Keamanan jangka panjang kehamilan pada wanita dengan kanker payudara, terutama tipe reseptor estrogen (ER)-positif, masih menjadi perdebatan. Hal ini diakibatkan oleh adanya kekhawatiran terhadap peningkatan kemungkinan rekurensi kanker dan kematian.[1,2]
Kehamilan, Fertilitas, dan Kanker Payudara
Kanker payudara yang menyerang pada usia muda bisa sangat menghancurkan harapan untuk memiliki keturunan bagi wanita karena kehamilan diduga dapat meningkatkan kemungkinan rekurensi dan metastasis akibat stimulasi hormonal. Selain itu, efek kemoterapi juga ditakutkan menyebabkan infertilitas dan kemungkinan cacat bawaan lahir.
Melihat semua risiko ini, kehamilan pada wanita dengan riwayat kanker payudara merupakan keputusan yang harus dipertimbangkan matang-matang, terutama mengenai keamanan dan efek jangka panjang dari kehamilan terhadap rekurensi kanker payudara.
Penelitian terdahulu menyarankan wanita usia muda dengan kanker payudara menunda atau menghindari kehamilan untuk mengurangi kemungkinan stimulasi hormonal yang dapat menyebabkan metastasis. Namun, dengan adanya perkembangan opsi terapeutik, pasien usia muda bisa menerima terapi intensif dengan durasi lebih pendek dan dapat mempertahankan fungsi fertilitas.[1-4]
Apakah Kehamilan Memengaruhi Tingkat Rekurensi dan Mortalitas Kanker Payudara?
Sebuah tinjauan sistematik mengevaluasi 39 penelitian, dengan total 112.840 pasien kanker payudara, di antaranya 7.505 perempuan mengalami kehamilan setelah diagnosis. Penelitian ini melaporkan bahwa perempuan yang hamil setelah didiagnosis kanker payudara memiliki disease-free survival (DFS) dan overall survival lebih baik dibandingkan yang tidak mengalami kehamilan setelah diagnosis. Temuan ini tetap bermakna setelah dilakukan penyesuaian terhadap confounders.[5]
Hasil serupa juga dilaporkan sebuah meta analisis terhadap 52 penelitian dan mencakup 9.288 perempuan yang mengalami kehamilan setelah diagnosis dan 123.429 perempuan yang tidak mengalami kehamilan. Dalam meta analisis ini overall survival lebih baik pada pasien yang hamil setelah diagnosis, disertai penurunan risiko kekambuhan keseluruhan maupun kekambuhan metastatik. Meski demikian, mutasi BRCA2 dilaporkan menurunkan keuntungan dalam hal DFS.[6]
Apakah Terapi Kanker Payudara Memengaruhi Fertilitas?
Adanya risiko infertilitas pada pasien kanker payudara sering dikaitkan dengan efek dari kemoterapi. Salah satu efek kemoterapi yang dikaitkan dengan penurunan fertilitas adalah adanya disfungsi ovarium (seringkali ditandai dengan chemotherapy-related amenorrhea) dan menopause dini.
Sebuah randomized controlled trial (RCT) meneliti efikasi dari regimen fluorouracil, epirubicin, dan siklofosfasmid (FEC) selama 2 minggu dibandingkan dengan penggunaan selama 3 minggu. Studi ini melaporkan bahwa amenorrhea timbul pada 64% subjek studi dengan komposisi yang sama antara regimen 2 minggu dan 3 minggu. Namun, analisis subgrup menunjukkan tidak ada asosiasi signifikan antara kedua regimen kemoterapi dengan timbulnya menopause dini.[7]
Dalam studi lain, dari 166 subjek yang mendapat anthracycline atau taxane, hanya 15% subjek studi menderita amenorrhea jangka panjang. Pada 84 subjek studi yang mendapat anthracycline, 13% dilaporkan menderita amenorrhea jangka panjang. Dari 82 pasien yang mendapatkan taxane, 17% menderita amenorrhea jangka panjang. Analisis statistik lanjutan menunjukkan bahwa subjek dengan usia lebih tua lebih rentan terkena amenorrhea jangka panjang.[8]
Studi lain dari International Breast Cancer Study Group Trials menyimpulkan bahwa wanita yang tetap menunjukkan tanda premenopause setelah 6-7 siklus CMF-kemoterapi (regimen siklofosfamid, methotrexate, dan fluorouracil), berisiko untuk mengalami menopause lebih dini dibandingkan pasien yang tidak menjalani kemoterapi.[9]
Hasil dari ketiga studi tersebut mengindikasikan adanya pengaruh kemoterapi terhadap fertilitas dan fungsi ovarium. Namun, mengingat regimen pengobatan yang digunakan berbeda-beda, simpulan yang adekuat mengenai hubungan antara penatalaksanaan kanker payudara secara umum dengan masalah fertilitas masih inkonklusif.
Apakah Riwayat Kanker Payudara Memengaruhi Luaran Kehamilan di Masa Depan?
Seperti diindikasikan pada data di atas, kehamilan setelah kanker payudara masih mungkin terjadi, tetapi bukanlah hal yang umum. Pasien dengan riwayat kanker payudara telah dilaporkan memiliki kemungkinan untuk konsepsi yang lebih rendah. Estimasi gabungan menunjukkan bahwa kemungkinan mengalami kehamilan berikutnya sekitar 40% lebih rendah dibandingkan dengan perempuan di usia yang sama tanpa riwayat kanker payudara.
Di antara pasien yang berhasil konsepsi, terdapat meta analisis yang menunjukkan peningkatan risiko persalinan sesar, persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR), dan small-for-gestational-age (SGA). Dalam meta analisis ini, riwayat paparan kemoterapi dilaporkan sebagai faktor prediktif yang paling konsisten.
Perlu diketahui pula bahwa interval antara diagnosis dan konsepsi merupakan faktor yang paling mempengaruhi luaran kehamilan. Dalam suatu kohort nasional di Swedia, konsepsi dalam 1 tahun pertama setelah diagnosis dikaitkan dengan peningkatan risiko persalinan sesar (RR 1,7), persalinan sangat prematur (RR 5,3), dan BBLR (RR 2,7). Setelah interval lebih dari 2 tahun, luaran kehamilan dilaporkan mendekati luaran pada kelompok pembanding.[2]
Kesimpulan
Studi mengindikasikan adanya pengaruh terapi kanker payudara terhadap fungsi ovarium dan fertilitas. Namun, hasil studi yang ada masih berbeda-beda karena regimen pengobatan yang digunakan juga berbeda-beda.
Secara keseluruhan, kemungkinan untuk mengalami kehamilan pada pasien yang pernah mengalami kanker payudara dilaporkan 40% lebih rendah dibandingkan perempuan dalam usia yang sama yang tidak memiliki riwayat kanker payudara. Lebih lanjut, jika kehamilan terjadi, terdapat peningkatan risiko luaran kehamilan yang lebih buruk, termasuk persalinan preterm dan berat badan lahir rendah (BBLR).
Meski begitu, adanya kehamilan setelah kanker payudara tidak ditemukan meningkatkan risiko rekurensi ataupun menurunkan angka kesintasan. Justru sebaliknya, telah ada studi yang menemukan penurunan risiko rekurensi keseluruhan ataupun rekurensi metastatik pada pasien yang mengalami kehamilan, meskipun temuan ini mungkin masih perlu dikonfirmasi melalui studi lebih lanjut.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
