Untung Rugi Penggunaan Cladribine pada Multiple Sclerosis

Oleh :
dr.Giarena

Beberapa studi mengindikasikan bahwa cladribine merupakan terapi yang efektif untuk multiple sclerosis. Obat ini dilaporkan mampu menurunkan frekuensi relaps, memperlambat progresivitas, serta mengurangi aktivitas penyakit. Namun, penggunaan cladribine juga disertai sejumlah pertimbangan penting, mulai dari risiko limfopenia dan infeksi, kebutuhan pemantauan jangka panjang, hingga pemilihan pasien yang tepat agar manfaat terapi dapat optimal.[1,2]

Multiple sclerosis adalah penyakit autoimun kronis sistem saraf pusat yang ditandai oleh aktivasi abnormal limfosit T dan B autoreaktif yang menembus sawar darah-otak, memicu inflamasi, demielinisasi, kerusakan akson, dan menyebabkan disfungsi neurologis progresif. Cladribine bekerja sebagai analog purin yang secara selektif mengurangi populasi limfosit T dan B, sehingga menekan aktivitas autoimun sekaligus memungkinkan terjadinya rekonstitusi sistem imun.[1-3]

Untung Rugi Penggunaan Cladribine pada Multiple Sclerosis

Cladribine merupakan analog deoksiadenosin yang resisten terhadap degradasi oleh adenosin deaminase. Setelah mengalami fosforilasi di sel, obat ini terakumulasi terutama pada limfosit B dan T, menghambat sintesis serta perbaikan DNA, kemudian menginduksi apoptosis. Pada multiple sclerosis, mekanisme ini menekan populasi limfosit patogenik yang berperan dalam inflamasi dan demielinisasi sistem saraf.[2,3]

Efikasi Cladribine pada Multiple Sclerosis Menurut Bukti Ilmiah

Studi CLARITY (Cladribine Tablets Treating Multiple Sclerosis Orally) merupakan uji klinis fase III yang melibatkan 1.326 pasien dengan relapsing multiple sclerosis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cladribine efektif menurunkan annualized relapse rate (ARR) sebesar 58%, mengurangi risiko progresi disabilitas sebesar 33%, menurunkan jumlah lesi aktif pada MRI hingga lebih dari 70%, serta meningkatkan proporsi pasien yang tetap bebas relaps dibandingkan plasebo.[4]

Efikasi jangka panjang cladribine kemudian dievaluasi melalui studi CLARITY Extension, yaitu studi lanjutan selama 96 minggu yang melibatkan peserta dari CLARITY. Dalam studi ini, peserta yang sebelumnya berada pada kelompok plasebo diberikan cladribine dengan dosis kumulatif 3,5 mg/kg. Sementara itu, peserta yang telah menerima cladribine pada studi CLARITY kembali diacak untuk memperoleh cladribine 3,5 mg/kg atau plasebo.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa angka penurunan risiko relaps serta proporsi pasien yang tetap bebas relaps relatif serupa pada seluruh kelompok penelitian, termasuk kelompok yang tidak mendapatkan terapi tambahan selama periode ekstensi. Temuan ini mengindikasikan bahwa pemberian cladribine selama 2 tahun mampu menghasilkan efek terapeutik yang bertahan setidaknya hingga 4 tahun, bahkan tanpa pemberian ulang obat.

Selain itu, analisis subkelompok pada studi CLARITY Extension juga menunjukkan bahwa pasien dengan highly active relapsing multiple sclerosis memperoleh manfaat yang lebih besar, dengan penurunan risiko progresi disabilitas mencapai 82%, tanpa ditemukan peningkatan efek samping bermakna. Meski demikian, sebagai studi ekstensi, hasil CLARITY Extension perlu diinterpretasikan dengan mempertimbangkan potensi bias seleksi.[5]

Bukti dari Tinjauan Cochrane (2025)

Tinjauan sistematik Cochrane yang mencakup 9 randomized controlled trials, 4 open-label extension, dan 2 studi observasional, menyimpulkan bahwa cladribine merupakan terapi oral yang efektif terutama dalam mengendalikan aktivitas inflamasi pada multiple sclerosis. Bukti kualitas sedang menunjukkan bahwa cladribine menurunkan risiko relaps 47% dibandingkan plasebo, serta berpotensi mengurangi pembentukan lesi baru pada MRI, meskipun kepastian bukti untuk luaran pencitraan masih rendah.

Pada pemantauan jangka panjang, cladribine juga meningkatkan proporsi pasien yang mencapai no evidence of disease activity (NEDA) hingga 4 tahun. Sebaliknya, manfaatnya dalam memperlambat progresivitas disabilitas belum dapat dibuktikan secara meyakinkan. Selain itu, data mengenai keamanan jangka panjang, kejadian efek samping serius, kualitas hidup, dan fungsi kognitif masih memiliki tingkat kepastian yang rendah hingga sangat rendah.

Peneliti Cochrane juga menyoroti bahwa sebagian besar uji klinis didanai oleh produsen obat cladribine dan hampir seluruh penelitian belum mengevaluasi luaran yang paling bermakna bagi pasien, seperti kualitas hidup dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari. Oleh sebab itu, hasil studi tetap perlu diinterpretasikan secara hati-hati.

Di praktik, temuan ini mengindikasikan bahwa cladribine bisa dipertimbangkan sebagai disease-modifying therapy untuk pasien dengan relapsing MS yang tujuan terapinya adalah menekan aktivitas penyakit dan mencegah kekambuhan, bukan sebagai terapi yang mampu menghentikan progresi disabilitas. Regimen pemberian yang singkat (2 tahun) dan kebutuhan monitoring yang relatif minim juga menjadi keunggulan bagi pasien yang menginginkan terapi dengan beban pengobatan lebih rendah.[1]

Cara Pemberian Cladribine pada Multiple Sclerosis

Cladribine merupakan terapi oral untuk multiple sclerosis yang diberikan dengan konsep selective immune reconstitution therapy (IRT), sehingga tidak memerlukan pemberian kontinu seperti sebagian besar disease-modifying therapies.

  • Dosis yang direkomendasikan adalah 3,5 mg/kg berat badan selama 2 tahun, diberikan sebagai 1,75 mg/kg per tahun dalam dua siklus tahunan yang dipisahkan interval 12 bulan.
  • Setiap siklus terdiri atas pemberian selama 4–5 hari pada bulan pertama dan diulang selama 4–5 hari pada bulan kedua.

Setelah menyelesaikan 2 tahun terapi, sebagian besar pasien tidak memerlukan pengobatan tambahan pada tahun ke-3 dan ke-4 kecuali bila masih terdapat aktivitas penyakit. Sebelum memulai terapi, perlu dilakukan evaluasi jumlah limfosit, skrining infeksi laten, status vaksinasi, dan tes kehamilan pada wanita usia reproduktif. Kemudian, selama terapi diperlukan pemantauan berkala jumlah limfosit untuk mendeteksi limfopenia dan menentukan kelayakan pemberian siklus berikutnya.[3,6,7]

Keuntungan Penggunaan Cladribine pada Multiple Sclerosis

Salah satu keunggulan utama cladribine adalah obat ini tidak perlu dipakai secara kontinu, yang mana pemberian obat hanya dalam 2 siklus selama 2 tahun dengan efek terapeutik yang dapat bertahan hingga beberapa tahun setelah terapi dihentikan. Regimen oral yang singkat ini mengurangi frekuensi kunjungan rumah sakit dan kebutuhan monitoring, sehingga berpotensi meningkatkan kepatuhan dan kualitas hidup pasien dibandingkan terapi pemeliharaan jangka panjang.

Selain itu, cara pemberian cladribine ini juga memiliki keunggulan klinis pada kelompok pasien tertentu. Jadwal pemberian yang tidak kontinu memberikan fleksibilitas dalam perencanaan kehamilan setelah periode eliminasi obat selesai dan memudahkan strategi treatment switching maupun de-escalation dari terapi efikasi tinggi lain.

Cladribine juga dapat menjadi pilihan pada pasien multiple sclerosis dengan penyakit autoimun penyerta, seperti inflammatory bowel disease (IBD), karena tidak menyebabkan imunosupresi kontinu sehingga memungkinkan penggunaan terapi lain untuk penyakit komorbid bila diperlukan. Faktor-faktor tersebut membuat cladribine tidak hanya efektif untuk pengendalian penyakit, tetapi juga praktis untuk diterapkan pada pasien dengan kebutuhan klinis yang beragam.[1-3,6-9]

Keterbatasan Penggunaan Cladribine pada Multiple Sclerosis

Penggunaan cladribine pada multiple sclerosis tetap memerlukan seleksi pasien dan pemantauan yang cermat. Efek samping yang paling sering dijumpai adalah limfopenia, yang dapat meningkatkan risiko infeksi, terutama herpes zoster, infeksi saluran pernapasan atas, dan infeksi saluran kemih, meskipun sebagian besar kasus bersifat ringan hingga sedang.

Cladribine juga dikontraindikasikan pada kehamilan karena bersifat teratogenik, serta tidak boleh digunakan pada pasien dengan keganasan aktif. Pasien dengan riwayat kanker memerlukan penilaian manfaat dan risiko secara individual sebelum terapi cladribine dapat dimulai.

Meski data jangka panjang tidak menunjukkan peningkatan bermakna risiko keganasan dibandingkan terapi multiple sclerosis lain, pemeriksaan sebelum terapi dan pemantauan berkala terhadap jumlah limfosit, status infeksi, serta kondisi klinis pasien tetap merupakan bagian penting untuk memastikan keamanan penggunaan cladribine.[2,3,6,7]

Kesimpulan

Cladribine merupakan obat oral untuk relapsing multiple sclerosis (RMS) yang bekerja sebagai selective immune reconstitution therapy (IRT), yaitu dengan mendeplesi limfosit T dan B patogenik secara selektif sehingga menekan inflamasi dan memungkinkan rekonstitusi sistem imun tanpa memerlukan terapi kontinu. Terdapat uji klinis yang menunjukkan bahwa cladribine efektif menurunkan annualized relapse rate hingga sebesar 58%.

Secara klinis, cladribine menawarkan keuntungan berupa regimen oral yang singkat, kebutuhan monitoring yang relatif rendah, kemudahan treatment switching maupun perencanaan kehamilan setelah periode eliminasi obat, serta potensi penggunaan pada pasien dengan komorbiditas tertentu. Namun, terapi ini tetap memerlukan seleksi pasien yang tepat karena adanya risiko efek samping limfopenia, infeksi, serta kontraindikasi pada kehamilan dan keganasan aktif.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah meskipun telah ada bukti ilmiah yang mendukung efikasi cladribine sebagai terapi untuk mengendalikan aktivitas penyakit pada RMS, masih diperlukan uji klinis independen dan studi jangka panjang yang lebih berkualitas untuk mengonfirmasi manfaat serta profil keamanan obat pada luaran yang paling bermakna bagi pasien, seperti kualitas hidup dan kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari.

Referensi