Banyak pedoman internasional mengenai fitness to fly (kelayakan penerbangan) pada bayi menyatakan bahwa neonatus aterm sehat umumnya dapat terbang setelah usia 1 minggu. Apabila kondisi bayi stabil, tanpa gangguan pernapasan maupun penyakit penyerta yang bermakna, perjalanan dengan pesawat komersial umumnya dapat dilakukan dengan aman.[1-3]
Pesawat terbang komersial biasanya melakukan penerbangan pada 9150 hingga 13000 meter di atas permukaan laut dan dilakukan penyesuaian tekanan dalam kabin pada ketinggian 1530 hingga 2440 meter di atas permukaan laut. Pada kondisi ini, terjadi penurunan tekanan parsial oksigen mencapai 85% dari fraksi oksigen pada permukaan laut.
Penurunan fraksi oksigen ini pada anak menyebabkan penurunan penurunan saturasi oksigen dari 98% menjadi 94-95% selama penerbangan. Penurunan saturasi oksigen ini tidak menyebabkan gejala klinis pada anak normal, tetapi pada anak dengan kondisi gangguan respiratori, hal ini dapat menjadi sebuah masalah.[1-6]
Mengapa Bayi Merupakan Populasi Khusus dalam Penilaian Kelayakan Penerbangan?
Selain ibu hamil, neonatus juga merupakan kelompok penumpang yang membutuhkan perhatian khusus saat penerbangan. Perubahan fisiologi yang terjadi selama penerbangan dapat berupa terjadinya hipoksia akibat penurunan tekanan oksigen seiring dengan ketinggian, terjadinya penurunan kelembaban udara dan perubahan lainnya. Hal ini menyebabkan anak dan neonatus memerlukan pemeriksaan sebelum keberangkatan dan mungkin memerlukan perlakuan khusus selama penerbangan.
Neonatus, terutama neonatus prematur, anak dengan penyakit respiratori akut atau kronis, anemia, penyakit jantung dan penyakit neuromuskular adalah kelompok yang rentan mengalami hipoksia saat penerbangan. Neonatus menunjukkan respons yang imatur terhadap hipoksia. Respons imatur tersebut berupa bronkokonstriksi. Bronkokonstriksi diikuti dengan vasokonstriksi.
Normalnya, respons imatur ini akan menghilang dalam pada saat bayi tersebut berusia 2 bulan. Respons ini paling sering terjadi pada neonatus prematur. Pada sebuah studi menemukan bahwa pada sebuah simulasi penerbangan, desaturasi jarang terjadi pada bayi cukup bulan usia 1 minggu, tetapi lebih berisiko pada bayi prematur. Sebanyak 70% neonatus dengan displasia bronkopulmonar mengalami desaturasi.[1-3,7-10]
Rekomendasi Penerbangan pada Bayi
Secara umum, rekomendasi penerbangan pada bayi sehat adalah:
- Tidak direkomendasikan untuk membawa neonatus berusia <1 minggu pada penerbangan.
- Neonatus yang lahir aterm, tanpa komplikasi, relatif aman untuk melakukan penerbangan setelah berusia lebih dari 1 minggu.
British Thoracic Society (BTS) merekomendasikan agar bayi aterm (>37 minggu) sebaiknya tidak melakukan perjalanan udara selama setidaknya satu minggu setelah lahir, untuk memastikan bayi berada dalam kondisi sehat dan tidak terdapat masalah medis yang belum teridentifikasi.[1]
Kelayakan Penerbangan pada Bayi Prematur
Pada bayi prematur (<37 minggu) yang belum mencapai usia gestasi koreksi sesuai waktu lahir seharusnya (expected date of delivery), risiko hipoksia dan apnea selama penerbangan jauh lebih tinggi. Oleh karena itu, apabila perjalanan udara tidak dapat ditunda, bayi prematur dianjurkan mendapatkan oksigen selama penerbangan, karena Hypoxic Challenge Test (HCT) belum terbukti dapat memprediksi kebutuhan oksigen secara akurat pada kelompok usia ini.
Apabila perjalanan udara tidak dapat dihindari, oksigen selama penerbangan harus tersedia. Oksigen diberikan dengan laju aliran rendah sesuai toleransi, minimal 1 L/menit.
Bayi yang lahir prematur dan telah berusia lebih lanjut (older ex-preterm infants) dengan riwayat infeksi saluran napas bermakna sebaiknya menunda penerbangan hingga 6 bulan setelah perkiraan tanggal lahir, karena memiliki risiko apnea yang lebih tinggi. Bayi usia kurang dari 1 tahun dengan riwayat penyakit respiratorik kronis sebaiknya dirujuk untuk menjalani evaluasi oleh dokter spesialis serta pemeriksaan HCT.[1,3,9,10]
Pertimbangan Khusus dalam Menentukan Kelayakan Terbang pada Bayi
Selain kondisi respiratorik, dokter juga harus mempertimbangkan faktor lain yang dapat memengaruhi keamanan perjalanan udara, seperti penyakit jantung bawaan sianotik, anemia berat, infeksi akut, atau kondisi yang memerlukan pemantauan intensif.
Bayi dengan infeksi saluran napas atas, bronkiolitis, atau pneumonia sebaiknya menunda perjalanan hingga kondisi klinis stabil. Demikian pula, bayi yang masih memerlukan oksigen atau baru lepas dari terapi oksigen dalam beberapa bulan terakhir memerlukan evaluasi oleh dokter spesialis sebelum diizinkan terbang.
Pada dasarnya, penilaian fitness to fly perlu mempertimbangkan manfaat perjalanan dibandingkan risiko yang mungkin timbul selama penerbangan, serta kesiapan keluarga dan maskapai dalam menyediakan kebutuhan medis apabila diperlukan.[1,3,10]
Tabel 1. Kelayakan Terbang pada Bayi dengan Kondisi Medis Tertentu
| Kondisi Medis | Kelayakan Terbang |
| Neonatus aterm | Umumnya bisa melakukan penerbangan setelah usia 1 minggu |
| Neonatus preterm tanpa penyakit paru kronik | Hindari penerbangan hingga usia koreksi 3 bulan. |
| Jika ada riwayat infeksi saluran napas bawah, hindari penerbangan hingga usia koreksi 6 bulan | |
| Neonatus atau bayi preterm dengan penyakit paru kronik
| Sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter spesialis pulmonologi anak, dan dipertimbangkan untuk menjalani hypoxic challenge test (HCT). |
| Bayi yang menunjukkan saturasi oksigen (SpO₂) <85% selama HCT dianjurkan mendapatkan suplementasi oksigen selama penerbangan. | |
| Bayi dengan hasil SpO₂ 85–90% selama HCT, keputusan pemberian oksigen selama penerbangan ditentukan berdasarkan pertimbangan klinis dokter spesialis anak. | |
| Jika sedang mendapat oksigen dan saat ini flow rate > 4 L/menit, jangan melakukan penerbangan. | |
| Pneumonia | Hindari penerbangan hingga afebril, stabil secara klinis, dan SpO2 ≥94% di darat (sea level) |
| Riwayat infeksi pernapasan atas baru-baru ini | Boleh terbang jika infeksi sudah tidak ada, berikan dekongestan nasal bila perlu, minta bayi mengunyah atau mengempeng saat penerbangan. |
| Penyakit jantung bawaan sianotik | Jika NYHA kelas IV, sebaiknya tidak melakukan penerbangan. Bila penerbangan tidak bisa dihindari, gunakan oksigen |
Sumber: dr. Bedry Qintha, Alomedika, 2026.[1,3,10]
Pemeriksaan untuk Menentukan Kelayakan Terbang pada Bayi
Meningkatnya jumlah penumpang bayi pada penerbangan komersial membutuhkan perhatian dari dokter. Hal ini terutama berkaitan untuk menentukan kesiapan terbang pada populasi ini. Pada pemeriksaan harus diawali dengan anamnesis pada orang tua pasien.
Orang tua perlu memberitahukan riwayat penyakit pada bayi. Selain itu, orang tua juga harus memberitahukan riwayat penerbangan pada bayi. Faktor pertimbangan lain yang dibutuhkan oleh dokter adalah perkiraan waktu penerbangan yang ditempuh. Pada penelitian didapatkan bahwa penerbangan lebih dari 6 jam meningkatkan risiko terjadinya hipoksia pada bayi.[11]
Jenis Pemeriksaan untuk Menentukan Kelayakan Terbang pada Bayi
Pemeriksaan awal meliputi penilaian usia gestasi saat lahir, usia kronologis, riwayat prematuritas, penyakit paru kronis, penyakit jantung bawaan, riwayat apnea, kebutuhan oksigen sebelumnya, serta adanya infeksi saluran napas akut. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan fisik untuk menilai adanya tanda distres pernapasan, status hemodinamik, dan pengukuran saturasi oksigen perifer (SpO₂) menggunakan pulse oximetry saat istirahat.
Pada bayi sehat yang lahir cukup bulan, memiliki saturasi oksigen normal, dan tidak memiliki penyakit kardiopulmoner, pemeriksaan klinis umumnya sudah cukup untuk menentukan kelayakan terbang Namun, pada bayi dengan riwayat penyakit respiratorik atau kardiovaskular, diperlukan evaluasi lebih lanjut karena kondisi hipobarik di dalam kabin pesawat dapat memicu hipoksemia yang tidak tampak pada pemeriksaan di permukaan laut.[1,3,9,10]
Pemeriksaan penunjang yang paling direkomendasikan pada bayi berisiko adalah hypoxic challenge test (HCT) atau hypoxia altitude simulation test (HAST). Pemeriksaan ini mensimulasikan kondisi kabin pesawat dengan memberikan campuran gas yang mengandung sekitar 15% oksigen, setara dengan tekanan oksigen pada ketinggian kabin pesawat komersial, sambil memantau perubahan saturasi oksigen menggunakan pulse oximetry.[1,10]
Kesimpulan
Bayi merupakan kelompok yang rentan pada penerbangan. Salah satu faktor yang menyebabkan kerentanan ini adalah perubahan tekanan yang mempengaruhi perubahan fraksi oksigen yang terjadi dalam kabin selama penerbangan. Perubahan fraksi oksigen yang dihirup ini menyebabkan perubahan saturasi yang dapat bergejala pada kelompok populasi bayi.
Pada bayi aterm yang sehat dan tidak mengalami komplikasi, penerbangan umumnya aman setelah usia 1 minggu. Pada bayi preterm harus dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu untuk dapat menentukan kelayakan terbang bayi.
Pada bayi prematur, penentuan kelayakan terbang didasarkan antara lain pada usia gestasi, usia koreksi, kondisi klinis, serta adanya penyakit respiratorik atau kebutuhan oksigen sebelumnya, karena kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipoksemia dan apnea selama penerbangan. Pada bayi dengan penyakit paru kronis dapat dipertimbangkan hypoxic challenge test (HCT) sebagai bagian dari evaluasi, meskipun akurasinya pada neonatus prematur masih terbatas.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
