Terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT) pada wanita menopause digunakan untuk mengatasi gejala-gejala yang diakibatkan oleh menopause, seperti hot flashes maupun kehilangan massa tulang yang berisiko menyebabkan fraktur. Walau demikian, penggunaan HRT ini masih mengundang perdebatan dari segi keamanan, termasuk peningkatan insidensi kanker.[1-3]
Akan tetapi, publikasi tahun 2026 menyatakan bahwa bukti ilmiah terkini secara konsisten menunjukkan bahwa manfaat HRT jauh lebih tinggi daripada risiko pada mayoritas wanita yang memenuhi indikasi. Manfaat terapi paling menguntungkan pada wanita berusia <60 tahun atau dalam 10 tahun sejak menopause, terutama bila tidak memiliki kontraindikasi.[3,4]
Terapi Sulih Hormon pada Menopause
Menopause merupakan berhentinya menstruasi secara permanen setelah 12 bulan amenore akibat penurunan fungsi ovarium. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai gejala, terutama gejala vasomotor seperti hot flashes serta gejala genitourinaria akibat penurunan estrogen, yang pada sebagian wanita dapat mengganggu kualitas hidup.[1,2,5]
Penurunan estrogen juga berkontribusi terhadap percepatan kehilangan massa tulang dan peningkatan risiko osteoporosis serta fraktur setelah menopause. Sementara itu, risiko penyakit kardiovaskular dan gangguan kesehatan lainnya meningkat seiring bertambahnya usia dan faktor risiko yang menyertainya, sehingga evaluasi kesehatan wanita menopause perlu dilakukan secara menyeluruh.[1,2,4,5]
HRT digunakan terutama untuk mengatasi gejala menopause dan dapat membantu mencegah kehilangan massa tulang serta fraktur pada wanita yang sesuai indikasi. HRT tersedia dalam berbagai formulasi dan rute pemberian, termasuk estrogen sistemik, kombinasi estrogen-progestogen pada wanita dengan uterus, serta estrogen vaginal dosis rendah untuk gejala genitourinaria.[4,6,7]
Kontroversi Pemberian Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause
Penggunaan HRT sempat menimbulkan kekhawatiran luas mengenai keamanan, terutama setelah publikasi Women's Health Initiative (WHI). Namun, bukti selanjutnya menunjukkan bahwa hasil tersebut tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh wanita menopause karena profil manfaat dan risiko HRT dipengaruhi oleh usia, waktu sejak menopause, kondisi klinis, serta jenis, dosis, dan rute pemberian terapi.[3,8]
Saat ini, HRT tidak lagi dipandang sebagai terapi yang memiliki risiko seragam pada semua wanita menopause. Pada wanita berusia <60 tahun atau dalam 10 tahun sejak menopause yang memiliki gejala mengganggu dan tidak memiliki kontraindikasi, rasio manfaat-risiko umumnya lebih menguntungkan. Keputusan terapi tetap perlu dilakukan secara individual melalui shared decision-making dengan mempertimbangkan manfaat, risiko, pilihan terapi, dan preferensi pasien.[3,4]
Prinsip dan Indikasi Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause
HRT diberikan untuk menggantikan estrogen yang menurun selama menopause, terutama pada wanita dengan gejala menopause yang mengganggu. HRT merupakan terapi paling efektif untuk gejala vasomotor dan juga dapat mencegah kehilangan massa tulang serta menurunkan risiko fraktur.[1,2,4]
Pada wanita dengan uterus yang masih intak, estrogen sistemik perlu dikombinasikan dengan progestogen untuk melindungi endometrium dari hiperplasia dan kanker. Sebaliknya, wanita yang telah menjalani histerektomi umumnya dapat menggunakan estrogen tanpa progestogen.[8,13] Estrogen vaginal dosis rendah dapat digunakan untuk gejala genitourinaria menopause, terutama bila terapi sistemik tidak diperlukan.[4,9]
Pemilihan jenis, dosis, dan rute pemberian HRT perlu disesuaikan dengan kondisi klinis, faktor risiko, tujuan terapi, dan preferensi pasien. Rute transdermal dapat dipertimbangkan pada wanita dengan faktor risiko tromboemboli atau kardiovaskular tertentu. HRT tidak direkomendasikan semata-mata untuk pencegahan penyakit kardiovaskular, stroke, atau demensia.[4]
Efikasi Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause
Tinjauan Cochrane (2017) mengevaluasi 22 studi dengan total 43.637 partisipan. Terapi sulih hormon terbukti efektif mengatasi gejala vasomotor, tetapi penggunaannya juga dikaitkan dengan peningkatan risiko tromboemboli vena dan stroke pada regimen tertentu.
Terapi kombinasi estrogen-progestogen juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara, sedangkan terapi estrogen saja dapat menurunkan risiko fraktur.[6]
Namun, telah dipublikasikan tinjauan Cochrane terbaru (2025) yang mencakup 24 studi dengan 45.660 partisipan. Pada terapi kombinasi estrogen-progestogen, tidak ditemukan perbedaan bermakna pada kejadian koroner, tetapi terdapat kemungkinan peningkatan risiko stroke, tromboemboli vena, dan kanker payudara, serta penurunan risiko fraktur.
Pada terapi estrogen saja, risiko kejadian koroner, tromboemboli vena, dan kanker payudara tidak berbeda bermakna, sedangkan risiko stroke meningkat dan risiko fraktur menurun. Penulis menekankan bahwa sebagian besar bukti berasal dari studi dengan terapi oral dan wanita berusia >60 tahun, sehingga hasilnya perlu diinterpretasikan secara hati-hati untuk populasi wanita yang lebih muda.[10]
Systematic review dan network meta analysis tahun 2025 yang mencakup 41 uji acak terkontrol dengan 14.743 wanita menunjukkan bahwa berbagai terapi farmakologis efektif menurunkan frekuensi maupun keparahan gejala vasomotor. Terapi estrogen, termasuk estrogen terkonjugasi dan estradiol transdermal, termasuk terapi dengan efektivitas tinggi dalam mengurangi frekuensi hot flashes, dengan profil keamanan yang secara umum sebanding dengan plasebo pada sebagian besar terapi yang dievaluasi.[11]
Potensi Risiko Terapi Sulih Hormon pada Wanita Menopause
Terapi sulih hormon (HRT) memiliki potensi risiko yang berbeda menurut jenis terapi, usia saat memulai, lama penggunaan, serta rute pemberian. Kekhawatiran terhadap kanker payudara, penyakit kardiovaskular, dan stroke menjadi salah satu dasar pemberian boxed warning oleh FDA pada tahun 2003, yang kemudian berkontribusi terhadap penurunan penggunaan HRT secara luas.
Namun, publikasi dan evaluasi ilmiah berikutnya menunjukkan bahwa risiko HRT tidak dapat digeneralisasi pada seluruh wanita menopause karena sangat dipengaruhi oleh usia dan waktu dimulainya terapi.[3,8]
Pada November 2025, FDA memulai penghapusan sejumlah boxed warning pada produk terapi hormon menopause, termasuk peringatan terkait penyakit kardiovaskular, kanker payudara, dan kemungkinan demensia. Perubahan ini mencerminkan penilaian ulang terhadap bukti manfaat-risiko HRT dan pentingnya pendekatan yang lebih individual dalam menentukan terapi.[3]
Namun, perubahan regulasi tersebut bukan berarti HRT bebas risiko; beberapa peringatan, termasuk mengenai kanker endometrium pada penggunaan estrogen sistemik, tetap dipertahankan.[3]
Data Cochrane terbaru menunjukkan bahwa terapi kombinasi estrogen-progestogen dapat meningkatkan risiko tromboemboli vena, stroke, dan kanker payudara, sedangkan terapi estrogen saja kemungkinan meningkatkan risiko stroke tetapi tidak menunjukkan peningkatan bermakna pada kejadian koroner, tromboemboli vena, atau kanker payudara. Risiko dan manfaat tersebut perlu dipertimbangkan berdasarkan karakteristik pasien dan regimen yang digunakan.[10]
Kesimpulan
Terapi sulih hormon atau hormone replacement therapy (HRT) merupakan terapi paling efektif untuk mengatasi gejala vasomotor pada wanita menopause dan dapat membantu mencegah kehilangan massa tulang serta fraktur. Manfaat dan risiko HRT tidak sama pada setiap wanita, tetapi dipengaruhi oleh usia, waktu dimulainya terapi, jenis, dosis, dan rute pemberian serta kondisi klinis pasien.
Pada wanita berusia <60 tahun atau dalam 10 tahun sejak menopause, tanpa kontraindikasi, rasio manfaat-risiko HRT umumnya menguntungkan. Sebaliknya, inisiasi terapi pada usia yang lebih tua atau lebih dari 10 tahun sejak menopause memerlukan penilaian risiko yang lebih cermat. HRT tidak direkomendasikan semata-mata untuk mencegah penyakit kardiovaskular atau demensia.
Keputusan pemberian HRT perlu dilakukan secara individual melalui shared decision-making, dengan mempertimbangkan indikasi, faktor risiko, pilihan regimen dan rute terapi, serta preferensi pasien. Terapi perlu dievaluasi secara berkala untuk memastikan manfaat tetap lebih besar daripada risikonya.
Penulisan pertama oleh: dr. Yelvi Levani
Penulisan kedua oleh: dr. Utari Nur Alifah Suharto
