Pedoman Pencegahan dan Manajemen Hipertensi pada Dewasa – Ulasan Guideline Terkini

Oleh :
dr. Gilang Pradipta Permana

Pedoman tahun 2025 mengenai pencegahan dan manajemen hipertensi pada dewasa dipublikasikan oleh American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC). Pedoman ini merupakan pengganti pedoman sebelumnya yang terbit tahun 2017, karena terjadi perubahan bukti ilmiah, perkembangan obat, teknologi dan perubahan epidemiologi dalam 8 tahun terakhir.

Secara umum, terjadi perubahan instrumen perhitungan risiko, kondisi memulai terapi obat, target tekanan darah, pilihan obat, dan pemeriksaan rutin yang perlu dilakukan pada panduan terbaru ini. Skor PREVENT menjadi instrumen perhitungan risiko kardiovaskular yang direkomendasikan. Pilihan farmakoterapi lini pertama mencakup diuretik thiazide, dihydropyridine calcium channel blockers kerja panjang, dan ACE-inhibitor (ACEi) atau angiotensin receptor blocker (ARB).[1]

Pedoman Pencegahan dan Manajemen Hipertensi pada Dewasa

Table 1. Tentang Pedoman Klinis Ini

Penyakit Hipertensi
Tipe Pencegahan, skrining, diagnosis, dan penatalaksanaan
Yang Merumuskan

American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC)

Tahun 2025
Negara Asal Amerika Serikat
Dokter Sasaran Dokter Layanan Primer, Spesialis Penyakit Dalam, Kardiologis, Nefrologis, Neurologis, Spesialis Obstetri-Ginekologi.

Penentuan Tingkat Bukti

Panduan ini disusun oleh dua komite yang dibentuk oleh AHA dan ACC, yaitu Evidence Review Committee dan Writing Committee. Evidence Review Committee terdiri dari tenaga profesional non-klinis (seperti epidemiolog, ahli biostatistik, ahli metodologi penelitian) yang bertugas untuk melakukan tinjauan sistematis, menilai kekuatan bukti, menganalisis risiko bias, serta memberikan ringkasan ilmiah yang akan menjadi dasar rekomendasi.

Setelah itu, Writing Committee yang terdiri dari berbagai macam profesi kesehatan, yakni anggota AHA dan ACC, dokter layanan primer, dokter keluarga, neurolog, spesialis geriatrik, perawat, farmasis, dan profesi kesehatan lain yang bekerja dalam manajemen hipertensi. Mereka membaca, mengevaluasi, dan menyusun rekomendasi klinis dari hasil tinjauan. Penentuan tingkat bukti menggunakan sistem Class of Recommendation (COR) I–III dan Level of Evidence (LOE) A–C.[1]

Rekomendasi Utama untuk Diterapkan dalam Praktik Klinis Anda

Pedoman ini berlaku untuk hipertensi pada populasi dewasa usia ≥18 tahun, termasuk populasi lansia, ibu hamil, pasien dengan komorbid penyakit kardiovaskular, diabetes, penyakit ginjal kronik, dan gangguan neurologis.[1]

Klasifikasi Hipertensi

Klasifikasi tekanan darah dilakukan berdasarkan rata-rata dari ≥2 pengukuran yang dilakukan dengan benar pada ≥2 kesempatan berbeda. Pemantauan tekanan darah di luar fasilitas kesehatan dapat meningkatkan akurasi dalam mengidentifikasi hipertensi. Metode yang tersedia meliputi ambulatory blood pressure monitoring (ABPM) dan home blood pressure measurement (HBPM).

Klasifikasi hipertensi menurut pedomann ini adalah:

  • Normal: sistolik <120 mmHg dan diastolik<80 mmHg
  • Tekanan darah meningkat: sistolik 120–129 mmHg dan diastolik <80 mmHg
  • Hipertensi derajat 1: sistolik 130–139 mmHg atau diastolik 80–89 mmHg
  • Hipertensi derajat 2: sistolik ≥140 mmHg atau diastolik ≥90 mmHg.[1]

Terminologi Baru

Pedoman ini memasukkan terminologi baru, yakni hypertensive urgency diubah menjadi severe hypertension jika tekanan darah >180/120 mmHg.[1]

Penilaian Risiko

Dalam pedoman ini, kalkulator PREVENT menggantikan Pooled Cohort Equation (PCE) untuk menentukan dasar pemberian dan target terapi.[1]

Modifikasi Gaya Hidup

Modifikasi gaya hidup sangat dianjurkan untuk mencegah atau mengobati hipertensi. Pasien dianjurkan untuk mempertahankan atau mencapai berat badan yang sehat, mengikuti pola makan yang baik untuk kesehatan jantung (seperti DASH/Dietary Approaches to Stop Hypertension), mengurangi asupan natrium, meningkatkan asupan kalium, melakukan aktivitas fisik intensitas sedang, mengelola stres, serta mengurangi konsumsi alkohol.[1]

Inisiasi Farmakoterapi Dimulai Lebih Awal

Inisiasi terapi farmakologis dianjurkan pada pasien dengan tekanan darah rata-rata ≥140/90 mmHg, serta pada pasien dengan tekanan darah rata-rata ≥130/80 mmHg yang memiliki penyakit kardiovaskular klinis, riwayat stroke, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau risiko kardiovaskular 10 tahun ≥7,5% berdasarkan skor PREVENT.

Pada pasien dengan tekanan darah ≥130/80 mmHg tetapi risiko kardiovaskular <7,5%, terapi obat dipertimbangkan bila tekanan darah tetap ≥130/80 mmHg setelah modifikasi gaya hidup selama 3–6 bulan. Selain itu, pada semua pasien dengan hipertensi derajat 2, terapi farmakologis sebaiknya dimulai dengan kombinasi dosis tetap dua obat lini pertama dari kelas berbeda untuk meningkatkan kepatuhan dan mempercepat pencapaian kontrol tekanan darah.[1]

Target Terapi

Target tekanan darah tetap sama dengan pedoman sebelumnya, yakni <130/80 mmHg. Namun,  ditegaskan bahwa tekanan sistolik <120 mmHg lebih baik untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular mayor, stroke, gagal jantung, dan demensia.

Pada kasus rawat inap, penurunan tekanan darah memiliki pendekatan sedikit berbeda, yakni:

  • Pasien perdarahan intraserebral stroke dengan tekanan sistolik 150–220 mmHg: target penurunan berada di sekitar 130–140 mmHg, bukan <120 mmHg. Penurunan harus stabil karena variabilitas tekanan darah akan memperburuk luaran klinis.
  • Pasien dengan severe hypertension tanpa masalah jantung dan kerusakan organ akut: tidak direkomendasikan memberikan obat antihipertensi intravena (IV) atau oral secara intermiten (PRN) untuk menurunkan tekanan darah secara cepat.[1]

Hipertensi dalam Kehamilan

Pada kasus hipertensi dalam kehamilan, rekomendasi penanganan adalah:

  • Terapi harus diberikan dalam 30–60 menit jika tekanan darah ≥160/110 mmHg.
  • Pada hipertensi kronis, target tekanan darah adalah <140/90 mmHg.
  • Aspirin dosis rendah dapat bermanfaat untuk mengurangi risiko preeklampsia.

  • Pada ibu hamil atau sedang program hamil dengan hipertensi, hindari pemberian obat hipertensi atenolol, ACEi, ARB, MRA, nitroprusside, dan renin inhibitor.[1]

Tindakan Renal Denervation (RDN)

Tindakan renal denervation menjadi opsi pada pasien hipertensi resisten setelah evaluasi ulang penyebab peningkatan tekanan darah dan terapi yang telah diberikan. Keputusan dilakukannya RDN harus dievaluasi oleh tim multidisiplin.[1]

Perbandingan dengan Pedoman Klinis di Indonesia

Di Indonesia, terdapat Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) Tata Laksana Hipertensi Dewasa oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2021. Dalam pedoman ini PNPK belum mengadopsi istilah severe hypertension dan belum menggunakan kalkulator risiko PREVENT. Lebih lanjut, pada PNPK inisiasi obat baru dimulai jika tekanan darah ≥140/90 mmHg tanpa mempertimbangkan kategori risiko.

Selain itu, target tekanan darah pada pedoman AHA dan ACC lebih agresif dengan penegasan bahwa target tekanan darah <120 mmHg memberikan manfaat tambahan. AHA dan ACC juga telah memasukkan RDN sebagai opsi terapi hipertensi resisten, yang belum ada dalam PNPK.[2]

Kesimpulan

Pedoman pencegahan dan manajemen hipertensi pada dewasa dipublikasikan oleh American Heart Association (AHA) dan American College of Cardiology (ACC) pada tahun 2025 sebagai pembaruan dari versi terdahulu. Beberapa perubahan utama dalam pedoman klinis ini adalah:

  • Gunakan kalkulator PREVENT sebagai dasar penilaian risiko kardiovaskular 10 tahun untuk menentukan kebutuhan dan target terapi, menggantikan Pooled Cohort Equation (PCE).
  • Inisiasi terapi farmakologis lebih awal, yaitu pada tekanan darah ≥140/90 mmHg untuk semua pasien, dan pada ≥130/80 mmHg bagi pasien dengan penyakit kardiovaskular, stroke, diabetes, penyakit ginjal kronis, atau risiko menurut kalkulator PREVENT ≥7,5%; serta setelah 3–6 bulan modifikasi gaya hidup bila risiko <7,5% namun tekanan darah tetap ≥130/80 mmHg.
  • Terapi kombinasi direkomendasikan pada hipertensi derajat 2, yaitu memulai dua obat lini pertama dalam satu pil kombinasi dosis tetap untuk meningkatkan kepatuhan dan mempercepat kontrol tekanan darah.

Referensi