Fenofibrate dilaporkan dapat menurunkan kadar asam urat. Obat ini adalah golongan agonis PPAR-alfa atau peroxisome proliferator-activated receptor alpha yang umum digunakan untuk penanganan hiperlipidemia, tetapi juga ditemukan memiliki efek antipirai. Angka reduksi ditemukan sebanding antara pria dan wanita.[1-3]
Asam urat merupakan produk akhir dari metabolisme purin baik yang berasal dari eksogen maupun endogen. Penyakit asam urat pada sendi atau gout arthritis adalah penyakit di mana terdapat penumpukan kristal monosodium urat pada sendi yang dapat menyebabkan nyeri yang berlangsung akut hingga kronis.
Fenofibrate awalnya digunakan untuk mengatasi dislipidemia, tetapi peneliti tertarik menilai efeknya terhadap kadar asam urat karena hiperurisemia sering ditemukan bersamaan dengan hiperlipidemia, resistensi insulin, dan sindrom metabolik, yang menunjukkan adanya hubungan patofisiologi. Selain itu, fenofibrate juga diketahui memiliki efek urikosurik, sehingga diduga dapat membantu menurunkan kadar asam urat pada pasien dengan hiperurisemia.[1,3-5]
Mekanisme Aksi Fenofibrate dalam Menurunkan Kadar Asam Urat
Asam fenofibrik, metabolit aktif fenofibrate, menurunkan kadar lemak dengan cara meningkatkan katabolisme dari trigliserida dengan meningkatkan aktivitas lipoprotein lipase (LPL) melalui aktivasi PPAR-alfa. Berbeda dengan cara kerja allopurinol, fenofibrate dalam metabolisme asam urat bekerja dengan cara meningkatkan ekskresi asam urat melalui ginjal.
Fenofibrate dapat menghambat transporter asam urat di tubulus proksimal ginjal, terutama URAT1 dan GLUT9, yang berperan dalam reabsorpsi asam urat dari lumen tubulus. Hambatan terhadap transporter tersebut mengurangi reabsorpsi asam urat dan meningkatkan ekskresinya melalui urin (efek urikosurik), sehingga kadar asam urat dalam darah menurun.[6]
Bukti Ilmiah Terkait Penggunaan Fenoibrate sebagai Antipirai
Sebuah uji klinis yang melibatkan 8000 pasien melaporkan penurunan kadar asam urat hingga 20% pada kelompok pasien diabetes mellitus tipe 2 yang mendapat fenofibrate dibandingkan dengan plasebo. Penurunan ini sebanding pada pria dan wanita, pada pengguna diuretik, dan kadar asam urat yang meningkat. Selisih penurunan ini ditemukan lebih rendah pada pasien yang telah dan sedang mengonsumsi obat penurun asam urat seperti allopurinol.[3]
Temuan tersebut serupa dengan hasil meta analisis terhadap 9 studi dengan total 487 partisipan. Dalam meta analisis ini, terapi fenofibrate dilaporkan menurunkan kadar asam urat serum secara bermakna dengan rerata penurunan absolut sebesar 1,32 mg/dL dibandingkan plasebo (WMD −1,32 mg/dL; 95% CI −1,61 hingga −1,03; p < 0,001).[1]
Hasil yang sama dilaporkan dalam suatu studi observasional terhadap data 863 pasien. Dalam studi ini, pasien gout yang mendapat terapi penurun asam urat, seperti allopurinol atau febuxostat, mengalami penurunan kadar asam urat rerata 1,81 mg/dL, sedangkan pasien yang juga mendapat tambahan fenofibrate mengalami penurunan lebih besar, yaitu 2,40 mg/dL.[2]
Walau begitu, perlu dicatat bahwa meskipun studi-studi tersebut mengindikasikan fenofibrate efektif menurunkan kadar asam urat, kekuatan bukti yang diberikan belum cukup untuk menganjurkan fenofibrate sebagai terapi rutin hiperurisemia. Keterbatasan utama adalah studi-studi tersebut hanya menilai luaran berupa kadar asam urat serum, bukan luaran klinis yang lebih relevan seperti frekuensi serangan gout dan resolusi tofi.[1-3]
Efek Samping Fenofibrate yang Perlu Diwaspadai
Efek dari fenofibrate terhadap kadar asam urat sifatnya adalah urikosuria (menyebabkan kadar urat pada urin), sehingga salah satu kemungkinan efek samping yang perlu dipantau adalah batu ginjal. Peningkatan ringan namun signifikan dari serum kreatinin juga ditemukan dalam beberapa penelitian.
Lebih lanjut, fenofibrate kemungkinan memengaruhi prostaglandin yang bersifat vasodilator sehingga dapat memengaruhi arteriol eferen ginjal yang membuat penurunan tekanan kapiler glomerulus dan perfusi ginjal. Kemungkinan yang lain adalah adanya peningkatan produksi kreatinin endogen dan secara kompetitif menurunkan sekresi kreatinin di ginjal.
Fibrat juga ditemukan dapat meningkatkan homosistein, di mana efek ini lebih besar ditemukan pada fenofibrate dibandingkan gemfibrozil. Homosistein diduga berkaitan dengan berkaitan dengan kejadian kardiovaskular, namun efek kausalnya masih dipertanyakan.[7,8]
Penggunaan Fenofibrate Menurut Pedoman Klinis
Pedoman klinis penanganan hiperurisemia dan gout menyarankan untuk tidak menggunakan fenofibrate untuk tujuan menurunkan kadar asam urat. Farmakoterapi yang masih menjadi pilihan dalam pedoman klinis adalah allopurinol. Indikasi memulai farmakoterapi adalah:
- Pasien gout dengan tofi subkutan
- Adanya bukti radiologis kerusakan terkait gout
Flare ≥2 serangan per tahun.
Allopurinol dianjurkan untuk dimulai dalam dosis rendah, yaitu ≤ 100 mg/hari atau bisa lebih rendah pada pasien dengan insufisiensi ginjal. Dosis bisa ditingkatkan sesuai kebutuhan, hingga maksimal 800 mg/hari. Farmakoterapi tidak dianjurkan pada kasus hiperurisemia asimptomatik.[9,10]
Kesimpulan
Fenofibrate merupakan obat golongan agonis agonis PPAR-alfa (peroxisome proliferator-activated receptor alpha) dan sering digunakan sebagai obat penurun kolesterol terutama untuk menurunkan trigliserida. Beberapa studi terdahulu menemukan bahwa fenofibrate memiliki efek menurunkan kadar asam urat dengan menghambat transporter asam urat di tubulus proksimal ginjal, sehingga meningkatkan ekskresi asam urat (efek urikosurik).
Meski terdapat penelitian yang menunjukkan bahwa fenofibrate efektif dalam menurunkan kadar asam urat, kekuatan bukti yang ada belum cukup untuk merekomendasikan penggunaan rutin fenofibrate pada hiperurisemia dan gout. Basis bukti yang tersedia saat ini masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti metode studi observasional dan luaran yang dinilai terbatas pada kadar asam urat (bukan luaran yang lebih relevan secara klinis, seperti frekuensi serangan gout atau resolusi tofi).
Lebih lanjut, pedoman klinis penanganan hiperurisemia dan gout juga belum menganjurkan penggunaan fenofibrate untuk tujuan penurunan kadar asam urat. Terapi lini pertama yang dianjurkan masih berupa urate lowering agent, seperti allopurinol.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
