Manfaat dan pilihan antibiotik profilaksis untuk Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK) harus memperhatikan keseimbangan antara keuntungan dan risiko pada pasien secara individu, serta potensi bahaya bagi masyarakat. Penggunaan antibiotik profilaksis memberikan manfaat dalam mengurangi kejadian eksaserbasi pada pasien PPOK. Namun, efek samping obat dan resistensi antibiotik perlu menjadi pertimbangan pemberian antibiotik profilaksis tersebut.
Relevansi Profilaksis pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik (PPOK)
Penyakit paru obstruksi kronik adalah penyakit yang ditandai dengan gangguan pernapasan persisten, disertai keterbatasan aliran udara yang disebabkan oleh kelainan pada saluran napas dan/atau alveolar. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh paparan partikel atau gas yang berbahaya, misalnya merokok. Banyak penderita PPOK mengalami eksaserbasi akut, yang didefinisikan sebagai gejala pernapasan akut yang memburuk hingga membutuhkan terapi tambahan.[1,2]
Manajemen PPOK bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan prognosis pasien, yang mana salah satu langkahnya adalah dengan mencegah eksaserbasi. Infeksi pernapasan adalah pemicu utama eksaserbasi PPOK. Oleh sebab itu, pencegahan eksaserbasi harus mencakup menghindari asap rokok dan polusi udara, pemberian vaksinasi influenza, vaksinasi pneumokokus, serta pada beberapa kasus dapat diberikan antibiotik profilaksis.[1-3,8]
Manfaat Antibiotik Profilaksis pada PPOK
Penggunaan antibiotik profilaksis berkelanjutan dipercaya akan mengurangi jumlah pasien dengan eksaserbasi dan frekuensi eksaserbasi. Selain itu, juga dapat memperpanjang waktu rata-rata eksaserbasi pertama, dan meningkatkan kualitas hidup yang berhubungan dengan kesehatan. Antibiotik yang biasa digunakan adalah dari golongan makrolida yaitu azithromycin.[2,8]
Penelitian yang tersedia menunjukkan bahwa penggunaan azithromycin 250 mg/hari atau 500 mg tiga kali seminggu selama satu tahun pada pasien yang berisiko tinggi mengalami eksaserbasi dapat menurunkan risiko eksaserbasi secara bermakna. Hasil serupa juga dilaporkan pada penggunaan erythromycin 250 mg dua kali sehari.[8,9]
Meski demikian, perlu diketahui pula bahwa penggunaan antibiotik tersebut berkaitan dengan peningkatan resistensi, pemanjangan interval QT, dan kelainan pada tes fungsi pendengaran. Lebih lanjut, pilihan antibiotik perlu mempertimbangkan pola resistensi bakteri lokal. Pada pasien PPOK yang sering mengalami eksaserbasi, gejala pernapasan berat, atau eksaserbasi yang membutuhkan ventilasi mekanis, pertimbangkan perlunya kultur.
Bakteri gram negatif seperti Pseudomonas sp atau patogen resisten yang mungkin ada tidak akan sensitif terhadap antibiotik tertentu. Rute pemberian tergantung kemampuan pasien dan farmakokitetik antibiotik, tetapi lebih baik diberikan per oral.[8]
Antibiotik Profilaksis PPOK berdasarkan Guideline GOLD
Pada guideline GOLD (Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease) 2025, disebutkan bahwa antibiotik profilaksis dapat dipertimbangkan pada pasien yang mengalami eksaserbasi infektif berulang dan sering meski telah menerima terapi rumatan optimal. Antibiotik profilaksis diberikan dalam regimen jangka panjang (12 bulan) dan terutama relevan pada pasien yang dulunya perokok (former smoker).
Perlu dicatat bahwa menurut GOLD, antibiotik profilaksis tidak diberikan secara rutin untuk semua pasien dengan PPOK. Pemberian hanya dipertimbangkan pada subset klinis pasien tertentu saja.[8]
Mekanisme Kerja Antibiotik Profilaksis PPOK
Meskipun pengobatan menggunakan antibiotika makrolida untuk mencegah eksaserbasi telah direkomendasikan secara kondisional oleh GOLD, tetapi mekanisme yang mendasarinya tidak sepenuhnya jelas. Faktor-faktor yang telah terbukti bermanfaat bagi pasien PPOK adalah efek antiinflamasi, antivirus, dan potensi modulasi imun.
Meta analisis dari Huckle et al menunjukkan efek antibiotik pada penurunan jumlah sel inflamasi (neutrofil dan makrofag), penurunan tingkat sitokin inflamasi (IL-1β, IL-6, IL-8, IL-10, TNF-α, faktor stimulasi koloni granulosit-makrofag, CXC-kemokin), dan penurunan penanda inflamasi lainnya (protein C-reaktif).[4,5]
Neutrofil dan makrofag memiliki peran penting dalam respons imun awal pada PPOK, yaitu reaksi lipopolisakarida yang ditemukan dalam asap rokok. Reactive Oxygen Specific (ROS) menyebabkan aktivasi faktor transkripsi seperti Nuclear Factor kappa B (NF-κB) dan protein kinase. Hal ini menyebabkan pelepasan sitokin proinflamasi dari makrofag dan neutrofil, sehingga menyebabkan keadaan peradangan kronis yang terus menerus.[4]
Azithromycin dapat meningkatkan fagositosis makrofag atau mekanisme pro-phagocytic, yaitu melalui efek pada jalur phosphatidylserine yang menyebabkan fagositosis makrofag sel epitel. Sementara itu, eritromisin telah terbukti menurunkan aktivitas NF-κB dalam monosit manusia yang telah diinduksi dengan ekstrak asap rokok, sehingga dapat mengurangi peradangan.[4]
Risiko Penggunaan Antibiotik Profilaksis pada PPOK
Manfaat yang dicapai oleh antibiotik profilaksis untuk mencegah eksaserbasi PPOK memiliki berbagai efek samping, salah satunya adalah kekhawatiran tentang resistensi antibiotik. Peningkatan isolat resisten terlihat selama intervensi dengan antibiotik profilaksis, yang melibatkan azithromycin, doxycycline, dan moxifloxacin.[2,4,6]
Selain resistensi, beberapa efek samping yang sering terjadi pada penggunaan antibiotik jangka panjang, adalah gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, diare; gejala kardiovaskular yaitu prolong QT pada gambaran EKG; gejala muskuloskeletal atau nyeri otot; dan gangguan sistem saraf atau neuropati.[2,6]
Antibiotika golongan makrolida terbukti menimbulkan risiko perpanjangan QT pada gambaran EKG, dan dapat mengganggu metabolisme sitokrom p450 dari obat aritmogenik lainnya sehingga bisa menimbulkan aritmia ventrikel. Pengaruh pada perpanjangan QT tergantung pada konsentrasi makrolida yang diberikan. Azithromycin adalah makrolida dengan gangguan minimal pada sitokrom p450 sehingga memiliki risiko aritmia ventrikel yang rendah.[7]
Kesimpulan
Terdapat studi yang menunjukkan bahwa penggunaan atibiotik profilaksis, seperti azithromycin dan erythromycin, efektif untuk menurunkan risiko eksaserbasi pada penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Meski demikian, antibiotik profilaksis tersebut tidak digunakan secara rutin pada seluruh pasien PPOK, melainkan hanya pada pasien-pasien yang sering mengalami eksaserbasi infektif meski telah mendapat terapi rumatan optimal. Antibiotik profilaksis digunakan dalam jangka lama (12 bulan). Risiko yang perlu diwaspadai adalah peningkatan resistensi, pemanjangan interval QT, serta gangguan pendengaran.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
