada selubung implan, menurunkan risiko ruptur, dan memiliki kemampuan lebih baik untuk bertahan di dalam selubung implan seandainya terjadi ruptur implan.[1,3]
Hubungan Implan Payudara Silikon dan Berbagai Gangguan Kesehatan
Penyebab FDA sempat melarang implan payudara silikon di Amerika Serikat adalah laporan-laporan kasus yang menghubungkan implan silikon dengan berbagai kondisi, seperti keganasan, penyakit jaringan ikat, gangguan psikiatri, penyakit neurologis, dan dampak implan silikon terhadap keturunan.[1,2]
Setelah implan silikon diperbolehkan kembali oleh FDA, berbagai penelitian berskala besar dilakukan untuk memastikan keamanan implan silikon. Beberapa studi dengan jumlah sampel yang besar terkait topik ini telah dipublikasikan.[2,8]
Hubungan Implan Payudara dan Keganasan
Coroneos et al. melaporkan bahwa angka kejadian melanoma pada pasien dengan implan silikon lebih tinggi daripada populasi umum, demikian pula dengan diagnosis kanker secara umum. Limitasi studi ini adalah mayoritas diagnosis bersifat self-reported oleh pasien tanpa konfirmasi petugas medis. Selain itu, walaupun melibatkan hampir 100.000 pasien, data yang didapatkan dari follow-up 7 tahun sebenarnya terbatas karena hanya mencapai 34.000 pasien.[2,3,8,9]
Angka loss-to-follow-up yang cukup tinggi tersebut mungkin memengaruhi hasil yang dilaporkan. Faktor perancu lain adalah gaya hidup (misalnya kebiasaan merokok) dan demografi yang berbeda antara pengguna implan payudara dan populasi umum.[2,8,9]
Namun, terlepas dari studi tersebut, dokter perlu mengingat bahwa implan payudara dapat memengaruhi akurasi skrining kanker payudara dengan mammografi maupun pemeriksaan fisik, sehingga dapat memperlambat penegakan diagnosis kanker.[10]
Singh, et al. menganalisis data dari sekitar 55.000 pasien yang menggunakan metode konfirmasi oleh petugas medis. Mereka tidak menemukan peningkatan angka kejadian kanker pada pasien dengan implan silikon. Oleh karena itu, sebenarnya tidak ada asosiasi yang cukup kuat dan meyakinkan antara penggunaan implan silikon dengan peningkatan kejadian keganasan secara umum.[2,3,8,9]
Namun, pada Maret 2017, FDA mengeluarkan peringatan tentang hubungan antara implan bertekstur dan limfoma sel besar anaplastik (BIA-ALCL). Baru-baru ini juga telah teridentifikasi risiko kanker sel skuamosa terkait dengan implan/BIA-SCC. Keduanya dapat muncul dengan gejala pembesaran payudara tanpa disertai rasa nyeri.[5]
Breast Implant Associated Anaplastic Large Cell Lymphoma (BIA-ALCL)
Breast implant associated anaplastic large cell lymphoma (BIA-ALCL) merupakan salah satu kekhawatiran utama pada penggunaan implan. Sekitar 733 kasus telah dilaporkan di seluruh dunia kepada FDA. Laporan kasus tersebut ditemukan tidak hanya pada implan silikon, tetapi juga pada implan saline.[2,3,8,9]
Seluruh kasus tersebut dikaitkan dengan penggunaan implan dengan permukaan yang bertekstur. Perkiraan risiko seumur hidup untuk BIA-ALCL pada pasien dengan implan bertekstur berkisar antara 1:559 hingga 1:355. Akan tetapi, untuk saat ini FDA tidak merekomendasikan penggantian implan payudara dan kapsulektomi pada pasien tanpa gejala yang menggunakan implan payudara bertekstur.[6,7]
Penyakit Jaringan Ikat dan Autoimun
Penyakit-penyakit jaringan ikat dan autoimun yang dihubungkan dengan penggunaan implan antara lain rheumatoid arthritis, polimiositis, dermatomiositis, skleroderma, dan sindrom Sjogren. Coroneos et al. melaporkan bahwa angka kejadian sindrom Sjogren, skleroderma, dan rheumatoid arthritis meningkat lebih dari dua kali lipat pada wanita dengan implan payudara.[2,3,8,9]
Angka kejadian tersebut didasarkan pada laporan pasien (self-reported). Namun, hanya sekitar 22,7 % pada kasus-kasus tersebut yang dikonfirmasi oleh petugas medis dalam catatan medis pasien.[2,3,8,9]
Meta analisis yang dilakukan Balk et al. juga menunjukkan kenaikan risiko rheumatoid arthritis dan sindrom Sjogren. Akan tetapi, beberapa studi yang diinklusi dalam meta analisis tersebut tidak hanya melibatkan implan silikon dan beberapa kesimpulan studi bersifat tidak konklusif.[2,3,8,9]
Beberapa penelitian lain tidak menemukan peningkatan penyakit jaringan ikat maupun autoimun yang signifikan pada pasien implan payudara. Oleh sebab itu, asosiasi antara implan silikon dan penyakit jaringan ikat belum dapat disimpulkan secara pasti.[2,3,8,9]
Breast Implant Illness (BII)
Saat ini BII sedang menjadi perbincangan. Kondisi ini ditandai dengan sekumpulan gejala tidak spesifik yang sulit dicari kausalitasnya. Gejala-gejala ini sangat beragam, meliputi kelelahan kronis, brain fog, nyeri otot, nyeri sendi, rambut rontok, kecemasan, jantung berdebar, dan sering buang air kecil.[7]
Terlepas dari penyebab utamanya, gejala-gejala ini dapat mengganggu kualitas hidup pasien, sehingga banyak pasien akhirnya meminta untuk dilakukan eksplantasi implan. Saat ini, FDA mengakui BII sebagai risiko potensial dari operasi implan payudara.[7]
Gangguan Psikiatri
Berbagai meta analisis dan studi dengan jumlah sampel yang besar tidak menemukan peningkatan angka kejadian bunuh diri pada kelompok implan silikon dibandingkan populasi umum. Namun, terdapat studi yang menyatakan bahwa angka self-reported penggunaan obat-obatan seperti antidepresan dan anxiolytic lebih tinggi pada wanita dengan implan payudara.[2,3,8,9]
Hasil laporan ini tidak menjelaskan secara ilmiah bagaimana implan payudara dapat memengaruhi kondisi psikopatologis. Kemungkinan faktor perancu lain dalam masalah psikologis adalah status sosioekonomi, tingkat kepercayaan diri, dan tekanan psikologis pada pasien-pasien yang menjalani prosedur dengan implan payudara.[2,3,8,9]
Sebuah penelitian lainnya menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani prosedur implan payudara memiliki prevalensi rawat inap akibat gangguan psikiatri yang lebih tinggi sebelum menjalani prosedur tersebut, bila dibandingkan dengan perempuan yang menjalani tindakan reduksi payudara atau tindakan estetik lainnya.[2,3,8,9]
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani prosedur pemasangan implan payudara mungkin mengalami paparan risiko gangguan psikiatri yang lebih tinggi bahkan sebelum tindakan augmentasi payudara dilakukan.[2,3,8,9]
Faktor psikologis pasien sendiri juga berperan dalam perkembangan keluhan pasca implan payudara. Pasien yang melakukan implan payudara biasanya memiliki tingkat neurotisme yang tinggi. Hal ini berkorelasi negatif secara signifikan dengan kesehatan subjektif dan hasil yang dilaporkan pasien. Neurotisme mungkin menjadi faktor dalam perkembangan penyakit yang terkait dengan implan payudara.[11]
Studi juga menunjukkan bahwa pasien yang melaporkan gejala BII sering kali memiliki gangguan kecemasan dan depresi yang sudah ada sebelumnya dan telah diobati secara medis sebelum implan payudara. Riwayat ini dapat menjadi prediktor untuk kemunculan gejala BII pascaoperasi implan. Pasien dengan keluhan ini umumnya memiliki luaran yang cukup baik dengan pemberian terapi konseling.[12,13]
Gangguan Neurologis
Tidak ditemukan peningkatan risiko gangguan neurologis seperti multiple sclerosis dan gangguan neurologis lainnya pada pasien dengan implan payudara silikon.[3,8,9]
Efek Terhadap Kehamilan Dan Keturunan.
Coroneos et al. melaporkan hasil yang tidak konsisten mengenai efek implan silikon terhadap kehamilan. Data yang ditampilkan menunjukkan peningkatan angka stillbirth, kelahiran preterm, dan perawatan di NICU setelah kelahiran. Namun, tidak ditemukan peningkatan angka abortus dan bayi dengan berat lahir rendah.[2]
Data yang saling bertentangan ini kemungkinan disebabkan adanya faktor perancu lain. Wanita yang menginginkan augmentasi payudara dengan implan memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk merokok dan menghentikan kehamilan, serta memiliki angka kelahiran hidup yang lebih rendah pada kondisi baseline sebelum menjalani prosedur.[2]
Meskipun ada beberapa studi terdahulu yang menunjukkan kemungkinan gangguan kesehatan pada bayi dengan ibu yang menggunakan implan, studi-studi yang lebih baru tidak menemukan masalah tersebut, baik saat ibu hamil maupun menyusui.[9,14,15]
Rekomendasi Terkait Penggunaan Implan Payudara
Hingga saat ini belum ada bukti ilmiah konkret dengan sampel studi besar yang dapat membuktikan silicon implant illness. Oleh karena itu, penggunaan implan silikon masih dianggap aman dan diperbolehkan oleh badan regulasi di Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara lainnya. Berbagai studi mengenai aspek keamanan implan payudara terus dilakukan di seluruh dunia untuk menjamin keamanan produk tersebut.[9]
Pada akhirnya, keputusan untuk menggunakan implan payudara merupakan keputusan pasien. Namun, sebagai dokter, kita harus menempatkan keamanan pasien sebagai prioritas utama. Hal ini dapat dicapai dengan mengevaluasi produk medis yang akan digunakan untuk pasien kita secara kritis. Pasien juga perlu mendapatkan edukasi yang lengkap mengenai risiko komplikasi serta profil implan yang akan digunakan.[9]
Edukasi tentang Implan Payudara
Prognosis untuk pasien dengan implan payudara umumnya sangat baik, dengan tingkat kepuasan yang tinggi, hasil estetika yang memuaskan, dan dapat bertahan lama. Tentu saja, hal ini harus disertai dengan teknik bedah yang tepat dan pemilihan implan serta perawatan pascaoperasi yang baik. Pada sebagian besar kasus, implan pasien dapat bertahan hingga 10–20 tahun sebelum diperlukan revisi atau penggantian.[5]
Saat ini implan yang diakui aman digunakan adalah implan berbahan dasar saline dan silikon. Pasien yang menerima implan payudara harus mendapat edukasi mengenai pemantauan rutin setiap tahun untuk mengurangi risiko komplikasi. Studi menunjukkan bahwa kedua jenis implan umumnya bertahan hingga 6-8 tahun sebelum terjadi komplikasi seperti ruptur. Risiko ruptur terus meningkat setelah tahun keenam.[6,7]
Ruptur pada implan saline dapat diketahui secara mudah melalui pemeriksaan fisik, tetapi ruptur pada implan silikon membutuhkan pemeriksaan penunjang seperti MRI, mammografi, ultrasonografi, dan CT, karena implan silikon bisa tetap mempertahankan bentuk awalnya meskipun ruptur.[6,7]
Agar komplikasi seperti kontraktur kapsul dan ruptur implan lebih cepat terdeteksi, FDA menganjurkan pasien dengan implan payudara silikon untuk menjalani MRI payudara 5 tahun setelah pemasangan implan dan secara rutin setiap 2-3 tahun setelahnya.[7]
Kesimpulan
Implan payudara silikon merupakan alat medis yang aman untuk prosedur augmentasi dan rekonstruksi payudara. Implan silikon yang ada saat ini telah melalui berbagai tahap penyempurnaan seiring dengan perkembangan teknologi medis untuk menjamin aspek keamanan. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan. Asosiasi kesehatan seperti FDA telah memberikan panduan untuk pemantauan pasien dengan implan payudara untuk mendeteksi secara dini kemungkinan komplikasi setelah implan.
Penulisan pertama oleh: dr. Johannes Albert B. SpBP-RE
