Alo Dokter, izin berdiskusi, apakah ada kemungkinan pada pasien sifilis yang sudah diterapi antibiotik untuk tes TPHA nya menunjukkan hasil non reaktif jika...
Hasil tes TPHA pada pasien sifilis pasca terapi - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Hasil tes TPHA pada pasien sifilis pasca terapi
Alo Dokter, izin berdiskusi, apakah ada kemungkinan pada pasien sifilis yang sudah diterapi antibiotik untuk tes TPHA nya menunjukkan hasil non reaktif jika sudah sembuh? Dikarenakan pasien mengkhawatirkan jika dilakukan MCU oleh kantor/perusahaan dan menggunakan tes TPHA hasilnya menunjukkan reaktif padahal pasien sudah berobat dan sembuh. Apakah dokter-dokter sekalian ada yang memiliki pengalaman pasien dengan kondisi yang sama dan bagaimana memberikan penjelasan atau saran serta edukasinya? Terima kasih.
Yang biasanya dipakai untuk evaluasi keberhasilan terapi adalah VDRL atau RPR titer, bukan TPHA. Setelah pengobatan berhasil, titer VDRL/RPR akan turun bertahap (misalnya turun 4 kali lipat dalam 6–12 bulan, tergantung stadium). Pada sebagian pasien, VDRL/RPR bahkan bisa menjadi non-reaktif, tetapi tidak selalu.
Dalam praktik, saya biasanya menyarankan pasien untuk menyimpan dokumentasi diagnosis dan terapi sebelumnya. Bila perlu MCU, membawa surat keterangan dokter bahwa pasien sudah mendapat terapi adekuat, tidak ada tanda infeksi aktif, dan hasil TPHA reaktif merupakan jejak serologis pasca infeksi lama. Bila memungkinkan, lakukan kontrol ulang VDRL/RPR kuantitatif untuk melihat titer terkini.
Ada juga fenomena yang disebut serofast state dimana VDRL tetap reaktif rendah menetap meskipun terapi adekuat dan tidak ada infeksi aktif. Sedangkan TPHA yang berubah menjadi non-reaktif setelah terapi memang bisa terjadi, tetapi relatif jarang, biasanya pada terapi sangat dini, infeksi primer awal, atau pasien tertentu.
Demikian penjelasannya, semoga membantu 😊
Diagnosa sifilis membutuhkan 2 tes serologi yaitu (1) tes nontreponemal (VDRL, RPR) dan (2) tes treponemal (TPHA, EIA dll). Pasien dengan tes nontreponemal reaktif harus disertai dengan tes treponemal. Titer antibodi tes nontreponemal dapat berkorelasi dengan aktivitas penyakit dan digunakan untuk monitor terapi.
Titer tes nontreponemal biasanya akan menurun setelah terapi dan dapat menjadi non reaktif seriring waktu. Tetapi pada beberapa orang, antibodi non treponemal dapat menurun kurang dari 4x setelah terapi atau dapat menurun tetapi tidak sesuai atau gagal menjadi non reaktif dan bertahan untuk jangka waktu yang lama. Mayoritas pasien dengan tes treponemal reaktif akan terus reaktif sepanjang hidupnya walaupun dengan terapi adekuat atau aktivitas penyakitnya. Walaupun demikian, 15-25% pasien yang diterapi selama fase primer akan non reaktif secara serologik setelah 2-3 tahun.
Semoga mendapatkan pencerahan.