Dialisis Inkremental dan Preservasi Fungsi Ginjal Residual – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr.Eduward Thendiono, SpPD,Finasim,IDF-Fellow

Stepwise Incremental Hemodialysis and Low-Protein Diet Supplemented with Keto-Analogues Preserve Residual Kidney Function: A Randomized Controlled Trial

Kittiskulnam P, Tiranathanagul K, Susantitaphong P, et al. Nutrients. 2025; 17(15):2422. doi: 10.3390/nu17152422.

studilayak

Abstrak

Latar Belakang: Penurunan cepat dari fungsi ginjal residual (residual kidney function/RKF) berkaitan dengan luaran klinis yang tidak menguntungkan. Penelitian ini merupakan uji klinis acak terkontrol (RCT) untuk membandingkan efek pelestarian atau mempertahankan RKF pada hemodialisis bertahap (HD inkremental) antara HD sekali seminggu (1-WHD) dan HD dua kali seminggu (2-WHD).

Metode: Pasien penyakit ginjal tahap akhir (ESKD) dengan eGFR 5–10 mL/menit/1,73 m² dan volume urin ≥800 mL/hari dialokasikan secara acak untuk menerima HD sekali seminggu atau HD dua kali seminggu selama 12 bulan.

Pasien di grup 1-WHD diberikan HD sekali seminggu dikombinasikan dengan diet rendah protein (0,6 g/kg/hari), dilengkapi suplemen keto-analog (KA) 0,12 g/kg/hari. Pada grup 2-WHD, pasien menerima HD dua kali seminggu dengan diet protein reguler. Luaran utama adalah perubahan RKF berdasarkan klirens ginjal dan volume urin. Status nutrisi, parameter otot, dan kualitas hidup (QoL) turut dievaluasi.

Hasil: Sebanyak 30 pasien HD baru menjalani randomisasi. RKF dasar, volume urin, dan demografi tidak berbeda signifikan antar kedua grup. Setelah 3 bulan, volume urin secara signifikan ditemukan lebih tinggi pada grup 1-WHD dibandingkan grup 2-WHD (1921 ± 767 mL/hari vs. 1305 ± 599 mL/hari; p = 0,02), temuan signifikan tersebut konsisten bertahan sepanjang periode studi.

Untuk RKF, grup 1-WHD menunjukkan penurunan urea urin (CUrea) dan klirens kreatinin (CCr) yang lebih kecil jika dibandingkan dengan grup 2-WHD, dengan perbedaan signifikan secara statistik yang diamati mulai dari bulan ke-6 hingga ke-12. Pada bulan ke-6, grup 1-WHD menunjukkan CUrea dan CCr yang secara signifikan lebih baik jika dibandingkan dengan grup 2-WHD, dengan masing-masing CUrea sebesar 3,2 ± 2,3 vs. 1,7 ± 1,0 mL/menit (p = 0,03) dan CCr sebesar 5,9 ± 3,6 vs. 3,8 ± 1,4 mL/menit (p = 0,04).

Kadar albumin serum, massa otot rangka, status anemia, parameter metabolik, toksin uremik yang terikat protein, dan skor kualitas hidup (QoL) sebanding antara kedua grup.

Kesimpulan: HD inkremental, dimulai dengan HD sekali seminggu yang dikombinasikan dengan pembatasan protein dan suplemen KA, tampak lebih baik dalam melestarikan RKF pada pasien HD baru jika dibandingkan dengan HD dua kali seminggu dengan diet protein reguler. Regimen HD ini juga berkaitan dengan profil metabolik dan nutrisi yang aman.

Dialisis Inkremental dan Preservasi Fungsi Ginjal Residual

Ulasan Alomedika

Melestarikan atau mempertahankan RKF amat penting pada penatalaksanaan pasien ESKD. Hal tersebut disebabkan oleh kontribusi RKF pada kontrol volume yang lebih baik, peningkatan pembersihan molekul dan toksin uremik yang terikat protein, serta peningkatan kelangsungan hidup pasien gagal ginjal kronis.

Sejumlah studi observasional telah menunjukkan manfaat pelestarian RKF dari strategi hemodialisis inkremental (bertahap) dan diet rendah protein. Namun, uji coba acak yang mengevaluasi strategi ini, terutama dalam regimen kombinasi, masih kurang.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini menerapkan uji klinis acak terkontrol yang bersifat prospektif dan label terbuka selama 12 bulan. Studi ini dilakukan di satu pusat kesehatan di Thailand untuk membandingkan efektivitas antara metode dialisis inkremental dengan dialisis standar.

Para peneliti membagi partisipan menjadi dua kelompok utama, yaitu kelompok intervensi yang menjalani hemodialisis inkremental (IHD) yang dikombinasikan dengan diet rendah protein dan dilengkapi keto-analog (KA), lalu dibandingkan dengan kelompok kontrol yang menjalani hemodialisis konvensional (CHD) dengan diet protein standar.

Metode IHD pada kelompok intervensi dilakukan secara sistematis, di mana frekuensi dialisis hanya ditingkatkan jika terdapat indikasi medis tertentu atau penurunan fungsi ginjal residual yang signifikan. Parameter utama yang diukur dalam studi ini adalah sisa atau residu laju filtrasi glomerulus (Residual Kidney Function/RKF) yang dipantau melalui klirens urea dan kreatinin selama 24 jam secara berkala setiap tiga bulan.

Selain itu, peneliti juga melakukan penilaian status gizi secara komprehensif, termasuk pengukuran komposisi tubuh menggunakan bioelectrical impedance analysis (BIA) dan pemantauan asupan makanan. Lebih lanjut, untuk menjaga validitas hasil, penelitian ini menerapkan kriteria inklusi yang ketat, menyasar pasien gagal ginjal kronis yang baru memulai dialisis dengan volume urin yang masih adekuat.

Ulasan Hasil Penelitian

Penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan hemodialisis inkremental (bertahap) yang dikombinasikan dengan diet rendah protein dan suplemen keto-analog (KA) secara signifikan lebih efektif dalam melestarikan atau mempertahankan fungsi ginjal residual (RKF) dibandingkan dengan prosedur dialisis konvensional dengan diet protein standar.

Temuan utama menunjukkan bahwa pasien dalam kelompok dialisis sekali seminggu (1-WHD) mampu mempertahankan volume urin yang jauh lebih tinggi daripada kelompok dialisis dua kali seminggu (2-WHD). Perbedaan ini mulai terlihat jelas sejak bulan ketiga dan konsisten bertahan hingga akhir penelitian pada bulan ke-12.

Dari sisi biokimia, fungsi bersihan ginjal yang diukur melalui klirens urea dan kreatinin menunjukkan penurunan yang jauh lebih kecil pada kelompok hemodialisis inkremental. Pada bulan ke-12, kelompok yang menjalani dialisis sekali seminggu menunjukkan tingkat fungsi ginjal residual yang lebih baik dibandingkan kelompok kontrol.

Hal ini membuktikan hipotesis bahwa frekuensi dialisis yang lebih sedikit pada awal terapi ESKD, jika didukung dengan manajemen nutrisi yang ketat, dapat memberikan waktu istirahat bagi ginjal untuk tetap bekerja lebih lama.

Aspek Keamanan:

Selain menilai efikasi, studi ini juga mengevaluasi aspek keamanan dari regimen diet rendah protein yang disertai suplemen KA. Meski frekuensi dialisis dan asupan protein lebih rendah dari protokol standar hemodialisis konvensional, pasien ESKD tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi atau penurunan massa otot yang signifikan selama proses studi.

Parameter kualitas hidup, kadar albumin serum, dan kontrol toksin uremik tetap stabil dan sebanding dengan kelompok dialisis konvensional yang mendapat diet protein standar.

Kelebihan Penelitian

Desain penelitian RCT studi ini merupakan poin utama dalam mereduksi bias analisis penelitian. Evaluasi pendekatan komprehensif (sinergi antara frekuensi dialisis dan manajemen nutrisi) turut menyumbang kelebihan pada studi ini. Hal tersebut bukan saja relevan secara klinis untuk upaya pelestarian RKF tapi turut berperan dalam penilaian analisis dampak beban biaya dialisis bagi stakeholder terkait.

Luaran primer yang digunakan bersifat objektif dan bermakna klinis, termasuk klirens urea dan kreatinin urin 24 jam serta volume urin, yang diukur secara longitudinal hingga 12 bulan. Penelitian ini juga menilai dampak keamanan dari strategi manajemen nutrisi yang dilibatkan.

Limitasi Penelitian

Ada sejumlah hal yang membatasi hasil penelitian ini. Pertama, ukuran sampel kecil akibat penghentian rekrutmen dini setelah analisis interim, sehingga kekuatan statistik dan generalisasi temuan menjadi terbatas serta berpotensi meningkatkan risiko type I error meskipun telah dilakukan koreksi Bonferroni.

Kedua, durasi penelitian yang singkat dan belum mampu mengevaluasi dampak jangka panjang. Ketiga, penelitian ini hanya dilakukan di satu pusat kesehatan di Asia Tenggara sehingga membatasi generalisasi hasil pada populasi di negara lain.

Lebih lanjut, meski menerapkan strategi acak terkontrol, studi ini menggunakan open label yang dapat menyumbang bias subjektif penilaian. Selain itu, ada risiko ketidakpatuhan diet pada manajeman nutrisi maupun pemberian suplemen ketoanalog karena hanya dinilai melalui catatan mandiri.

Terakhir, kriteria inklusi pada penelitian ini bisa dianggap sangat selektif, yakni hanya melibatkan pasien ESKD dengan volume urin baseline yang cukup besar (>800mL/hari) dengan kondisi klinis stabil. Oleh karenanya, strategi intervensi studi ini tidak dapat digeneralisir untuk semua pasien ESKD.

Aplikasi Hasil Penelitian Di Indonesia

Hasil penelitian ini mendukung bahwa pendekatan hemodialisis inkremental sekali seminggu yang disertai diet rendah protein dan suplementasi keto-analog dapat digunakan sebagai strategi awal untuk mempertahankan fungsi ginjal residual tanpa mengorbankan status nutrisi atau keamanan metabolik, asalkan dilakukan dengan seleksi pasien ketat, pemantauan laboratorium dan urin berkala, pendampingan nutrisi, serta kriteria eskalasi dialisis yang jelas.

Dalam praktik, temuan ini dapat diaplikasikan sebagai alternatif individualisasi terapi pada fase awal hemodialisis (bukan sebagai standar universal), terutama di pusat dialisis dengan sumber daya multidisiplin yang memadai dan kemampuan monitoring yang baik.

Referensi