Kasus hernia inguinal pada wanita sering terlewat, sehingga menyebabkan diagnosis menjadi terlambat hingga hitungan tahun. Di praktik, hernia inguinal memang lebih banyak ditemukan pada pria. Kemungkinan seorang pria mengalami hernia inguinal dalam hidupnya mencapai 27-43%, sedangkan pada wanita hanya 3-6%. Selain itu, gejala hernia inguinal pada wanita juga sering tidak khas, sehingga pasien bisa tidak menyadari dan tidak memeriksakan diri.[1,2]
Faktor Penyebab Keterlambatan Diagnosis Hernia Inguinal pada Wanita
Kasus hernia inguinal pada wanita termasuk kasus yang jarang. Meski ada lebih dari 20 juta pasien yang menjalani operasi hernia di seluruh dunia setiap tahunnya, wanita hanya mencakup 10% dari seluruh kasus yang menjalani herniorafi.[1]
Manifestasi Klinis yang Tidak Khas
Manifestasi klinis hernia inguinal pada wanita sering tidak jelas dan non spesifik. Gejala yang muncul pada wanita bisa berupa nyeri pangkal paha, ketidaknyamanan saat aktivitas, atau nyeri panggul kronis tanpa adanya benjolan nyata, sehingga mudah disalahartikan sebagai gangguan ginekologi, muskuloskeletal, atau saluran kemih. Pada beberapa kasus, pasien juga bisa tidak memiliki keluhan sama sekali sehingga tidak datang memeriksakan diri.
Faktor anatomi wanita, seperti kanalis inguinal yang lebih sempit dan ukuran hernia yang umumnya lebih kecil, juga bisa membuat tonjolan sulit terdeteksi saat pemeriksaan. Akibat dari hal-hal tersebut, pasien sering menjalani berbagai pemeriksaan untuk diagnosis lain sebelum hernia akhirnya dikenali.[1-3]
Anggapan Petugas Medis Bahwa Hernia Inguinal Hanya Terjadi pada Pria
Dari sisi tenaga medis, banyak yang memiliki pandangan bahwa hernia inguinal merupakan ‘diagnosis eksklusif’ untuk pasien pria. Bahkan, mayoritas penelitian mengenai hernia inguinal membahas populasi pasien pria, mungkin karena memang secara statistik hernia inguinal 8-10 kali lipat lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan wanita.
Di praktik, hal ini menyebabkan diagnosis banding hernia inguinal jarang dipikirkan sebagai kemungkinan pada pasien wanita yang memiliki keluhan. Selain itu, pasien wanita juga kesulitan untuk mendapatkan barang medis terkait hernia, seperti celana hernia, karena barang-barang tersebut mayoritas didesain untuk pasien pria.[1-3]
Pengaruh Keterlambatan Diagnosis Terhadap Prognosis Wanita dengan Hernia Inguinal
Keterlambatan diagnosis hernia pada wanita dapat memperburuk prognosis karena memberikan waktu bagi hernia untuk berkembang dan meningkatkan risiko terjadinya inkarserasi yang dapat berlanjut menjadi strangulasi. Pada kondisi strangulasi, isi kantong hernia beserta pembuluh darah yang menyuplai organ tersebut mengalami penjepitan, menyebabkan gangguan perfusi yang dapat berakhir pada iskemia hingga nekrosis organ di dalam kantong hernia.
Keadaan tersebut merupakan indikasi kuat untuk segera melakukan operasi darurat guna mencegah kerusakan jaringan yang lebih luas. Namun, tindakan operasi darurat pada hernia strangulasi diketahui memiliki luaran yang jauh lebih buruk dibandingkan operasi elektif, dengan angka mortalitas dilaporkan mencapai sekitar 3,5–5% (dibandingkan 0,07% pada operasi terjadwal).
Lebih lanjut, selain meningkatkan risiko mortalitas, keterlambatan diagnosis juga berhubungan dengan meningkatnya morbiditas, seperti kebutuhan reseksi usus, lama perawatan di rumah sakit, nyeri kronis, penurunan kualitas hidup, serta beban biaya pelayanan kesehatan.[1,3-5]
Cara Mencegah Keterlambatan Diagnosis Hernia Inguinal pada Wanita
Berikut merupakan langkah-langkah yang bisa dilakukan di praktik untuk mencegah terjadinya keterlambatan diagnosis hernia inguinal pada wanita.
- Tingkatkan Kecurigaan Klinis
Pada praktik sehari-hari, tenaga kesehatan perlu memiliki tingkat kecurigaan klinis yang tinggi pada setiap wanita dengan keluhan nyeri pangkal paha, nyeri panggul kronis yang memberat saat beraktivitas, atau benjolan di regio inguinal, meskipun tonjolan bisa tidak tampak jelas saat pemeriksaan. Langkah awal meliputi anamnesis yang cermat, diikuti pemeriksaan fisik dalam posisi berdiri dan saat melakukan manuver Valsalva.
- Gunakan Pemeriksaan Radiologi Sebagai Alat Bantu Diagnosis
Apabila hasil pemeriksaan masih meragukan tetapi kecurigaan terhadap hernia tetap tinggi, pencitraan sebaiknya dipertimbangkan. USG merupakan modalitas lini pertama yang disukai karena noninvasif dan mudah diakses. Meski begitu, akurasi USG sangat bergantung pada kemampuan operator sehingga hasil negatif tidak selalu dapat menyingkirkan diagnosis. Jika temuan tetap meragukan, terutama bila dicurigai hernia kecil atau hernia femoralis, dynamic CT scan atau MRI dapat dipertimbangkan.
- Lakukan Edukasi untuk Deteksi Dini
Selain meningkatkan kewaspadaan tenaga kesehatan, edukasi kepada masyarakat juga berperan penting dalam mencegah keterlambatan diagnosis. Banyak wanita menganggap keluhan awal berupa nyeri panggul atau rasa tidak nyaman di lipat paha sebagai masalah muskuloskeletal atau ginekologi, sehingga tidak segera mencari pertolongan medis.
Lakukan edukasi bahwa nyeri yang memburuk saat berdiri, berjalan, mengangkat beban, atau mengejan dapat menjadi manifestasi awal hernia meski belum disertai benjolan yang nyata. Selain itu, edukasi pula bahwa munculnya benjolan yang nyeri, sulit direposisi, atau disertai mual, muntah, dan nyeri hebat merupakan tanda kemungkinan inkarserasi atau strangulasi yang memerlukan evaluasi bedah segera.[4,6-9]
Kesimpulan
Hernia inguinal pada wanita merupakan kondisi yang relatif jarang, tetapi justru lebih berisiko mengalami keterlambatan diagnosis karena manifestasi klinisnya sering tidak khas dan kecurigaan klinis tenaga kesehatan masih rendah. Padahal, keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko inkarserasi dan strangulasi yang dapat menyebabkan iskemia hingga nekrosis organ, sehingga memerlukan operasi darurat dengan mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi.
Pada wanita, hernia inguinal dapat muncul hanya sebagai nyeri pangkal paha atau nyeri panggul yang memberat saat aktivitas tanpa disertai benjolan yang jelas, sehingga mudah disalahartikan sebagai gangguan ginekologi, muskuloskeletal, atau saluran kemih. Oleh karena itu, hernia inguinal maupun femoralis harus selalu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding pada wanita dengan keluhan tersebut.
Evaluasi diawali dengan anamnesis yang teliti dan pemeriksaan fisik dalam posisi berdiri serta saat manuver Valsalva. Apabila temuan klinis masih meragukan tetapi kecurigaan diagnosis hernia tetap tinggi, USG dapat digunakan sebagai modalitas pencitraan awal untuk penegakan diagnosis. Jika masih meragukan, dynamic CT scan atau MRI bisa dipertimbangkan, terutama bila dicurigai hernia kecil maupun hernia femoralis.
