Terapi kanker agresif, terutama pada stadium lanjut, dapat memperpanjang harapan hidup tetapi juga sering kali mengganggu kualitas hidup pasien. Pada beberapa kasus, pasien bersedia menanggung efek samping pengobatan agresif demi meningkatkan harapan hidup atau memperpanjang usia, tetapi ada pula yang lebih menginginkan kualitas hidup yang baik dan enggan menghabiskan sisa hidup dalam kondisi yang kurang baik.[1,2]
Manfaat dan Risiko Terapi Kanker Agresif
Terapi kanker agresif adalah terapi antikanker dengan target membunuh sel kanker pada kanker stadium lanjut. Modalitas terapi kanker agresif mencakup kemoterapi, radioterapi, terapi target, atau kombinasinya. Ada banyak faktor yang menjadi pertimbangan pengambilan keputusan dalam pendekatan terapi antikanker, termasuk apakah akan dilakukan terapi agresif atau beralih ke perawatan paliatif.[1,2]
Kemoterapi
Mekanisme kerja kemoterapi yaitu menyerang siklus hidup sel dengan beberapa cara, yakni menghambat sintesis DNA sel kanker, mengganggu proses replikasi sel kanker, atau menghambat topoisomerase sehingga sel kanker mengalami apoptosis. Namun, mekanisme ini tidak spesifik bekerja pada sel kanker saja. Sel normal yang mengalami replikasi juga dapat turut mengalami disfungsi dan apoptosis.
Akibatnya, kemoterapi merupakan modalitas yang paling banyak menimbulkan risiko pada pasien. Risiko efek samping tidak hanya bersifat lokal, tapi juga sistemik seperti rambut rontok, sitopenia, kolitis, neuropati dan infertilitas. Risiko tersebut tidak dapat dipungkiri akan menurunkan kualitas hidup pasien kanker.[3]
Radioterapi
Radioterapi dilakukan dengan menggunakan radiasi sinar ᵞ atau partikel untuk membunuh sel kanker. Toksisitas radioterapi lebih rendah dibandingkan kemoterapi, tetapi radioterapi jarang diberikan sebagai monoterapi. Radioterapi lebih sering diberikan sebagai terapi kombinasi bersama kemoterapi, target terapi, dan pembedahan untuk mendapatkan luaran yang optimal.[4]
Imunoterapi dan Terapi Target
Imunoterapi dan terapi target merupakan modalitas terapi antikanker yang lebih baru dibandingkan kemoterapi. Imunoterapi tidak menyerang sel kanker secara langsung, melainkan menghambat checkpoint sel kanker seperti PD-1 atau PD-L1, sehingga sel T aktif dan dapat membunuh sel kanker. Modalitas ini memiliki toksisitas lebih rendah dibandingkan kemoterapi dan radioterapi, tetapi dapat menimbulkan kondisi autoimun dan mutasi.
Terapi target bersifat spesifik karena hanya menyerang sel kanker tanpa mengenai sel normal sehingga diharapkan angka remisi tinggi dengan toksisitas sekecil mungkin. Beberapa jenis terapi target saat ini sudah dipraktikan pada pasien kanker stadium lanjut. Contohnya pada kanker payudara dengan sel target HER2, serta ada terapi yang digunakan pada leukemia.
Selain itu, saat ini juga dikembangkan terapi target yang lebih akurat lagi dengan tujuan meningkatkan angka remisi sehingga diharapkan memperpanjang harapan hidup pasien, yaitu CRISPR (Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats). CRISPR adalah teknologi biomolekuler yang dapat memotong dan memodifikasi gen penyebab sel kanker.
Dengan bantuan enzim cas9, CRISPR akan menuju target DNA sel kanker yang akan dipotong, kemudian dilakukan pengeditan gen yang bersifat permanen sehingga DNA akan rusak dan apoptosis. Meski begitu, modalitas terapi ini masih kontroversial karena bersinggungan dengan risiko klinis pasien dan etika kedokteran. Gen yang sudah diedit dan dimodifikasi dapat menjadi mutasi baru atau jenis kanker baru.[3,5,6]
Pemilihan Pendekatan Terapi Kanker Agresif vs Terapi Paliatif
Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memilih pendekatan terapi terbaik pada kanker stadium lanjut adalah sifat kanker, jenis kanker, dan ditemukannya mutasi atau sel target pada sel kanker.
- Jika sifat kanker masif dan luas serta tidak ditemukan mutasi atau sel target serta jenis tumor yang tidak mengekspresikan PD1 atau PD-L1, maka kemoterapi dengan atau tanpa radioterapi menjadi pilihan.
- Jika ditemukan resistensi pada obat kemoterapi atau terdapat komorbid, usia tua, dan ditemukan mutasi atau sel target, maka terapi target menjadi pilihan.
Selain sifat, jenis kanker, kondisi klinis keseluruhan dari pasien, serta kondisi ekonomi juga menjadi pertimbangan. Pada kebanyakan kasus, penggunaan kemoterapi lebih terjangkau dibandingkan terapi target atau imunoterapi.
Di lain pihak, penggunaan CRISPR sendiri masih menuai banyak kontroversi. Modifikasi gen yang dilakukan dikhawatirkan dapat menyebabkan mosaicism sehingga efek jangka panjang sulit diprediksi, serta gen yang dimodifikasi dapat mengubah sifat genetik pasien dan keturunan selanjutnya secara permanen.[3,5]
Pertimbangan Terkait Efek pada Kualitas Hidup
Terapi kanker agresif terkadang dipilih pada kanker stadium lanjut dengan harapan dapat memperpanjang waktu kehidupan pasien, tetapi seluruh modalitas terapi yang ada akan menimbulkan efek samping yang dapat membuat pasien tidak nyaman dan menurunkan kualitas hidup. Durasi terapi juga tidak jarang menyebabkan pasien mengalami kelelahan fisik dan emosional, yang juga akan mempengaruhi kualitas hidup pasien.
Usia:
Beberapa studi mengkaji faktor-faktor yang menjadi pertimbangan pemilihan antara terapi kanker agresif atau perawatan paliatif pada kanker stadium lanjut berdasarkan variabel QoL (quality of life) dan LoL (length of life). Berdasarkan suatu studi kohort retrospektif yang dilakukan di Slovenia, faktor usia, dukungan keluarga, dan status sosial menentukan pemilihan modalitas terapi kanker.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa usia pasien yang lebih muda lebih cenderung memilih terapi kanker agresif dibandingkan paliatif. Alasan terbanyak keputusan tersebut adalah karena mereka masih ingin berkumpul dengan pasangan atau keturunan. Hasil ini sejalan dengan penelitian lain yang juga menunjukkan bahwa pasien lebih muda (usia < 65 tahun) 97% dapat mentolerir efek samping dari terapi kanker agresif dibandingkan pasien usia tua.
Alasan terbanyak pasien usia tua menolak terapi agresif dan lebih memilih kualitas hidup dibandingkan durasi hidup yang lebih lama adalah karena mereka merasa sudah menikmati kehidupan yang mereka jalani, status kesehatan fisik yang menurun, dan menghindarkan keluarga dari keputusan sulit dan rasa bersalah.
Faktor Ekonomi:
Studi lain juga menunjukkan bahwa selain usia, status ekonomi juga menjadi pertimbangan. Pasien dengan status ekonomi yang cukup lebih mungkin memilih terapi kanker agresif dengan pilihan terapi target atau imunoterapi dan mengambil risiko efek samping untuk memperpanjang hidup dibandingkan dengan hanya melakukan perawatan paliatif.
Kemungkinan Sembuh:
Selain itu, faktor prognosis pasien juga memengaruhi keputusan terapi. Populasi pasien dengan prognosis lebih buruk umumnya cenderung memilih perawatan paliatif, dengan mementingkan kualitas hidup dibandingkan dengan durasi hidup yang lama.[1,2,7,8]
Kesimpulan
Terapi kanker agresif terkadang dipilih pada kanker stadium lanjut untuk memperpanjang harapan hidup, tetapi pendekatan ini juga berisiko menurunkan kualitas hidup pasien. Dalam memilih antara pendekatan terapi agresif atau perawatan paliatif, dokter perlu mempertimbangkan skenario klinis pasien secara keseluruhan, termasuk usia pasien, jenis kanker yang diderita, serta ada-tidaknya mutasi atau sel target. Selain itu, pasien juga perlu diajak berperan aktif dalam diskusi terkait untung-rugi dari pendekatan terapinya, termasuk mempertimbangkan efek pada kualitas hidup, faktor ekonomi, serta kemungkinan sembuh.
