Alo dokter,saya ingin menanyakan mengenai fimosis pada bayi. Apakah kondisi fimosis bayi ,selama tidak menimbulkan tanda infeksi,belum perlu dilakukan...
Fimosis pada bayi - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Fimosis pada bayi
Alo dokter,saya ingin menanyakan mengenai fimosis pada bayi. Apakah kondisi fimosis bayi ,selama tidak menimbulkan tanda infeksi,belum perlu dilakukan sirkumsisi? Apakah ditunggukan sampai umur 2 tqhun dulu untuk melihat perkembangannya? Terima kasih
ALO Dokter!
Sebagian besar kasus fimosis pada bayi bersifat fisiologis dan bukan patologis. Berikut adalah ringkasan bukti klinis antara sirkumsisi dibandingkan manajemen konservatif.
1. Fimosis Fisiologis vs. Patologis
Pembedaan yang paling krusial bagi dokter maupun orang tua adalah jenis fimosis yang dialami:
- Fimosis Fisiologis: Saat lahir, bagian dalam preputium secara alami "menempel" pada glans. Kondisi ini ditemukan pada sekitar 96% bayi baru lahir. Ini bukan penyakit, melainkan mekanisme perlindungan.
- Fimosis Patologis: Disebabkan oleh jaringan parut, infeksi, atau inflamasi (seperti Balanitis Xerotica Obliterans). Ujung preputium tampak putih, menebal, dan fibrotik. Kondisi ini sangat jarang terjadi pada bayi dan balita.
2. Bukti untuk Manajemen Konservatif
Konsensus medis saat ini (AAP, BMA, dan European Association of Urology) sangat mendukung manajemen konservatif pada bayi karena fimosis fisiologis biasanya akan sembuh dengan sendirinya.
- Resolusi Spontan: Penelitian menunjukkan bahwa pada usia 3 tahun, hanya sekitar 10% anak laki-laki yang preputiumnya masih tidak dapat ditarik. Pada usia 16 tahun, angka ini turun menjadi sekitar 1%.
- Steroid Topikal: Untuk kasus yang persisten atau bergejala, krim kortikosteroid topikal (misalnya betametason 0,05% atau 0,1%) yang dioleskan selama 4–8 minggu memiliki tingkat keberhasilan 67% hingga 95%. Steroid ini melembutkan kulit dan memungkinkan retraksi dilakukan secara lembut dan bertahap.
- Higiene & Kesabaran: Sebagian besar ahli merekomendasikan "watchful waiting" (observasi) hingga setelah masa toilet training (usia 3–5 tahun) sebelum mempertimbangkan intervensi apa pun, selama anak dapat buang air kecil tanpa nyeri atau tanpa infeksi berulang.
3. Bukti untuk Sirkumsisi
Meskipun pengobatan konservatif adalah lini pertama, sirkumsisi didukung oleh bukti kuat pada skenario patologis atau "risiko tinggi" tertentu:
- Infeksi Berulang: Jika bayi menderita Infeksi Saluran Kemih (ISK) berulang atau balanopostitis (infeksi pada glans dan preputium) yang berat dan sering, sirkumsisi secara signifikan mengurangi beban bakteri dan mencegah episode mendatang.
- Jaringan Parut Patologis: Jika preputium telah menjadi jaringan parut (fibrotik), kemungkinan besar tidak akan merespons steroid, sehingga pembedahan menjadi solusi definitif.
- Kegagalan Terapi Medis: Jika steroid topikal dan peregangan manual gagal dalam jangka waktu lama dan kondisi tersebut menyebabkan gejala (seperti preputium yang menggelembung/ballooning saat buang air kecil yang menimbulkan ketidaknyamanan), pembedahan adalah opsi sekunder yang terbukti efektif.
Sebagian besar kasus fimosis pada bayi dapat diobservasi hingga anak berusia 3–5 tahun. Sirkumsisi hanya direkomendasikan secara medis pada kasus infeksi berat yang berulang atau adanya jaringan parut fibrotik yang tidak membaik dengan pemberian krim steroid jangka pendek.
Penjelasan di atas berkaitan dengan indikasi medis untuk sirkumsisi, bukan mengenai sirkumsisi karena alasan budaya atau agama.
Selengkapnya: https://publications.aap.org/pediatriccare/article-abstract/doi/10.1542/aap.ppcqr.396213/100/Phimosis?redirectedFrom=fulltext
Semoga membantu, Dok!