Red Flags Anak Tertelan Benda Asing

Oleh :
dr.Bedry Qintha

Red flags anak yang tertelan benda asing penting dikenali agar dokter bisa membedakan mana kasus yang memerlukan intervensi lanjutan dan yang tidak. Perlu diketahui bahwa kebanyakan kasus anak tertelan benda asing adalah kasus risiko rendah yang tidak memerlukan pencitraan atau intervensi lanjutan. Adapun risiko tinggi adalah kasus dengan kegawatdaruratan seperti tersedak, atau ketika ada risiko perforasi saluran cerna seperti tertelan baterai.[1]

Sekilas Tentang Kasus Tertelan Benda Asing pada Anak

Anak di bawah usia 5 tahun berisiko lebih tinggi tertelan benda asing karena anak usia ini sedang dalam fase eksplorasi oral. Anak usia ini cenderung menggigit atau mengunyah benda-benda kecil yang dapat tertelan secara tidak sengaja. Selain itu, anak dengan gangguan perkembangan, seperti gangguan spektrum autisme, juga memiliki risiko yang lebih tinggi karena adanya gangguan perilaku atau kognitif yang menyertai.

Asian,Cute,Baby,Holding,Toy,And,Trying,To,Eat,It,

Perilaku anak juga merupakan faktor penting. Anak yang sering menggigit kuku, menyedot jari, atau menempatkan benda kecil ke mulut memiliki risiko lebih tinggi tertelan benda asing. Selain itu, lingkungan sekitar anak juga dapat memengaruhi, yakni anak yang tinggal di lingkungan di mana ada akses mudah terhadap benda kecil yang berpotensi berbahaya, seperti mainan kecil atau benda rumah tangga, memiliki risiko lebih tinggi tertelan benda asing.[1,2]

Potensi Komplikasi dari Tertelan Benda Asing pada Anak

Salah satu komplikasi yang paling serius adalah obstruksi saluran napas. Benda asing yang tersangkut di saluran napas dapat menyebabkan sesak napas, sianosis, dan bahkan gagal napas jika tidak segera diatasi. Hal ini dapat mengancam jiwa dan memerlukan tindakan darurat seperti manuver Heimlich atau pengelolaan saluran napas lanjut.

Selain itu, benda asing yang tertelan juga dapat menyebabkan kerusakan organ internal. Misalnya jika anak tertelan benda tajam, seperti paku atau sekrup, yang dapat merobek atau menusuk organ saluran cerna. Benda asing yang tertelan juga dapat menjadi fokus infeksi. Infeksi dapat menyebabkan gejala seperti demam, nyeri perut, atau tanda lokal infeksi di sekitar area di mana benda asing berada.

Benda asing yang tertelan juga dapat menyebabkan peradangan pada saluran pencernaan, menghasilkan gejala seperti muntah, nyeri abdomen, atau dispepsia. Kadang-kadang, benda asing yang tertelan dapat terjebak di usus dan menyebabkan obstruksi usus, yang memerlukan tindakan bedah.[1-3]

Jenis Benda Asing yang Tertelan

Beberapa jenis benda asing memiliki risiko lebih tinggi untuk menimbulkan masalah serius pada anak jika tertelan. Beberapa contoh benda asing yang berpotensi berbahaya meliputi baterai, lebih dari satu magnet, objek tajam, dan objek yang panjang. Di lain pihak, koin dan tulang ikan lebih jarang menimbulkan masalah dan bisa dilakukan observasi dulu selama 24 jam sebelum memutuskan melakukan intervensi.[1]

Baterai:

Baterai kecil, terutama baterai bulat kecil (baterai jam), dapat melekat pada dinding saluran pencernaan dan menyebabkan kerusakan jaringan atau korosi. Hal ini dapat mengakibatkan perforasi atau perdarahan internal, serta peritonitis dan sepsis.

Magnet:

Jika anak tertelan satu magnet, kemungkinan magnet ini dapat dikeluarkan melalui feses. Meski demikian, jika anak tertelan lebih dari satu magnet atau magnet tertelan bersama benda logam, maka mereka dapat menarik satu sama lain melalui dinding usus atau organ dalam lain. Ini dapat menyebabkan penjepitan atau nekrosis pada organ saluran cerna, serta dapat menghasilkan komplikasi serius seperti obstruksi usus atau perforasi.

Objek Tajam:

Objek tajam, seperti peniti dan paku atau baut, dapat menyebabkan ulserasi atau perforasi pada dinding saluran pencernaan. Hal ini dapat mengakibatkan perdarahan internal, peritonitis, atau obstruksi usus.

Objek Panjang atau Besar:

Benda panjang diartikan sebagai berukuran lebih dari 4–5 cm pada bayi dan anak kecil, atau lebih dari 6–10 cm pada anak lebih besar. Benda besar dan lebar diartikan sebagai benda dengan diameter >2 cm pada bayi dan anak kecil, atau >2,5 cm diameter pada anak yang lebih besar. Benda seperti ini berisiko tinggi menyebabkan perforasi atau obstruksi pada saluran cerna.[1,4]

Red Flag Anak Tertelan Benda Asing

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kebanyakan kasus anak tertelan benda asing tidak memerlukan pencitraan atau intervensi lebih lanjut. Kebanyakan benda asing yang tertelan dapat dikeluarkan secara spontan melalui feses.

Meski demikian, adanya red flags atau tanda bahaya berikut mengindikasikan keperluan pemeriksaan dan intervensi lanjutan:

  • Tertelan baterai, terutama baterai bulat kecil yang tersangkut di esofagus
  • Tertelan magnet beserta benda logam, atau tertelan lebih dari satu magnet
  • Tertelan benda tajam di esofagus, misalnya peniti atau jarum
  • Tertelan benda berbahan dasar timbal yang tidak bisa melewati lambung
  • Tertelan benda besar atau panjang
  • Tertelan benda asing yang dapat membesar jika terkena air, misalnya water beads dari bahan polimer superabsorben
  • Tertelan benda multi komponen, misalnya mainan dengan lampu, motor, dan baterai
  • Objek yang tertelan tersangkut di orofaring atau menyebabkan obstruksi napas.[1,5]

Penanganan Kasus Anak Tertelan Benda Asing

Anak dari segala usia dapat mengalami kasus tertelan benda asing, tetapi kasus terbanyak terjadi pada usia 6 bulan hingga 3 tahun. Obstruksi atau impaksi saluran cerna akibat benda asing cukup jarang terjadi dan biasanya benda asing bisa dikeluarkan dengan baik melalui feses. Meski begitu, tingkat risiko bergantung pada sifat fisik benda, termasuk ukuran, bentuk, dan komposisi benda.[5]

Anamnesis

Hal utama yang harus dilakukan pada anamnesis adalah mengklarifikasi tipe objek dan kapan objek tertelan. Evaluasi juga adanya gejala gastrointestinal, seperti mengiler, gangguan menelan, penurunan asupan oral, nyeri perut, muntah, serta perdarahan saluran cerna. Jika ada gejala saluran napas seperti tersedak, batuk, dan distress napas, maka curigai adanya inhalasi benda asing.

Dari segi objek yang tertelan, pastikan bagaimana ukuran objek, bentuknya, serta bahan pembuatnya. Pada kebanyakan kasus, objek yang tertelan anak bisa keluar spontan saat defekasi, tetapi ada beberapa objek yang membawa risiko lebih tinggi seperti telah dijabarkan di atas.

Evaluasi juga apakah anak memiliki gangguan gastrointestinal yang sudah ada sebelumnya yang mungkin menyulitkan keluarnya benda asing, misalnya striktur pada saluran cerna. Adanya esofagitis eosinofilik, penyakit neuromuskular, dan malformasi kongenital juga akan meningkatkan risiko impaksi atau obstruksi benda asing.[1,5]

Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik, cari tanda kegawatdaruratan seperti gangguan saluran napas atau distres napas akibat obstruksi. Periksa orofaring untuk menilai adanya mengiler berlebihan, abrasi, ulkus, atau laserasi.

Lakukan juga pemeriksaan pada esofagus dan laring untuk menilai apakah benda asing tersangkut pada area tersebut. Periksa juga abdomen untuk tanda peritonitis atau obstruksi, misalnya nyeri tekan atau defans muskular.[5]

Pemeriksaan Penunjang

Tidak semua kasus anak tertelan benda asing memerlukan pencitraan. Pencitraan bisa tidak diperlukan pada anak asimptomatik, pemeriksaan fisik normal, tidak memiliki kelainan gastrointestinal yang diketahui, dan bisa makan dan minum, terutama jika benda yang ditelan kecil atau berisiko rendah (bukan magnet atau baterai, tidak dapat mengembang atau membesar, dan tidak beracun).

Pencitraan diperlukan jika:

  • Anak diduga atau diketahui mengonsumsi baterai, magnet, atau objek radio-opaque dan berisiko tinggi lain
  • Benda yang tertelan tidak diketahui apa objeknya
  • Anak risiko tinggi (misal, memiliki kelainan gastrointestinal sebelumnya), atau anak tampak tidak sehat

Pemeriksaan awal bisa dilakukan dengan pencitraan rontgen abdomen. Pada anak yang lebih kecil, rontgen bisa dilakukan sekaligus untuk mencakup leher, dada dan perut. Pemeriksaan lain yang juga bisa dilakukan adalah endoskopi atau ultrasonografi.[1,5]

Penatalaksanaan

Benda asing yang kecil dan berisiko rendah biasanya akan dapat dikeluarkan secara spontan saat anak defekasi. Pada kasus risiko tinggi, intervensi lanjutan seperti pengambilan benda asing secara endoskopi atau pembedahan dapat diperlukan.

Pada anak yang tidak bergejala dan risiko rendah, pasien dapat dipulangkan dan diedukasi bahwa benda asing bisa keluar saat anak buang air. Minta pasien untuk kembali ke dokter jika anak mengalami gejala yang mengkhawatirkan seperti muntah, nyeri perut, dan tampak sakit.[1,5]

Koin:

Koin dapat dikeluarkan secara spontan pada 30% kasus, sehingga anak yang tertelan koin tanpa risiko komplikasi (asimptomatik, tidak ada riwayat gangguan saluran cerna, dan tidak ada tanda kegawatdaruratan) dapat menjalani observasi selama 12-24 jam sebelum melakukan intervensi tambahan. Pada kasus koin tersangkut di esofagus atas atau tengah, telah dilaporkan bahwa 60% memerlukan pengambilan secara endoskopi. Koin pada esofagus bawah atau yang telah melewati esofagus umumnya bisa keluar secara spontan.

Jika pengambilan secara endoskopi akan dilakukan, maka waktu yang disarankan adalah pada <24 jam setelah tertelan. Jika terdapat gejala seperti kesulitan menelan saliva atau gangguan pernapasan, maka pengambilan secara endoskopi harus dilakukan segera. Koin yang berukuran > 23,5 mm lebih berisiko mengalami impaksi, terutama pada balita.

Pada kasus di mana koin telah masuk ke lambung dan pasien asimptomatik, maka pasien dapat diobservasi berkala hingga koin keluar melalui feses. Rontgen serial sebaiknya dilakukan setiap 1-2 minggu hingga koin telah dipastikan keluar dari feses. Jika koin masih tetap berada di lambung setelah 2-4 minggu, maka pengambilan secara endoskopi sebaiknya dipertimbangkan. Pembedahan hanya dilakukan jika ada gejala obstruksi atau perforasi usus.[1,5]

Baterai:

Baterai dapat menyebabkan cedera serius akibat hidrolisis dan aksi hidroksida dan lithium pada mukosa saluran cerna. Lebih lanjut lagi, baterai bulat kecil (button battery) yang impaksi di esofagus bisa menyebabkan luka bakar dalam 4 jam. Atas dasar ini, button battery yang tersangkut di esofagus disarankan untuk diambil secara endoskopi dalam 2 jam setelah tertelan.

Di sisi lain, rekomendasi terkait penanganan baterai yang sudah masuk ke lambung atau saluran cerna bawah lainnya masih berbeda-beda. Pada pasien yang simptomatik, sebagian pedoman menyarankan pengambilan segera melalui endoskopi. Sementara itu, pada pasien yang tidak menunjukkan gejala cedera gastrointestinal, observasi dapat dipertimbangkan. Pengambilan secara endoskopi disarankan jika baterai berukuran besar atau menetap selama lebih dari 48 jam.[1,5]

Magnet:

Hal yang perlu diperhatikan pada kasus anak yang tertelan magnet adalah jumlah magnet yang tertelan dan ada tidaknya benda metal yang ikut tertelan. Pada banyak kasus, jika anak menelan satu magnet berukuran kecil, maka terdapat kemungkinan magnet dikeluarkan secara spontan melalui feses. Meski begitu, saat mengevaluasi rontgen, dokter perlu berhati-hati karena magnet bisa saling menempel satu sama lain sehingga magnet dapat tampak seperti satu padahal ada multiple.

Jika beberapa magnet atau satu magnet disertai benda logam tertelan, risiko obstruksi, perforasi, dan nekrosis usus meningkat. Anak yang bergejala sebaiknya dirujuk ke spesialis bedah anak untuk menilai perlunya pembedahan atau observasi serial untuk memantau perkembangan pergerakan benda asing.[1,5]

Benda Tajam, Panjang, atau Besar:

Benda tajam berisiko menyebabkan perforasi saluran cerna. Tertelan benda tajam yang tersangkut di esofagus dianggap kegawatdaruratan karena berisiko tinggi perforasi dan migrasi, sehingga sangat disarankan untuk dikeluarkan secara endoskopi. Jika ujung tajam benda asing terlihat menghadap ke bagian proksimal, cara paling aman adalah mendorong benda asing ke dalam lambung dan memutar ujung tajamnya ke arah distal sebelum dikeluarkan.

Benda asing tajam atau runcing, benda panjang, atau benda besar dan lebar yang terletak di lambung, umumnya memerlukan pengangkatan secara endoskopi. Jika benda asing tajam telah masuk ke usus (distal ligamen Treitz), pembedahan dapat dipertimbangkan pada anak yang bergejala. Pada pasien tanpa gejala, disarankan untuk melakukan pemantauan serial.[1]

Referensi