Comparative Effectiveness And Safety Of Eplerenone And Spironolactone In Patients With Heart Failure: A Systematic Review And Meta-Analysis
Elshahat A, Mansour A, Ellabban M, et al. BMC Cardiovasc Disord. 2024. 24(1):489. doi: 10.1186/s12872-024-04103-7.
Abstrak
Latar Belakang: Eplerenone dan spironolactone, yang dikenal sebagai antagonis reseptor mineralokortikoid (MRA), telah dilaporkan dapat memperbaiki prognosis klinis pada individu yang didiagnosis menderita gagal jantung (HF). Namun, perbedaan efek klinis antara eplerenone dan spironolactone pada individu dengan gagal jantung masih belum jelas. Studi ini bertujuan untuk membandingkan dampak luaran klinis eplerenone dengan spironolactone pada pasien gagal jantung.
Metode: Pencarian ekstensif dilakukan di beberapa basis data (PubMed, Web of Science, Scopus, Cochrane Library). Semua studi relevan yang mengevaluasi eplerenone dibandingkan dengan spironolactone pada pasien gagal jantung diikutsertakan.
Data dikotomis dikumpulkan sebagai Hazard ratio (HR) atau Risk ratio (RR) dengan interval kepercayaan (CI) 95%. Luaran primer adalah angka kematian dari semua penyebab (all-cause mortality). Luaran sekunder meliputi kematian akibat penyebab kardiovaskular, penghentian pengobatan, dan ginekomastia.
Hasil: Total 10 studi yang mencakup 21.930 individu dengan gagal jantung, disertakan dalam studi ini. Eplerenone menunjukkan risiko yang lebih rendah terhadap kematian dari semua penyebab (HR = 0,78, P = 0,009) dan kematian kardiovaskular (HR = 0,54, P = 0,0001) jika dibandingkan dengan spironolactone.
Selain itu, pemberian eplerenone menunjukkan risiko penghentian pengobatan (RR = 0,69, P = 0,0001) maupun risiko ginekomastia (RR = 0,07, P = 0,0001) yang lebih rendah jika dibandingkan dengan spironolactone.
Kesimpulan: Pemberian eplerenone menunjukkan risiko kematian segala sebab dan kematian kardiovaskular lebih rendah dibandingkan spironolactone. Selain itu, eplerenone dikaitkan dengan kejadian ginekomastia dan penghentian pengobatan lebih rendah dibandingkan spironolactone. Randomized controlled trials (RCT) lebih lanjut yang dirancang dengan baik masih diperlukan untuk mengidentifikasi perbedaan klinis antara eplerenone dan spironolactone.
Ulasan Alomedika
Pedoman American College of Cardiology (ACC) merekomendasikan pemberian MRA, seperti eplerenone dan spironolactone, pada semua pasien gagal jantung simptomatik termasuk pasien dengan mildly reduced ejection fraction (HFmrEF) dan reduced ejection fraction (HFrEF). Meski eplerenone dan spironolactone sama-sama MRA, eplerenone lebih selektif dan mempunyai afinitas lebih kuat terhadap reseptor mineralokortikoid dibandingkan spironolactone.
Bukti klinis terkait efikasi antara eplerenone dan spironolactone masih kurang dan masih menunjukkan hasil bervariasi meski eplerenone sedikit diunggulkan. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi perbandingan dampak klinis antara kedua obat tersebut secara komprehensif melalui tinjauan sistematik dan meta analisis.
Ulasan Metode Penelitian
Studi ini merupakan tinjauan sistematik dan meta analisis yang dirancang untuk membandingkan efektivitas serta keamanan antara eplerenone dan spironolactone pada pasien gagal jantung. Peneliti melakukan pencarian literatur secara ekstensif di berbagai basis data medis utama, termasuk PubMed, Web of Science, Scopus, dan Cochrane Library.
Kriteria inklusi difokuskan pada semua studi relevan yang mengevaluasi penggunaan eplerenone dibandingkan dengan spironolactone secara langsung pada populasi pasien yang terdiagnosis gagal jantung, guna memastikan data yang dikumpulkan memiliki korelasi klinis yang tepat.
Dalam hal analisis data, penelitian ini menggunakan metode statistik untuk menggabungkan hasil dari berbagai studi yang disertakan. Data dikotomis, seperti kejadian kematian atau efek samping, diolah menggunakan Hazard Ratio (HR) atau Risk Ratio (RR) dengan interval kepercayaan (CI) 95%.
Luaran primer difokuskan pada kematian segala sebab (all-cause mortality). Luaran sekunder mencakup kematian kardiovaskular, tingkat penghentian pengobatan oleh pasien, serta kejadian ginekomastia untuk menilai profil keamanan dari eplerenone dan spironolactone.
Ulasan Hasil Penelitian
Hasil studi ini menunjukkan bahwa eplerenone memiliki keunggulan klinis yang signifikan dibandingkan dengan spironolactone bagi pasien gagal jantung. Analisis terhadap 21.930 pasien mengungkapkan bahwa penggunaan eplerenone berkaitan dengan penurunan risiko all-cause mortality sebesar 22% dan penurunan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular yang jauh lebih besar (mencapai 46%).
Selain efektivitasnya, studi ini turut menyoroti profil keamanan dan toleransi eplerenone yang lebih baik. Pasien yang menggunakan eplerenone memiliki risiko yang jauh lebih rendah untuk mengalami ginekomastia, dengan penurunan risiko hingga 93% dibandingkan pengguna spironolactone.
Hal ini berbanding lurus dengan tingkat kepatuhan pasien, di mana angka penghentian pengobatan pada kelompok eplerenone ditemukan 31% lebih rendah. Dengan demikian, eplerenone menawarkan keseimbangan yang lebih baik antara kemanjuran terapeutik dan kenyamanan pasien dalam jangka panjang.
Kelebihan Penelitian
Ukuran sampel pada studi ini besar, yang mana melibatkan total 21.930 individu dengan gagal jantung yang tersebar dalam sepuluh studi yang berbeda. Jumlah sampel yang besar ini memberikan kekuatan statistik yang baik untuk menarik kesimpulan yang lebih akurat.
Lebih lanjut, studi ini juga menggunakan metodologi pencarian data komprehensif di sumber yang valid. Peneliti melakukan pencarian literatur yang sangat luas di berbagai basis data medis ternama, yang bisa meminimalkan risiko terlewatnya data penting dan memastikan bahwa meta analisis ini mencakup bukti ilmiah paling relevan yang tersedia hingga saat ini.
Selain itu, luaran studi ini fokus pada hasil yang dibutuhkan untuk penerapan di praktik klinis. Studi ini bukan hanya mengevaluasi luaran efikasi tetapi juga mengevaluasi aspek keamanan sehingga hasil studi dapat bermanfaat sebagai pertimbangan benefit-risk profile terhadap obat yang diuji.
Limitasi Penelitian
Salah satu kelemahan studi ini adalah adanya heterogenitas antar desain studi. Analisis studi ini menggabungkan data dari berbagai jenis studi, termasuk RCT dan studi observasional. Perbedaan dalam desain studi ini dapat memengaruhi konsistensi hasil karena standar kontrol yang berbeda antara satu studi dengan yang lain.
Kelemahan lain adalah adanya keterbatasan data pada populasi spesifik. Studi ini mencatat adanya keterbatasan data mengenai efektivitas kedua obat tersebut pada subkelompok pasien tertentu, yakni pasien dengan gagal jantung dengan fraksi ejeksi yang masih terjaga (heart failure with preserved ejection fraction/HFpEF). Data yang diikutsertakan hanya berfokus pada pasien dengan HFrEF.
Lebih lanjut, ada variasi dosis dan durasi tindak lanjut antar studi yang diikutsertakan. Hal ini dapat mempengaruhi penilaian hasil jangka panjang terkait angka kematian dan efek samping. Selain itu, karena menyertakan studi observasional, hasil penelitian ini mungkin rentan terhadap faktor perancu yang tidak dapat dikontrol sepenuhnya seperti pada RCT yang sangat ketat. Hal tersebut bisa memengaruhi keakuratan perbandingan langsung antara kedua obat.
Aplikasi Hasil Penelitian Di Indonesia
Secara klinis, penelitian ini mengindikasikan bahwa eplerenone lebih unggul dibanding spironolactone dalam hal mortalitas, tolerabilitas, dan efek samping seperti ginekomastia. Meski begitu, masih banyak keterbatasan yang mengurangi tingkat kekuatan buktinya, seperti jumlah studi yang dievaluasi relatif kecil dan merupakan campuran antara RCT dan studi observasional, beberapa RCT memiliki risiko bias sedang–tinggi, serta tidak bisa menilai publication bias.
Dalam konteks Indonesia, implikasi dari studi ini adalah bahwa eplerenone dapat dipertimbangkan pada pasien tertentu, misalnya yang mengalami ginekomastia atau tidak toleran terhadap spironolactone. Di sisi lain, perlu dipertimbangkan bahwa spironolactone lebih banyak tersedia di Indonesia, memiliki harga yang relatif rendah, serta sudah masuk cakupan pembiayaan kesehatan.

