Untung Rugi Terapi Fisik Berbasis Latihan pada Cedera Robekan Meniskus

Oleh :
dr.Putra Rizki Sp.KO

Terapi fisik berbasis latihan semakin sering digunakan sebagai pendekatan tata laksana pada kasus cedera robekan meniskus. Pendekatan ini disukai karena tidak invasif dan telah dilaporkan efektif mengurangi nyeri dan meningkatkan fungsi lutut.

Robekan meniskus merupakan penyebab umum nyeri lutut pada populasi dewasa dan atlet rekreasional. Robekan meniskus bisa terjadi akibat gaya rotasi atau geser yang bekerja pada sendi tibiofemoral, terutama ketika terdapat peningkatan beban aksial yang diteruskan melalui meniskus.[1-4]

Untung Rugi Terapi Fisik Berbasis Latihan pada Cedera Robekan Meniskus

Efikasi Terapi Fisik Berbasis Latihan pada Cedera Robekan Meniskus

Terapi fisik berbasis latihan terbukti efektif dalam memperbaiki nyeri dan fungsi pada pasien dengan robekan meniskus. Dalam uji klinis acak skala besar, Katz et al menunjukkan bahwa pasien yang menjalani terapi fisik terstruktur mengalami perbaikan klinis yang sebanding dengan pasien yang menjalani arthroscopic partial meniscectomy, khususnya dalam hal nyeri dan fungsi lutut.

Temuan ini diperkuat oleh tinjauan sistematik dan meta-analisis yang melaporkan bahwa terapi fisik berbasis latihan memberikan perbaikan bermakna secara klinis pada skor fungsi lutut dan kualitas hidup dengan manfaat yang bertahan dalam jangka menengah hingga panjang.

Selain itu, analisis lain menunjukkan bahwa variasi durasi latihan, jenis latihan, maupun usia pasien tidak memberikan perbedaan bermakna terhadap luaran fungsional. Hal ini mengindikasikan bahwa manfaat terapi latihan relatif konsisten pada berbagai karakteristik pasien dan protokol rehabilitasi.[1-4]

Perbandingan Terapi Fisik Berbasis Latihan Dengan Operasi

Sejumlah uji klinis dan meta-analisis secara konsisten menunjukkan bahwa terapi fisik tidak inferior dibandingkan intervensi bedah artroskopi pada robekan meniskus. ESCAPE trial menunjukkan bahwa terapi fisik memberikan hasil nyeri dan fungsi yang setara dengan arthroscopic partial meniscectomy pada pasien dengan robekan meniskus, baik pada evaluasi 2 tahun maupun 5 tahun.

Meta-analisis juga menunjukkan bahwa penambahan operasi pada program latihan tidak memberikan keuntungan tambahan yang bermakna secara klinis dibandingkan latihan saja. Konsistensi temuan ini diperkuat oleh tinjauan sistematik yang menyimpulkan bahwa pada mayoritas pasien dengan lesi meniskus degeneratif, operasi tidak memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan terapi berbasis latihan.[2,4,5]

Dalam penelitian lain, sejumlah pasien robekan meniskus yang terverifikasi melalui MRI dibagi secara acak untuk menjalani bedah meniskus atau program terapi latihan terstruktur selama 12 minggu yang dilengkapi edukasi pasien. Hasil studi ini mengindikasikan bahwa strategi konservatif berupa latihan terstruktur dan edukasi pasien dapat menjadi pendekatan awal yang layak sebelum mempertimbangkan tindakan pembedahan, karena kedua strategi menghasilkan perbaikan bermakna luaran primer.[6]

Perbandingan Terapi Fisik Berbasis Latihan Dengan Terapi Non-Bedah Lain

Dibandingkan dengan terapi non-bedah lain, seperti injeksi intraartikular, terapi fisik berbasis latihan menunjukkan manfaat yang lebih konsisten dan berkelanjutan. Latihan terstruktur tidak hanya mengurangi nyeri, tetapi juga memperbaiki kontrol neuromuskular dan stabilitas dinamis lutut.

Sebuah network meta-analysis menunjukkan bahwa intervensi berbasis terapi fisik berada di antara modalitas dengan profil manfaat terbaik pada patologi meniskus degeneratif non-traumatik, baik dibandingkan operasi maupun terapi pasif lainnya.[7]

Efek Samping dan Keamanan Terapi Fisik Berbasis Latihan

Terapi fisik berbasis latihan memiliki tingkat keamanan yang sangat baik. Uji klinis acak dan meta-analisis melaporkan bahwa efek samping serius jarang terjadi dan umumnya terbatas pada nyeri otot atau peningkatan nyeri lutut sementara pada fase awal latihan.

Sebaliknya, intervensi bedah dikaitkan dengan risiko komplikasi pascaoperasi, termasuk infeksi, trombosis vena dalam, dan kemungkinan percepatan perubahan degeneratif sendi. Oleh karena itu, dari perspektif risiko–manfaat, terapi fisik menawarkan pilihan yang lebih aman bagi sebagian besar pasien dengan robekan meniskus.[8,9]

Aplikasi dan Seleksi Pasien untuk Terapi Fisik Berbasis Latihan pada Cedera Robekan Meniskus

Berdasarkan basis bukti yang ada, terapi fisik berbasis latihan bisa dijadikan pilihan pertama pada pasien dengan robekan meniskus non-traumatik, tanpa gejala mekanik persisten seperti locking atau catching, serta tanpa instabilitas lutut berat.

Sebagian besar pasien dalam kelompok ini menunjukkan perbaikan bermakna dalam nyeri dan fungsi setelah menjalani latihan terstruktur dan edukasi pasien, tanpa memerlukan intervensi bedah. Pendekatan ini juga sesuai untuk pasien muda dan aktif yang ingin menghindari operasi dini.[1,6,8,9]

Kapan Pasien Perlu Dirujuk Untuk Evaluasi Bedah?

Rujukan untuk evaluasi bedah tetap diperlukan pada kondisi tertentu, seperti robekan meniskus traumatik dengan gejala mekanik yang menetap, kegagalan terapi konservatif (umumnya setelah ≥3 bulan latihan terstruktur), atau adanya instabilitas lutut signifikan akibat cedera ligamen. Perlu diingat bahwa keputusan untuk operasi harus didasarkan pada gambaran klinis dan kebutuhan fungsional pasien, bukan semata temuan pencitraan MRI.[5-7]

Kesimpulan

Beberapa bukti ilmiah menunjukkan bahwa terapi fisik berbasis latihan efektif dalam memperbaiki nyeri dan fungsi pada pasien dengan cedera robekan meniskus. Manfaat terapi fisik berbasis latihan juga ditemukan relatif konsisten pada berbagai karakteristik pasien dan protokol rehabilitasi. Lebih lanjut, beberapa bukti ilmiah juga menunjukkan bahwa efikasi pendekatan ini sebanding dengan tindakan operatif maupun terapi non-bedah lain.

Secara garis besar, terapi fisik berbasis latihan bisa dipilih pada pasien dengan robekan meniskus non-traumatik, tanpa gejala mekanik persisten seperti locking atau catching, serta tanpa instabilitas lutut berat. Sebaliknya, tindakan bedah bisa dipertimbangkan pada beberapa pasien dengan robekan meniskus traumatik, gejala mekanik yang menetap, kegagalan terapi konservatif, atau adanya instabilitas lutut signifikan akibat cedera ligamen.

Referensi