Berbagai studi menemukan konsumsi makanan cepat saji, termasuk makanan tinggi lemak dan minuman ringan, berhubungan dengan penyakit alergi, terutama asma. Namun, mekanisme yang menjelaskan hubungan ini masih belum diketahui pasti.[1-3]
Mekanisme Hubungan Makanan Cepat Saji dan Asma atau Penyakit Alergi Lainnya
Pola diet tinggi makanan cepat saji berpengaruh terhadap asma karena asma merupakan penyakit yang berhubungan dengan inflamasi sistemik. Pola diet tinggi makanan cepat saji yang tinggi akan lemak jenuh serta rendahnya antioksidan akan memicu aktivasi sistem imun seperti toll like receptor 4 (TLR4) yang akan menstimulasi jalur inflamasi NF-kB. Hal ini berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit alergi, terutama asma.
Pola makan Western, yang ditandai dengan asupan lemak tinggi dapat menyebabkan inflamasi pada saluran pernapasan. Konsumsi makanan dengan kadar lemak tinggi terbukti meningkatkan produksi neutrofil pada sputum dalam 4 jam postprandial. Pada orang dewasa dengan asma berat, konsumsi lemak tinggi dan serat pangan rendah berhubungan dengan peningkatan eosinofil pada saluran napas.
Konsumsi minuman ringan yang banyak mengandung gula sederhana juga dihubungkan dengan terjadinya asma. Minuman seperti ini dapat menyebabkan malabsorpsi fruktosa, sehingga terbentuk senyawa proinflamasi di usus. Jika diserap tubuh, senyawa ini dapat menyebabkan terjadinya asma.[4,5]
Basis Bukti Ilmiah Mengenai Hubungan Makanan Cepat Saji dan Asma atau Penyakit Alergi Lainnya
Meta analisis. pada tahun 2018 menilai hubungan antara makanan siap saji dengan asma, gejala asma, eczema, dan alergi lain, termasuk rhino konjungtivitis. Metaanalisis ini mendapatkan hubungan bermakna antara konsumsi makanan siap saji dengan asma dan alergi. Selain itu, ditemukan juga dose–response relationship antar variabel tersebut.
Secara spesifik, konsumsi hamburger didapatkan berkontribusi terhadap hubungan ini. Konsumsi hamburger 3 kali/minggu atau lebih berhubungan dengan gejala asma dan mengi yang lebih berat, dibandingkan konsumsi 1–2 kali/ minggu.[6]
Studi potong lintang pada populasi remaja juga mendapatkan hal yang sama. Frekuensi makan makanan siap saji sebanyak 3 kali/minggu atau lebih berhubungan dengan kejadian mengi dan asma. Limitasi studi ini disebabkan oleh desainnya yang berupa potong lintang, sehingga tidak dapat mencari hubungan kausalitas.[3]
Serupa dengan dua studi di atas, sebuah penelitian observasional yang melibatkan 865.614 remaja di Korea juga menemukan hubungan antara konsumsi makanan cepat saji dengan peningkatan risiko asma. Begitu pula pada studi potong lintang di Qatar yang melibatkan 986 partisipan, konsumsi makan cepat saji dan manis berhubungan dengan peningkatan risiko asma sebesar 1,25 kali lipat.[1,2]
Kesimpulan
Banyak studi observasional telah menunjukkan adanya korelasi antara konsumsi makanan cepat saji dengan peningkatan risiko asma dan penyakit alergi lainnya. Oleh sebab itu, dokter sebaiknya mempromosikan pola diet sehat secara gencar, misalnya pola diet Mediterania yang kaya akan buah dan sayuran, atau menyesuaikan dengan pola makan tradisional Indonesia, seperti nasi, ikan atau ayam, dan mengonsumsi banyak sayuran.
Perlu diingat pula bahwa pola diet yang tinggi gula dan makanan cepat saji akan membawa risiko kardiometabolik. Pola diet ini, selain akan meningkatkan risiko asma dan penyakit alergi, juga akan menimbulkan obesitas, sindrom metabolik, dan diabetes mellitus tipe 2.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
