Dewasa ini, gerakan hidup sehat semakin digalakkan, salah satunya dengan menjaga pola makan. Namun, diet sehat yang berlebihan justru dapat menjadi penyakit gangguan makan, yang dikenal sebagai orthorexia nervosa. Dokter perlu mengenali penyakit ini sehingga dapat mendiagnosis dan memberikan penanganan awal, serta merujuk kepada spesialis jika perlu.[1,2]
Gangguan makan atau eating disorders yang sudah umum dikenali adalah anorexia nervosa dan bulimia nervosa. Namun, terdapat juga gangguan makan yang belum banyak dikenal, yaitu orthorexia nervosa (ON). Pasien dengan orthorexia nervosa terobsesi dengan cara makan dan makanan sehat, dengan fokus terhadap kualitas dibandingkan dengan kuantitas.
Sebagai gangguan makan, orthorexia memiliki beberapa kesamaan dengan anorexia nervosa dan bulimia nervosa, juga dengan obsessive compulsive disorder (OCD). Beberapa ahli memperdebatkan apakah orthorexia nervosa lebih cocok diklasifikasikan sebagai gangguan makan atau sebagai OCD.[1-3]
Mengenali Orthorexia Nervosa
Orthorexia nervosa dideskripsikan sebagai fiksasi atau obsesi yang berlebihan terhadap cara makan sehat. Meski banyak ahli menganggap kondisi ini sebagai bagian dari gangguan neuropsikiatri, orthorexia nervosa belum masuk dalam Diagnostic and Statistical Manual-V (DSM-V).
Pada orthorexia nervosa, pasien terobsesi dengan kualitas makanan, bukan kuantitas, dan memancarkan obsesi ini lewat diet restriktif yang ketat, persiapan makanan yang spesifik, dan cara makan dengan ritual-ritual tertentu. Fokus pasien adalah untuk meningkatkan kesehatan mereka, bukan untuk kepercayaan agama atau keinginan untuk melindungi lingkungan dan binatang.
Pada orthorexia nervosa, penderita menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan makanan, mencari informasi, menimbang atau mengukur, dan merencanakan makanan sehat berikutnya. Hal ini mengganggu fungsi sehari-hari, termasuk pekerjaan mereka.[3-5]
Kriteria Diagnostik Orthorexia Nervosa
Moroze, et al. mengusulkan kriteria diagnostik untuk orthorexia nervosa. Terdapat beberapa penulis lain yang juga mengusulkan kriteria diagnostik, tetapi sampai sekarang belum ada satu kriteria yang diterima secara universal. Kriteria yang diusulkan oleh Moroze, et al. dijabarkan di bawah ini.[6,7]
Kriteria A
Obsesi dan preokupasi dengan ‘makan sehat’, fokus terhadap kualitas dan komposisi makanan: (Dua atau lebih dari poin-poin berikut)
- Mengonsumsi diet dengan nutrisi yang tidak seimbang karena kepercayaan tentang ‘kemurnian’ makanan
- Preokupasi dan kecemasan tentang makanan yang tidak murni atau tidak sehat, dan dengan pengaruh kualitas serta komposisi terhadap kesehatan jasmani dan/atau emosi
- Menghindari total makanan-makanan yang dipercayai oleh pasien yang dianggap ‘tidak sehat’; contohnya makanan dengan lemak, preservatif, pengawet, produk hewan, atau bahan lain yang dianggap pasien tidak sehat
- Untuk individu yang bukan pekerja makanan profesional, menggunakan banyak waktu (contohnya lebih dari 3 jam/hari) untuk membaca, memikirkan dan/atau menyiapkan makanan jenis tertentu berdasarkan kualitas dan komposisi
- Perasaan bersalah dan kekhawatiran setelah ‘kesalahan’ yang dilakukan melalui mengonsumsi makanan yang tidak sehat atau ‘tidak murni’
- Tidak toleran terhadap kepercayaan makanan orang lain
- Menggunakan jumlah uang yang sangat banyak/berlebih dibandingkan dengan pendapatan seseorang untuk makanan yang berkualitas atau komposisi tertentu
Kriteria B
Obsesi dan preokupasi mengganggu kehidupan sehari-hari oleh salah satu hal berikut:
- Gangguan kesehatan fisik akibat asupan nutrisi yang tidak seimbang, contohnya mengalami malnutrisi karena diet yang tidak seimbang
- Gangguan terhadap fungsi sosial, akademik, atau vokasional akibat pemikiran dan perilaku yang obsesif terhadap kepercayaan pasien mengenai cara makan ‘sehat’
Kriteria C
Gangguan bukan sebuah eksaserbasi dari gejala gangguan lainnya seperti obsessive compulsive disorder, skizofrenia, atau penyakit psikotik lainnya
Kriteria D
Perilaku pasien tidak dapat dihubungkan dengan pilihan makanan untuk kepercayaan religius ortodoks atau bila kekhawatiran disebabkan oleh alergi makanan yang spesifik, atau kondisi medis yang memerlukan diet tertentu.[6,7]
Alat Bantu Diagnostik untuk Orthorexia Nervosa
Alat diagnosis yang dikenal sebagai ORTO-15 sudah dikembangkan. ORTO-15 merupakan kuesioner yang mengandung 15 pertanyaan mengenai aspek dan ciri orthorexia nervosa, dengan penilaian menggunakan skala Likert. Pertanyaan-pertanyaan mencakup kepercayaan mengenai pengaruh makan sehat, pola mengonsumsi makanan, cara memilih makanan, dan seberapa signifikan kekhawatiran mengenai makanan memengaruhi hidup sehari-hari.[5,7]
Keterbatasan terbesar dari alat diagnosis ini adalah hasil yang tidak konsisten. Dari beberapa penelitian, koefisien alfa Cronbach yang didapat memiliki jangkauan antara 0.14 yang sangat rendah hingga 0.70 yang sangat baik.
Keterbatasan lain juga adalah peneliti cenderung menghilangkan beberapa pertanyaan di kuesioner untuk meningkatkan validitas, sehingga terdapat ORTO-9, juga ORTO-11. Namun penelitian oleh Moller, et al. menunjukkan bahwa dari semua jenis alat penilaian, belum ada yang cukup memadai.[7]
Kesamaan Orthorexia Nervosa dengan Bulimia Nervosa, Anorexia Nervosa, dan Gangguan Obsesif-Kompulsif
Orthorexia nervosa memiliki beberapa kesamaan dengan bulimia nervosa, anorexia nervosa dan gangguan obsesif-kompulsif (obsessive-compulsive disorder/OCD). Orthorexia nervosa dan anoreksia memiliki karakteristik perfeksionis, kecemasan tinggi, dan keinginan untuk memiliki kontrol dan potensi untuk penurunan berat badan yang signifikan.
Pasien dengan orthorexia dan anorexia memiliki tujuan, dengan disiplin yang ketat sebagai cara mencapainya, dan kegagalan diet adalah kegagalan mengontrol diri sendiri. Kedua pasien ini tidak mengakui bahwa mereka memiliki sebuah masalah/gangguan terhadap kehidupan sehari-hari.
Pasien orthorexia dan OCD memiliki beberapa kesamaan yaitu pemikiran yang terus-menerus, mengganggu, di saat-saat yang tidak sesuai, dengan kecemasan terhadap ‘kemurnian’ dan keinginan untuk mengatur dan memiliki cara makan dengan ritual tertentu. Di sisi lain, orthorexia tidak memiliki banyak kesamaan dengan bulimia, hanya keinginan besar untuk dapat memiliki kendali/kontrol dan preokupasi dengan makanan.[4,5,8]
Sumber: dr. Graciella NT Wahjoepramono, 2018.[5]Penanganan Orthorexia Nervosa
Belum ada konsensus spesifik mengenai pendekatan tata laksana untuk orthorexia nervosa. Saat ini, beberapa saran untuk terapi adalah untuk melibatkan tim multidisiplin, termasuk dokter, psikoterapis, dan ahli gizi. Tim multidisiplin dapat mengontrol aspek obat-obatan, terapi kognitif-perilaku, dan psikoedukasi yang dapat diterapkan secara rawat jalan tapi dengan pemantauan yang ketat.
Obat yang dapat digunakan adalah obat yang juga bermanfaat untuk anorexia dan OCD, yaitu selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI). Olanzapine juga dapat digunakan untuk mengurangi pemikiran obsesif mengenai makanan. Namun, pasien-pasien dapat menolak penggunaan obat-obatan karena pemikiran tentang ‘kemurnian diet’ yang terganggu oleh pemberian obat yang ‘tidak natural’.
Pasien juga disarankan untuk mengikuti sesi-sesi edukasi tentang makanan yang singkat tetapi intensif. Sesi sebaiknya mencakup penjelasan mengenai diagnosis, perjalanan penyakit, faktor risiko, komorbid, tata laksana, dan sedikit tentang psikoterapi. Hal penting yang perlu diingat oleh tenaga kesehatan adalah untuk hati-hati saat membicarakan makanan atau regimen makanan ke pasien untuk menghindari tercetusnya kembali gejala.[1-5]
Lebih lanjut, dengan paparan media sosial yang semakin besar, informasi mengenai kesehatan bisa didapat dari berbagai sumber yang belum tentu benar. Hal ini bisa membuat salah kaprah tentang apa yang dimaksud ‘diet sehat’. Oleh sebab itu, edukasi juga perlu disampaikan kepada komunitas, termasuk mengenai tanda dan gejala orthorexia nervosa agar dapat mencegah perkembangan penyakit sejak awal.[4,5]
Kesimpulan
Orthorexia nervosa adalah suatu gangguan makan berupa obsesi ekstrem terhadap pola makan sehat atau makanan yang dianggap ‘murni’. Orthorexia nervosa saat ini belum termasuk dalam Diagnostic and Statistical Manual dan masih diperdebatkan penggolongannya.
Dalam hal tata laksana, intervensi dilakukan jika gejala orthorexia nervosa menyebabkan gangguan kesehatan dan fungsi sehari-hari, seperti menyebabkan malnutrisi akibat restriksi diet berlebihan, menyebabkan depresi atau gangguan pekerjaan, serta jika pasien memiliki keinginan menghentikan restriksi diet yang berlebih tetapi tidak mampu.
Saat ini belum ada konsensus mengenai pendekatan tata laksana terbaik untuk orthorexia nervosa. Meski demikian, beberapa ahli menyarankan pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, psikoterapis, dan ahli gizi. Intervensi bisa mencakup pemberian terapi kognitif-perilaku, psikoedukasi, hingga penggunaan obat-obatan seperti selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI) dan olanzapine.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
