Hubungan antara pola makan dan onset menopause sudah diteliti, sebagai upaya untuk mencegah menopause dini. Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dapat mempercepat, sedangkan konsumsi sayur, kacang-kacangan, dan serat, dapat memperlambat onset menopause.
Menopause didefinisikan sebagai berhentinya menstruasi secara permanen, sekurang-kurangnya selama 12 bulan berturut-turut. Kondisi ini terjadi karena ovarium berhenti memproduksi estrogen. Penurunan kadar estrogen ini diikuti dengan peningkatan kadar progesteron.[1,2]
Onset Menopause
Onset usia menopause perempuan di beberapa negara berbeda-beda. Rerata usia menopause di Amerika dan Inggris adalah 51 tahun. Di negara-negara Asia, rerata usia menopause berbeda-beda mulai dari 49 tahun di Singapura dan Korea, 48 tahun di Manila, dan 46,8 tahun di India.[1,3,4]
Sementara itu, rerata usia menopause di Indonesia adalah 51 tahun. Onset menopause berhubungan dengan perubahan fisiologis dan faktor risiko penyakit tertentu pada perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa menopause yang terjadi pada usia yang lebih muda berhubungan dengan risiko penurunan densitas tulang, osteoporosis, depresi dan kematian yang lebih muda, dan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular.[4,5]
Sebaliknya, menopause yang terjadi pada usia yang lebih tua berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara, ovarium, dan endometrium.[4,5]
Faktor yang Berhubungan dengan Onset Menopause
Upaya untuk mencari faktor-faktor yang berhubungan dengan onset usia menopause sudah banyak dilakukan. Beberapa penelitian menemukan beberapa faktor yang dapat mempengaruhi usia menopause misalnya faktor genetik, sosiodemografi, perubahan hormonal, pajanan faktor lingkungan, gaya hidup dan pola makan.[5]
Penelitian lain menemukan beberapa faktor yang mempengaruhi usia menopause pada wanita adalah ras dan suku, indeks massa tubuh, pola makan terutama asupan kalori dan alkohol, dan merokok.[6]
Pola Makan dan Onset Menopause
Hubungan antara pola makan dan onset menopause telah banyak diteliti. Beberapa studi menunjukkan bahwa wanita dengan malnutrisi cenderung mengalami menopause sekitar 4 tahun lebih awal, sedangkan wanita dengan status gizi lebih baik cenderung mengalami menopause lebih lambat.[6]
Makronutrien
Jenis makronutrien berperan dalam menentukan waktu menopause. Konsumsi karbohidrat sederhana, seperti nasi putih, roti putih, dan makanan tinggi gula, dikaitkan dengan menopause yang lebih cepat, kemungkinan melalui efek metabolik dan stres oksidatif. Sebaliknya, asupan lemak sehat dan protein, terutama dari sumber nabati seperti kacang-kacangan, berhubungan dengan menopause yang lebih lambat karena berperan dalam menjaga keseimbangan hormon.[6-9]
Studi besar The UK Women’s Cohort Study (UKWCS) yang melibatkan 35.372 wanita usia 35–69 tahun menunjukkan bahwa konsumsi tinggi karbohidrat seperti nasi dan pasta dikaitkan dengan menopause lebih cepat sekitar 1,8 tahun, serta makanan ringan gurih sekitar 0,9 tahun. Sebaliknya, konsumsi minyak ikan dan kacang-kacangan segar dikaitkan dengan menopause yang lebih lambat, masing-masing sekitar 3,3 tahun dan 0,9 tahun.[5]
Mikronutrien
UKWCS juga menemukan bahwa asupan vitamin B6 dan zinc berhubungan dengan menopause yang lebih lambat.[5] Temuan ini diperkuat oleh penelitian tahun 2025 pada 3.566 wanita, yang menunjukkan bahwa konsumsi suplemen seperti minyak ikan, vitamin B kompleks, antioksidan, dan vitamin C berkaitan dengan menopause yang lebih lambat. Sebaliknya, konsumsi daging merah dan kebiasaan merokok dikaitkan dengan menopause yang lebih cepat.[11]
Secara umum, hasil ini menunjukkan bahwa pola makan dan gaya hidup berperan dalam proses penuaan reproduksi, meskipun hubungan yang ditemukan masih bersifat asosiasi dan memerlukan penelitian lebih lanjut.[11]
Pola Hidup Vegetarian
Studi UKWCS menunjukkan bahwa wanita non-vegetarian mengalami menopause sekitar 0,8 tahun lebih lambat dibandingkan vegetarian. Hal ini kemungkinan berkaitan dengan pola konsumsi makanan, di mana kelompok vegetarian lebih banyak mengonsumsi makanan ringan dan minuman manis yang berhubungan dengan menopause lebih dini.[5]
Pada kelompok tertentu, wanita nulipara yang mengonsumsi anggur dan daging unggas juga dilaporkan mengalami menopause lebih lambat, masing-masing sekitar 2,5 tahun dan 5,2 tahun.[6]
Pola Diet Mediterranean
Penelitian tahun 2024 pada 207 wanita menunjukkan bahwa pola makan sehat seperti Mediterranean diet tidak secara langsung memengaruhi beratnya gejala menopause, tetapi berhubungan dengan kualitas hidup yang lebih baik, terutama fungsi fisik.[12]
Selain itu, konsumsi minuman manis yang rendah serta asupan daging merah dan olahan yang lebih sedikit dikaitkan dengan keluhan yang lebih ringan dan persepsi kesehatan yang lebih baik.[12]
Penjelasan Hubungan Pola Makan dan Onset Menopause
Beberapa jenis makanan dapat mempercepat terjadinya menopause melalui pengaruhnya terhadap hormon reproduksi. Asupan serat yang tinggi, misalnya, dapat menurunkan kadar estrogen karena mengganggu sirkulasi enterohepatik hormon seks.
Penurunan estrogen ini dapat mempercepat proses penuaan ovarium. Selain itu, keseimbangan antara konsumsi serat dan daging juga berperan, karena pola makan yang berbeda dapat memengaruhi regulasi hormon melalui aksis hipotalamus–pituitari–ovarium.[6,9]
Sebaliknya, beberapa makanan dikaitkan dengan menopause yang lebih lambat. Konsumsi daging dan alkohol berhubungan dengan peningkatan aktivitas hormon LH dan FSH serta siklus menstruasi yang lebih panjang, sehingga dapat menunda menopause. Kedelai juga berperan dengan meningkatkan kadar estradiol dan memperpanjang fase folikular, sehingga membantu mempertahankan fungsi ovarium.
Selain itu, kacang-kacangan, vitamin B6, dan seng memiliki efek protektif karena kandungan antioksidannya yang dapat melindungi ovarium dari stres oksidatif. Mekanisme ini juga ditemukan pada asupan minyak ikan yang kaya asam lemak omega-3, yang membantu meningkatkan sistem antioksidan tubuh dan dikaitkan dengan perlambatan usia menopause.[5,9,10]
Kesimpulan
Pola makan memiliki peran dalam menentukan usia onset menopause, meskipun sebagian besar bukti masih bersifat asosiasi dan belum sepenuhnya konsisten. Secara umum, konsumsi tinggi karbohidrat sederhana dikaitkan dengan menopause yang lebih cepat, sedangkan asupan kacang-kacangan, minyak ikan, vitamin B kompleks, antioksidan, dan vitamin C cenderung berhubungan dengan menopause yang lebih lambat.
Sebaliknya, konsumsi daging merah dan kebiasaan merokok dilaporkan berkaitan dengan menopause yang lebih dini. Selain itu, kualitas pola makan secara keseluruhan juga berhubungan dengan kualitas hidup pada wanita perimenopause dan menopause.
Namun, onset menopause tidak hanya dipengaruhi oleh pola makan. Faktor lain seperti indeks massa tubuh, genetik, serta gaya hidup juga berperan penting. Oleh karena itu, dokter perlu memberikan edukasi yang komprehensif agar pasien dapat memahami dan memodifikasi faktor risiko yang dapat mempercepat terjadinya menopause.
Direvisi oleh: dr. Hudiyati Agustini
