SABA inhalasi menjadi reliever andalan dalam tata laksana asma karena kemampuannya memberikan efek bronkodilatasi secara cepat. Penggunaan SABA inhalasi yang tepat tidak hanya berfungsi sebagai pereda gejala instan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam strategi penurunan angka mortalitas akibat penyakit ini.[1–4]
Memahami peran SABA (short-acting beta2-agonist) ini menjadi sangat krusial di tengah kondisi asma yang masih menjadi penyebab kematian signifikan di Indonesia. Salbutamol merupakan jenis SABA yang paling umum digunakan. Melalui rute inhalasi, obat ini bekerja cepat pada reseptor β₂-adrenergik dengan onset hanya 5 menit dan durasi kerja selama 4–6 jam.[1,3]
Berdasarkan pedoman GINA 2025, SABA inhalasi tetap direkomendasikan sebagai terapi awal untuk eksaserbasi asma pada seluruh kelompok usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Namun, penggunaannya bersifat sesuai kebutuhan (as-needed), dan harus dikombinasikan dengan kortikosteroid inhalasi (ICS) harian untuk memastikan kontrol inflamasi jangka panjang.[1]
