Pada pasien dengan penyakit ginjal, penggunaan obat yang biasa dipakai sehari-hari dan adanya polifarmasi akan membawa risiko perburukan fungsi ginjal. Ini karena banyak obat dieliminasi melalui ginjal, sehingga penggunaan obat bisa meningkatkan beban ginjal dan menurunkan fungsi ginjal lebih lanjut. Selain itu, pasien dengan penyakit ginjal sering memiliki komorbid, seperti diabetes dan hipertensi, yang memerlukan polifarmasi dan juga meningkatkan beban ginjal.
Beberapa obat yang umum digunakan sehari-hari tetapi memerlukan perhatian khusus jika digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), beberapa golongan obat antihipertensi, proton pump inhibitor, metformin, allopurinol, acyclovir, cotrimoxazole, diuretik, lithium, dan SGLT2 inhibitor.[1,2]
1. Obat Antiinflamasi Nonsteroid (OAINS)
OAINS, seperti ibuprofen, naproxen, asam mefenamat, dan diklofenak, merupakan golongan obat analgesik dan antiinflamasi. Mekanisme kerjanya adalah menghambat enzim siklooksigenase, sehingga menurunkan sintesis prostaglandin.
Pada ginjal, prostaglandin berperan penting dalam mempertahankan aliran darah ginjal, terutama pada kondisi perfusi ginjal yang sudah menurun, seperti pada pasien dengan gangguan ginjal, dehidrasi, gagal jantung, atau usia lanjut. Penghambatan prostaglandin oleh OAINS dapat menyebabkan vasokonstriksi arteriol aferen, sehingga menurunkan perfusi ginjal dan laju filtrasi glomerulus.[3]
Penggunaan OAINS pada pasien dengan gangguan ginjal dapat meningkatkan risiko cedera ginjal akut, retensi cairan, hiperkalemia, serta perburukan fungsi ginjal kronis. Risiko ini lebih tinggi pada penggunaan jangka panjang, dosis tinggi, atau bila dikombinasikan dengan obat lain yang memengaruhi hemodinamik ginjal, seperti diuretik dan ACE inhibitor.
Oleh karena itu, penggunaan OAINS sebaiknya dihindari pada pasien dengan gangguan ginjal, dengan menggunakan obat alternatif seperti paracetamol. Jika penggunaan tidak dapat dihindari, obat diberikan dalam dosis terendah dan durasi sesingkat mungkin, disertai pemantauan fungsi ginjal dan edukasi pasien terkait risiko penggunaan OAINS bebas tanpa pengawasan medis.[3,4]
2. Angiotensin-Converting Enzyme Inhibitors (ACE-1) dan Angiotensin Receptor Blockers (ARB)
ACE-I dan ARB merupakan golongan obat yang digunakan untuk tata laksana hipertensi, gagal jantung, serta renoprotektif untuk pasien diabetes. Contoh obat golongan ACE-I adalah lisinopril dan captopril, sedangkan contoh obat golongan ARB adalah candesartan dan valsartan.
Kedua golongan obat ini bekerja dengan menghambat sistem renin–angiotensin–aldosteron, sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol eferen glomerulus. Pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, stenosis arteri renalis, dehidrasi, atau perfusi ginjal rendah, terjadinya penurunan tekanan filtrasi glomerulus dapat menurunkan laju filtrasi secara signifikan, yang akan meningkatkan kadar kreatinin dan hiperkalemia, terutama di awal terapi atau saat peningkatan dosis.
Risiko meningkat apabila obat dikombinasikan dengan diuretik atau OAINS. Meski demikian, beberapa studi menunjukkan bahwa ACE-I dan ARB tetap bermanfaat pada penyakit ginjal kronis, tetapi penggunaannya juga perlu disertai dengan pemantauan fungsi ginjal dan kadar kalium secara berkala. Pada pasien dengan insufisiensi ginjal, gunakan dosis awal yang rendah dan bisa dilakukan titrasi bertahap sesuai respons klinis.[5-7]
3. Proton Pump Inhibitors (PPI)
PPI, seperti lansoprazole dan omeprazole, merupakan golongan obat untuk menangani refluks gastroesofageal, gastritis, dan ulkus peptikum. Penggunaan jangka panjang PPI dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan ginjal, termasuk nefritis interstisial akut dan penurunan fungsi ginjal kronis.
Patomekanisme yang menyebabkan gangguan ginjal pada penggunaan PPI diduga berkaitan dengan timbulnya inflamasi pada jaringan interstisial ginjal dan penurunan kadar magnesium. Pada pasien yang sudah memiliki gangguan ginjal, PPI sebaiknya hanya diberikan jika ada indikasi klinis dan tidak ada terapi alternatif lain yang bisa digunakan. Selain itu, meskipun penyesuaian dosis tidak selalu diperlukan, pasien perlu menjalani evaluasi fungsi ginjal berkala.[8]
4. Metformin
Metformin merupakan obat lini pertama dalam tata laksana diabetes mellitus tipe 2. Obat ini diekskresikan terutama melalui ginjal, sehingga penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan akumulasi metformin di dalam tubuh. Adanya akumulasi metformin akan meningkatkan risiko terjadinya asidosis laktat.
Pada pasien dengan gangguan ginjal, penggunaan metformin perlu disesuaikan berdasarkan estimated glomerular filtration rate (eGFR). Penggunaan umumnya aman bagi pasien dengan eGFR >45 mL/menit. Meski begitu, metformin dikontraindikasikan pada pasien dengan eGFR <30 mL/menit. Jika sudah terlanjur digunakan, perlu berhati-hati, tetapi jangan memulai metformin pada pasien dengan eGFR 30-44 mL/menit.[9,10]
5. Allopurinol
Allopurinol merupakan obat untuk menurunkan kadar asam urat pada pasien dengan hiperurisemia dan gout. Obat ini bekerja dengan menghambat enzim xanthine oxidase, sehingga menurunkan produksi asam urat.
Allopurinol dan metabolit aktifnya, oxypurinol, diekskresikan melalui ginjal. Pada pasien dengan gangguan ginjal, ekskresi obat menjadi lambat sehingga meningkatkan risiko akumulasi dan efek samping, termasuk reaksi hipersensitivitas berat seperti allopurinol hypersensitivity syndrome (AHS).
Pada pasien dengan gangguan ginjal, dosis allopurinol perlu disesuaikan berdasarkan fungsi ginjal dan dimulai dari dosis rendah untuk mengurangi risiko toksisitas. Pemantauan fungsi ginjal, kadar asam urat, serta tanda reaksi hipersensitivitas perlu dilakukan selama terapi.[11,12]
Tabel 1. Modifikasi Dosis Allopurinol pada Gangguan Ginjal
| Klirens Kreatinin | Penyesuaian Dosis Allopurinol |
| 10-20 mL/menit | 200 mg/hari |
| 3-10 mL/menit | 100 mg/hari |
| <3 mL/menit | 100 mg/hari dengan penyesuaian interval (misalnya digunakan hanya 2 hari sekali) |
Sumber: Medscape, 2026.[19]
6. Acyclovir
Acyclovir merupakan obat antivirus yang sering digunakan untuk mengatasi infeksi virus herpes simpleks dan varicella-zoster. Obat ini diekskresikan terutama melalui ginjal, sehingga pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal, kadar acyclovir dapat meningkat. Akumulasi obat dapat menyebabkan nefrotoksisitas, melalui pembentukan kristal acyclovir di tubulus ginjal, sehingga menghambat aliran urin dan menimbulkan cedera ginjal akut.
Pada pasien dengan gangguan ginjal, dosis acyclovir perlu disesuaikan berdasarkan fungsi ginjal untuk mencegah akumulasi obat. Hidrasi yang adekuat penting untuk mengurangi risiko kristaluria, terutama pada pemberian acyclovir intravena dosis tinggi. Pemantauan fungsi ginjal dianjurkan selama terapi, terutama pada pasien usia lanjut, dehidrasi, atau penggunaan obat nefrotoksik lainnya.[13]
Tabel 2. Modifikasi Dosis Acyclovir pada Gangguan Ginjal
| Klirens Kreatinin | Dosis Acyclovir pada Pasien Tanpa Gangguan Ginjal | Penyesuaian Dosis Acyclovir |
| 10-25 mL/menit | 800 mg per oral, 5 kali sehari | 800 mg per oral, setiap 8 jam |
| 0-10 mL/menit | 800 mg per oral, 5 kali sehari | 800 mg per oral, setiap 12 jam |
| 400 mg per oral, setiap 12 jam | 200 mg per oral, setiap 12 jam | |
| 200 mg per oral, 5 kali sehari | 200 mg per oral, setiap 12 jam |
Sumber: Drugs.com, 2025.[20]
7. Cotrimoxazole
Cotrimoxazole merupakan antibiotik kombinasi sulfamethoxazole dan trimethoprim yang digunakan untuk tata laksana infeksi bakteri, seperti infeksi saluran kemih. Pada pasien dengan gangguan ginjal, obat ini dapat menyebabkan peningkatan kreatinin serum, hiperkalemia, serta risiko cedera ginjal akut.
Trimethoprim dapat menghambat sekresi kreatinin di tubulus ginjal sehingga kadar kreatinin tampak meningkat tanpa penurunan fungsi ginjal yang nyata, sedangkan sulfamethoxazole dapat memicu kristaluria dan nefritis interstisial. Pada pasien dengan gangguan ginjal, dosis cotrimoxazole perlu disesuaikan berdasarkan fungsi ginjal:
- Klirens kreatinin > 30 mL/menit: tidak perlu penyesuaian dosis
- Klirens kreatinin 15-30 mL/menit: kurangi dosis 50%
- Klirens kreatinin <15 mL/menit: jangan gunakan cotrimoxazole
Pemantauan kadar kreatinin, elektrolit (terutama kalium), dan status hidrasi penting dilakukan selama terapi, khususnya pada pasien usia lanjut atau yang menggunakan obat lain yang meningkatkan kadar kalium.[14,15,21]
8. SGLT2 Inhibitor
Obat golongan SGLT2 inhibitor, seperti empagliflozin, merupakan obat antidiabetik yang bekerja dengan menghambat sodium-glucose cotransporter-2 di tubulus proksimal ginjal, sehingga meningkatkan ekskresi glukosa melalui urin. Obat ini memiliki manfaat renoprotektif dan kardioprotektif, namun pada awal terapi dapat menyebabkan penurunan sementara laju filtrasi glomerulus akibat perubahan hemodinamik ginjal.
Risiko dehidrasi, hipotensi, dan gangguan ginjal akut dapat meningkat pada pasien dengan fungsi ginjal yang sudah menurun. Pada pasien dengan gangguan ginjal, penggunaan SGLT2 inhibitor perlu mempertimbangkan nilai laju filtrasi glomerulus (GFR). Fungsi ginjal dan status hidrasi perlu dipantau, terutama pada awal terapi atau saat pasien mengalami kondisi yang meningkatkan risiko dehidrasi.[16]
9. Diuretik
Diuretik merupakan obat yang digunakan untuk mengatasi retensi cairan, hipertensi, dan gagal jantung. Diuretik, seperti furosemide dan hydrochlorothiazide, bekerja dengan meningkatkan ekskresi natrium dan air melalui ginjal. Pada pasien dengan gangguan ginjal, penggunaan diuretik dapat menyebabkan dehidrasi, hipovolemia, gangguan elektrolit, dan penurunan perfusi ginjal. Risiko ini meningkat terutama pada penggunaan dosis tinggi atau kombinasi beberapa diuretik lainnya.
Pada pasien dengan gangguan ginjal, pemilihan jenis dan dosis diuretik perlu disesuaikan dengan fungsi ginjal serta kondisi volume cairan pasien. Pemantauan elektrolit, tekanan darah, dan fungsi ginjal perlu dilakukan selama terapi.[17]
10. Lithium
Lithium merupakan obat yang digunakan dalam terapi gangguan bipolar dan beberapa kondisi psikiatri lainnya. Obat ini diekskresikan melalui ginjal, sehingga gangguan fungsi ginjal dapat menyebabkan peningkatan kadar lithium dalam darah. Penggunaan jangka panjang lithium dikaitkan dengan nefropati tubulointerstisial kronis, diabetes insipidus nefrogenik, dan penurunan fungsi ginjal progresif.
Pada pasien dengan gangguan ginjal, lithium perlu digunakan dengan hati-hati dan dengan dosis lebih rendah. Penggunaan pada pasien dengan klirens kreatinin <30 mL/menit tidak dianjurkan. Pemantauan kadar lithium serum, fungsi ginjal, dan status cairan sangat penting untuk mencegah toksisitas. Risiko meningkat apabila lithium digunakan bersama obat lain yang meningkatkan beban ginjal, seperti diuretik dan OAINS.[18,22]
Kesimpulan
Gangguan fungsi ginjal memengaruhi proses farmakokinetik dan farmakodinamik obat, terutama dalam eliminasi dan metabolisme, sehingga meningkatkan risiko akumulasi obat, toksisitas, serta terjadinya efek samping yang dapat memperburuk kondisi pasien. Beberapa obat yang umum digunakan bisa membawa risiko yang lebih tinggi pada populasi dengan penyakit ginjal.
Sebagai contoh, obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti ibuprofen bisa menurunkan perfusi ginjal lebih lanjut pada pasien dengan insufisiensi ginjal. Selain itu, angiotensin-converting enzyme inhibitors (ACE-1) dan angiotensin receptor blockers (ARB) bisa menurunkan filtrasi glomerulus secara signifikan. Beberapa obat lain yang perlu berhati-hati jika digunakan pada pasien penyakit ginjal adalah metformin, lithium, proton pump inhibitor (PPI),diuretik, SGLT2 inhibitor, acyclovir, dan allopurinol.
