Farmakoterapi untuk Obesitas

Oleh :
dr. Qorry Amanda, M.Biomed

Obat seperti semaglutide dan tirzepatide digunakan dalam farmakoterapi obesitas untuk membantu menurunkan berat badan, terutama ketika diet, aktivitas fisik, dan modifikasi gaya hidup belum memberikan hasil memadai. Farmakoterapi pada obesitas bekerja melalui berbagai mekanisme, seperti mengurangi nafsu makan, meningkatkan rasa kenyang, atau regulasi metabolisme, sehingga dapat membantu mencapai target penurunan berat badan.

Walau demikian, penggunaan obat dalam tata laksana obesitas perlu tetap dikombinasikan dengan intervensi gaya hidup, karena pola makan sehat dan aktivitas fisik tetap merupakan inti dari penanganan obesitas. Selain itu, penggunaan dan pemilihan obat perlu disesuaikan dengan komorbiditas dan komplikasi setiap pasien.[1,2]

Pendekatan Farmakologi untuk Obesitas

Peran Farmakoterapi dalam Penanganan Obesitas

Dalam penanganan obesitas, farmakoterapi digunakan khususnya bagi pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m² atau IMT ≥27 kg/m² yang disertai komorbiditas terkait berat badan, seperti diabetes mellitus tipe 2, hipertensi, dislipidemia, dan sleep apnea. Penggunaan farmakoterapi tidak menggantikan intervensi gaya hidup, melainkan harus dikombinasikan dengan pembatasan asupan kalori, peningkatan aktivitas fisik, dan modifikasi perilaku.

Efektivitas penggunaan farmakoterapi dievaluasi setelah 12 minggu. Apabila pasien tidak mengalami penurunan berat badan minimal 5% dari berat badan awal, penggunaan farmakoterapi perlu dihentikan karena kemungkinan tercapainya dan dipertahankannya penurunan berat badan yang bermakna secara klinis dinilai rendah.[2]

Pilihan Farmakoterapi untuk Penanganan Obesitas

Terdapat beberapa pilihan terapi farmakologi bagi pasien obesitas. Meski demikian, yang memiliki ijin edar di Indonesia baru semaglutide, tirzepatide, orlistat, dan liraglutide.

Semaglutide

Semaglutide merupakan agonis reseptor glucagon like peptide-1 (GLP-1) yang bekerja dengan meniru aksi GLP-1 endogen untuk meningkatkan rasa kenyang, menurunkan lapar, dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga mengurangi asupan kalori dan mendukung penurunan berat badan. Mekanisme ini diperkuat oleh modifikasi struktural yang memperpanjang waktu paruh dan memungkinkan pemberian subkutan sekali seminggu.[3]

Indikasi penggunaan semaglutide pada obesitas adalah sebagai terapi tambahan terhadap diet dan olahraga pada:

  • Pasien dewasa dengan IMT ≥30 kg/m²
  • Pasien dewasa dengan IMT ≥27 kg/m² yang memiliki setidaknya satu komorbiditas terkait berat badan, seperti hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, atau dislipidemia.
  • Pasien anak dan remaja berusia ≥12 tahun dengan obesitas.
  • Pasien dewasa dengan penyakit kardiovaskular yang telah terbukti dan disertai obesitas atau overweight, dengan tujuan penggunaan untuk mengurangi risiko kejadian kardiovaskular mayor, termasuk kematian akibat penyakit kardiovaskular, infark miokard nonfatal, dan stroke

Di Amerika Serikat, semaglutide (dikenal dengan nama dagang Ozempic®) awalnya disetujui dalam bentuk injeksi subkutan 2,4 mg sekali seminggu, kemudian pada Desember 2025 juga disetujui dalam bentuk tablet oral sekali sehari untuk manajemen berat badan pada orang dewasa. Sediaan tablet oral ini juga sudah ada di Indonesia.[2,4]

Secara klinis, semaglutide digunakan dalam dosis inisial 0,25 mg diberikan secara subkutan sekali seminggu selama 4 minggu. Selanjutnya, dosis bisa dinaikkan setiap 4 minggu menjadi 0,5 mg/minggu, lalu 1 mg/minggu, dan 1,7 mg/minggu. Pada minggu ke-17 dan seterusnya, dosis rumatan yang dianjurkan adalah 2,4 mg/minggu. Durasi terapi yang dianjurkan adalah 6-24 bulan.[1,3,5,6]

Tirzepatide

Tirzepatide adalah agonis reseptor ganda glucose-dependent insulinotropic polypeptide (GIP) dan GLP-1. Aktivasi reseptor GIP dan GLP-1 akan mengurangi rasa lapar, meningkatkan rasa kenyang, memperlambat pengosongan lambung, dan meningkatkan sekresi insulin. Tirzepatide juga dapat memperbaiki kontrol glukosa dan sensitivitas metabolik.

Untuk penanganan obesitas, tirzepatide digunakan sebagai injeksi subkutan sekali seminggu, umumnya diberikan pada abdomen, paha, atau lengan atas, dan digunakan sebagai tambahan terhadap diet rendah kalori serta peningkatan aktivitas fisik.

Terapi biasanya dimulai dengan 2,5 mg sekali seminggu selama 4 minggu, kemudian dosis ditingkatkan menjadi 5 mg sekali seminggu. Selanjutnya, dosis dapat dinaikkan secara bertahap sebesar 2,5 mg setelah minimal 4 minggu pada dosis sebelumnya. Dosis pemeliharaan yang direkomendasikan adalah 5 mg, 10 mg, atau 15 mg sekali seminggu, dengan dosis maksimum 15 mg sekali seminggu.[1,5,7]

Orlistat

Orlistat merupakan inhibitor enzim lipase pada gaster dan pankreas. Obat ini bekerja dengan mengurangi absorpsi lemak hingga 30% di intestinum tenue. Dosis standar pemberian orlistat adalah sebesar 120 mg, 3 kali sehari, diberikan sebelum makan.

Efek samping yang paling lazim dari orlistat adalah steatorrhea akibat lemak pada makanan yang tidak bisa dicerna, peningkatan frekuensi buang air besar, flatus disertai discharge, serta inkontinensia fekalis.

Penggunaan orlistat yang dikombinasikan dengan diet sehat dan olahraga dapat menurunkan berat badan hingga terpaut 2-3 kg lebih banyak dibandingkan plasebo. Selain itu, orlistat juga memiliki efek yang menguntungkan seperti menurunkan kadar kolesterol total, kolesterol LDL, menurunkan rasio LDL-HDL, menurunkan tekanan darah diastolik, memperbaiki kadar gula darah puasa, serta menurunkan insidensi diabetes mellitus.[8,9]

Liraglutide

Liraglutide merupakan agonis GLP-1 seperti semaglutide. Sama seperti semaglutide, obat ini awalnya digunakan untuk penanganan diabetes, tetapi kemudian penelitian menunjukkan efek menguntungkan dalam menurunkan berat badan. Liraglutide dilaporkan efektif menurunkan berat badan pasien obesitas sebesar 4-6% dari berat badan awal.

Liraglutide subkutan diberikan sekali sehari, dengan dosis awal 0,6 mg/hari, kemudian dosis ditingkatkan sebesar 0,6 mg setiap minggu hingga mencapai dosis pemeliharaan 3 mg/hari. Pada orang dewasa, respons terapi dievaluasi setelah 16 minggu sejak dimulainya pengobatan. Liraglutide perlu dihentikan apabila tidak terjadi penurunan berat badan minimal 4% dari berat badan awal.[1,7,10]

Phentermine/Topiramate

Phentermine, salah satu jenis amfetamin, merupakan inhibitor kuat dari transporter norepinefrin. Obat ini memiliki efek menekan nafsu makan melalui aktivasi neuron nukleus arkuata proopiomelanokortin pada hipotalamus (POMC). Sementara itu, topiramate merupakan obat golongan antiepilepsi yang juga memiliki efek menekan nafsu makan melalui modulasi kanal ion di otak.

Topiramate diketahui memiliki efek peningkatan aktivitas GABA. Oleh karenanya, topiramate juga dapat dijadikan terapi adjuvan sebagai mood stabilizer pada gangguan bipolar. Obesitas sering menjadi bagian dari masalah gangguan mental seperti bipolar, depresi, atau gangguan psikotik. Penggunaan topiramate pada pasien obesitas yang terbukti mengalami gangguan mental diketahui memberi dampak yang positif baik dari sisi psikiatri maupun penurunan berat badan.[8,11]

Dosis phentermine/topiramate bisa dimulai dari 3,75 mg/23 mg sekali sehari pada minggu ke-1 dan ke-2. Dosis dapat dinaikkan menjadi 7,5 mg/46 mg pada minggu ke-3 hingga ke-13. Jika penurunan berat badan ≥3% tercapai pada minggu ke-14, dosis 7,5 mg/46 mg dapat dilanjutkan. Dosis maksimal adalah 15 mg/92 mg per hari, tetapi perlu diingat bahwa penggunaan dosis di atas 7,5 mg/46 mg tidak dianjurkan pada pasien dengan disfungsi ginjal.[1]

Naltrexone/Bupropion

Naltrexone merupakan antagonis opioid dengan afinitas tinggi terhadap reseptor opioid di otak sehingga dapat menekan nafsu makan. Bupropion merupakan antidepresan atipikal yang bekerja dengan cara menginhibisi reuptake dopamin dan norepinefrin sehingga menghasilkan dampak anoreksia dari hipotalamus.

Kombinasi naltrexone/bupropion dilaporkan efektif menurunkan berat badan dibandingkan plasebo. Efek menguntungkan lain adalah menurunkan HbA1C sebesar 0,5%, meningkatkan HDL-C 3-5 mg/dl, menurunkan LDL-C 1-4 mg/dl, serta menurunkan trigliserida 11-15 mg/dl. Namun, terdapat risiko efek samping seperti kenaikan tekanan darah sistolik, peningkatan frekuensi nadi, mual, konstipasi, nyeri kepala, pusing, insomnia, mulut kering, dan diare.

Dosis standar yang telah ditetapkan untuk kombinasi naltrexone/bupropion adalah sebesar 8 mg/90 mg yang dibuat dalam bentuk extended release. Penggunaan dimulai dengan frekuensi awal sekali sehari, yang dapat ditingkatkan menjadi dua kali sehari.[1,8,12]

Cetilistat

Cetilistat masuk ke dalam golongan inhibitor lipase sehingga memiliki efek menurunkan penyerapan makanan berlemak di usus halus. Efek samping cetilistat lebih ringan dibandingkan orlistat. Namun, obat ini tidak tersedia di Indonesia. Dosis yang dianjurkan adalah 120 mg, 3 kali sehari, diberikan segera setelah makan.[4,13,14]

Lorcaserin

Lorcaserin merupakan obat golongan agonis serotonin selektif (tipe 2C) yang bekerja pada neuron POMC hipotalamus. Aktivasi reseptor serotonin 2C ini memberikan dampak penurunan nafsu makan sehingga dapat efektif dalam membantu mengurangi berat badan.

Lorcaserin pada mulanya disetujui penggunaannya secara klinis di Amerika Serikat pada 2012 silam, namun pada tahun 2020 awal lorcaserin ditarik dari pasar oleh FDA karena penelitian jangka panjang membuktikan bahwa penggunaan lorcaserin meningkatkan insidensi kanker, terutama kanker pankreas, kanker paru, dan kanker kolorektal.[8,15]

Sibutramine

Sibutramine merupakan selective serotonin -noradrenaline-dopamine inhibitor yang dapat memberikan efek menekan nafsu makan sambil meningkatkan pengeluaran energi. Suatu meta analisis menunjukkan bahwa konsumsi sibutramine selama 6 bulan dapat menurunkan berat badan hingga 4,2 kg.

Namun, pada kelompok yang mendapatkan sibutramine didapati adanya kenaikan tekanan darah yang signifikan sehingga ikut meningkatkan risiko terjadinya infark miokardium dan stroke. Dengan demikian, penggunaan sibutramine telah dilarang di Amerika Serikat dan Eropa.[13,16]

Teh Hijau, Kopi, dan Anggur

Beberapa penelitian menyatakan bahwa senyawa epigallocatechin, chlorogenic acid, serta resveratrol yang masing-masing ditemukan pada teh hijau, kopi, dan anggur memiliki potensi antiinflamasi yang juga berdampak pada penurunan berat badan. Namun, bukti ilmiah terkait manfaat senyawa-senyawa ini pada pasien obesitas masih belum adekuat.[17,18]

Tabel 1. Rangkuman Pilihan Farmakoterapi Obesitas

Nama Obat Dosis Lazim Potensi Efek Samping
Semaglutide Minggu 1–4: 0,25 mg/minggu subkutan Efek gastrointestinal (mual, muntah, diare), nyeri kepala, fatigue, peningkatan denyut jantung
Minggu 5–8: 0,5 mg/minggu subkutan
Minggu 9–12: 1 mg/minggu subkutan
Minggu 13–16: 1,7 mg/minggu subkutan
Minggu 17+: 2,4 mg/minggu subkutan
Tirzepatide Minggu 1–4: 2,5 mg/minggu subkutan Efek gastrointestinal seperti mual, muntah, diare, dispepsia
Minggu 5–8: 5 mg/minggu subkutan
Minggu 9–12: 7.5 mg/minggu subkutan
Minggu 13–16: 10 mg/minggu subkutan
Minggu 17–20: 12,5 mg/minggu subkutan
Minggu 21+: 15 mg/minggu subkutan
Orlistat 120 mg 3 kali sehari. Feses berminyak, sering buang angin, urgensi saat buang air besar, peningkatan frekuensi buang air besar
Phentermine/topiramate Minggu 1–2: 3,75/23 mg per hari Parestesia, mulut kering, nyeri kepala, konstipasi, gangguan pengecapan, gangguan kognitif
Minggu 3–13: 7,5/46 mg per hari
Minggu 14–15: 11,25/69 mg per hari
Minggu 16+: 15/92 mg per hari
Naltrexone/Bupropion 8 mg/90 mg sekali sehari Efek gastrointestinal (mual, muntah, konstipasi), nyeri kepala, pusing, mulut kering
Liraglutide Minggu ke-1: 0,6 mg/hari subkutan Efek gastrointestinal (mual, muntah, diare), nyeri kepala, fatigue, peningkatan denyut jantung
Minggu ke-2: 1,2 mg/hari subkutan
Minggu ke-3: 1,8 mg/hari subkutan
Minggu ke-4: 2,4 mg/hari subkutan
Minggu ke-5+: 3 mg/hari subkutan

Sumber: dr.Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[1]

Perhatian Khusus dalam Pemberian Farmakoterapi untuk Obesitas

Beberapa hal yang harus dicermati oleh dokter saat memberikan farmakoterapi pada obesitas adalah:

  • Farmakoterapi pada obesitas digunakan sebagai bagian dari pendekatan komprehensif yang mencakup diet dengan pembatasan kalori dan peningkatan aktivitas fisik, bukan sebagai terapi tunggal.
  • Keputusan memulai farmakoterapi perlu dilakukan setelah obat, manfaat, risiko, serta kemungkinan pengaruhnya terhadap motivasi pasien dalam menurunkan berat badan dibahas secara menyeluruh. Saat obat diresepkan, pasien juga perlu mendapatkan edukasi, dukungan, dan konseling mengenai modifikasi gaya hidup.
  • Apabila terdapat kekhawatiran bahwa asupan mikronutrien tidak mencukupi, dapat dipertimbangkan pemberian suplemen yang mengandung vitamin dan mineral sesuai angka kecukupan nutrisi yang direkomendasikan.
  • Pada pasien yang menghentikan penggunaan obat, tetap perlu diberikan dukungan dan intervensi untuk mempertahankan berat badan yang telah berhasil diturunkan, karena penghentian farmakoterapi dapat meningkatkan risiko kenaikan berat badan kembali.
  • Selama terapi, pasien perlu menjalani pemantauan secara berkala untuk menilai efektivitas dan efek obat. Pada setiap evaluasi, tenaga kesehatan juga perlu memperkuat edukasi terhadap diet, aktivitas fisik, serta regimen pengobatan.
  • Pada pasien dengan diabetes, penetapan target penurunan berat badan perlu mempertimbangkan bahwa kecepatan penurunan berat badan dapat lebih lambat dibandingkan individu tanpa diabetes.[2]

Kesimpulan

Farmakoterapi merupakan salah satu komponen dalam tata laksana obesitas yang digunakan sebagai tambahan terhadap diet rendah kalori, peningkatan aktivitas fisik, dan modifikasi perilaku. Farmakoterapi dapat diberikan terutama pada pasien dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥30 kg/m², atau pasien dengan IMT ≥27 kg/m² yang memiliki komorbiditas terkait berat badan seperti diabetes dan hipertensi.

Beberapa pilihan farmakoterapi untuk penanganan obesitas meliputi semaglutide, tirzepatide, liraglutide, orlistat, phentermine/topiramate, dan naltrexone/bupropion. Di sisi lain, cetilistat, lorcaserin, dan sibutramine kurang dianjurkan karena berbagai alasan, seperti ketersediaan yang jarang dan adanya risiko efek samping berat.

Dalam memberikan farmakoterapi pada pasien obesitas, efektivitas terapi juga harus dievaluasi secara berkala. Secara umum, obat perlu dihentikan apabila tidak menghasilkan penurunan berat badan yang bermakna dalam periode evaluasi yang ditetapkan. Selain pemantauan berat badan, dokter perlu memperhatikan kepatuhan, efek samping, kecukupan nutrisi, serta perubahan perilaku pasien.

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi