Diagnosis dan Penanganan Hipertensi Post-Partum

Oleh :
dr.Giovanny Azalia Gunawan

Hipertensi pada masa post-partum lebih sering terjadi pada wanita yang sebelumnya sudah mengalami gangguan hipertensi saat kehamilan, seperti preeklampsia, tetapi bisa juga muncul secara baru (de novo) pada periode post-partum. Hipertensi post-partum adalah peningkatan tekanan darah yang terjadi setelah 48 jam pasca melahirkan. Tekanan darah tinggi ini dapat menetap hingga 6 minggu pasca melahirkan atau lebih.[1-3]

Membedakan Hipertensi yang Berkaitan dengan Hipertensi Antenatal dari Hipertensi Onset Baru Setelah Persalinan

Seperti telah disebutkan sebelumnya, hipertensi pada masa post-partum bisa disebabkan oleh hipertensi yang berkembang selama kehamilan (antenatal hypertensive disorders) dan hipertensi yang muncul secara baru setelah persalinan (de novo).

HipertensiPostpartum

Hipertensi yang berkembang selama kehamilan, seperti preeklampsia atau hipertensi gestasional, cenderung mempengaruhi wanita yang memiliki riwayat hipertensi sebelumnya atau yang memiliki faktor risiko seperti obesitas atau riwayat keluarga dengan hipertensi. Gejala mencakup adanya tekanan darah tinggi yang terdeteksi selama kehamilan, protein dalam urin, edema signifikan, sakit kepala berat, dan gangguan penglihatan. Pasca persalinan, kondisi ini bisa membaik, tetapi perlu dipantau karena masih ada risiko terjadinya komplikasi seperti eklampsia.

Sementara itu, hipertensi post-partum de novo adalah kondisi di mana tekanan darah tinggi muncul setelah persalinan pada wanita yang sebelumnya tidak memiliki riwayat gangguan tekanan darah tinggi selama kehamilan. Gejala bisa bervariasi dari gejala ringan hingga berat, termasuk sakit kepala, gangguan penglihatan, nyeri dada, dan sesak napas. Faktor risiko untuk hipertensi de novo termasuk obesitas, riwayat keluarga dengan hipertensi, dan usia yang lebih tua.[1-3]

Temuan Klinis Hipertensi Post-Partum

Keluhan yang dirasakan dapat bervariasi mulai dari tidak bergejala (asimtomatik) hingga gejala berat. Keluhan yang paling sering dirasakan adalah nyeri kepala. Keluhan ini dirasakan hampir 60-70% wanita. Keluhan lain yang dapat dirasakan yaitu sesak napas, nyeri dada, dan edema perifer. Keluhan sesak yang dirasakan biasanya akibat adanya edema paru karena overload cairan.

Gangguan penglihatan juga bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam penegakkan diagnosis hipertensi post-partum. Ini dapat berupa penglihatan kabur hingga mengalami buta sementara.[1,4]

Temuan Pemeriksaan Fisik dan Penunjang

Pemeriksaan fisik utama untuk mendiagnosis hipertensi post-partum adalah pengukuran tekanan darah. Batas tekanan darah yang dimaksud yaitu sistolik ≥140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg. Pemeriksaan ini dapat diulang dengan interval 15 menit.[3,5]

Pemeriksaan fisik secara umum juga dapat dilakukan, khususnya terkait keluhan edema, baik pada ekstremitas maupun paru. Pemeriksaan spesifik target organ seperti pemeriksaan mata juga dapat dilakukan apabila terjadi pandangan kabur yang berkelanjutan atau bahkan kebutaan.[6,7]

Pemeriksaan penunjang hanya diperlukan pada pasien dengan tanda dan gejala yang mengarah pada adanya komplikasi. Pemeriksaan penunjang bisa berupa rontgen toraks untuk mengidentifikasi edema paru pada pasien yang mengalami sesak napas. CT scan atau MRI juga dapat dilakukan jika ada kecurigaan perdarahan serebral pada pasien yang mengalami kejang, nyeri kepala hebat, atau perubahan status mental. Pemeriksaan penunjang EKG dapat dilakukan jika ada kecurigaan kelainan irama jantung, iskemia miokard, atau tanda gagal jantung.[8,9]

Diagnosis Banding Hipertensi Post-Partum

Hipertensi yang ditemukan pada masa post-partum perlu dibedakan dari hipertensi gestasional dan hipertensi kronis. Evaluasi juga adanya komplikasi seperti penyakit serebrovaskular.[1,10,11]

Hipertensi Gestasional

Hipertensi gestasional merupakan hipertensi yang terjadi pada ibu hamil dengan usia kehamilan > 20 minggu tanpa adanya proteinuria dan gejala berat. Pada hipertensi gestasional, tekanan darah akan otomatis kembali normal pasca melahirkan.[2]

Hipertensi Kronis

Hipertensi kronis adalah hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan atau pada usia kehamilan < 20 minggu. Hipertensi kronis ini biasanya berhubungan dengan adanya riwayat hipertensi sebelumnya, riwayat keluarga, atau pola hidup yang kurang baik (merokok, obesitas).[10]

Penanganan Hipertensi Post-Partum

Tata laksana hipertensi post-partum bertujuan untuk mengontrol tekanan darah pasca melahirkan. Terapi yang diberikan yaitu obat antihipertensi.[1]

Antihipertensi

Antihipertensi dapat diberikan per oral atau intravena. Seorang wanita dengan hipertensi post-partum yang tidak bergejala dan tekanan darah < 160/110 mmHg dapat dirawat jalan dengan pemberian antihipertensi oral. Pastikan memilih obat yang aman untuk menyusui, seperti:

  • Labetalol 100-200 mg 2 kali sehari per oral

  • Nifedipine lepas lambat 20-30 mg sekali sehari per oral

  • Enalapril 5-10 mg 2 kali sehari per oral[1,12,14]

Pada tekanan darah ≥160/110 mmHg antihipertensi yang dapat diberikan antara lain:

  • Hydralazine 5-10 mg diberikan intravena bolus selama 2 menit
  • Labetalol 20-40 mg diberikan intravena bolus selama 2 menit; atau labetalol oral 100-600 mg 2-3 kali/hari
  • Amlodipine 5-10 mg sekali sehari[1,12,15]

Wanita dengan hipertensi post-partum kontinyu, yang didefinisikan sebagai 2 atau lebih tekanan darah sistolik ≥150 mmHg dan atau tekanan darah diastolik ≥ 100 mmHg, harus diberikan obat antihipertensi oral jangka panjang. Nifedipine oral dan labetalol oral paling sering digunakan.[15]

Pencegahan Kejang

Pemberian magnesium sulfat bertujuan sebagai profilaksis terjadinya kejang post-partum dan diindikasikan pada pasien dengan tanda klinis yang mengarah ke preeklampsia berat, seperti ibu pasca melahirkan yang mengalami peningkatan tekanan darah disertai nyeri kepala hebat dan pandangan kabur yang merupakan predisposisi terjadinya kejang. Kejang umumnya terjadi dalam 48 jam hingga 1 minggu pasca melahirkan.[1]

Diuretik

Salah satu tanda yang bisa didapatkan pada ibu dengan hipertensi post-partum adalah edema perifer. Selain edema perifer, dapat juga ditemukan sesak napas akibat edema paru. Hal ini terjadi akibat kadar natrium yang tinggi dan meningkatnya volume intravaskular yang menyebabkan peningkatan preload jantung dan cardiac output.

Diuretik merupakan agen yang bertujuan untuk membuang cairan berlebih dalam tubuh. Diuretik dapat diberikan per oral maupun intravena dengan tetap melakukan pemantauan pada produksi urin dan serum elektrolit. Obat yang dapat diberikan yaitu hydrochlorothiazide (HCT) dengan dosis maksimal 50 mg/hari agar tidak mengganggu produksi air susu ibu.[1,4,13]

Kesimpulan

Peningkatan tekanan darah post-partum dapat disebabkan oleh adanya hipertensi yang terjadi selama kehamilan, hipertensi kronis, maupun hipertensi awitan baru (de novo). Keluhan yang dirasakan sama, yakni bisa asimtomatik, nyeri kepala, gangguan visual, maupun adanya hipertensi saat pemeriksaan. Telaah riwayat medis dapat membantu memperkirakan luaran klinis dari tekanan darah tinggi.

Komplikasi dari hipertensi post-partum mencakup edema ekstremitas dan edema paru yang menimbulkan sesak napas. Kejang juga bisa terjadi akibat eklamsia. Proteinuria bisa didapatkan pada pasien dengan preeklampsia.

Untuk menangani hipertensi post-partum, dokter dapat memberikan obat antihipertensi. Obat yang dipilih harus yang aman untuk menyusui, seperti labetalol, nifedipine, dan enalapril. Pada kasus diperlukannya penurunan tekanan darah segera akibat adanya kerusakan organ target (end organ damage), bisa diberikan labetalol intravena ataupun hydralazine intravena.

Magnesium sulfat dapat diberikan pada pasien yang dicurigai berisiko kejang, seperti pasien dengan tanda klinis ke arah preeklampsia berat. Selain itu, diuretik dapat bermanfaat pada pasien yang mengalami edema perifer ataupun edema paru.

Referensi