Kehamilan adalah fase fisiologis yang meningkatan kebutuhan gizi, terutama mikronutrien yang berperan penting dalam mendukung pertumbuhan janin dan menjaga kesehatan ibu. Perubahan metabolisme, peningkatan volume plasma, dan kebutuhan pembentukan jaringan baru menyebabkan ibu hamil rentan mengalami defisiensi mikronutrien bila asupan tidak mencukupi. Kondisi ini membawa dampak malnutrisi ibu dan janin yang serius.[1]
Malnutrisi mikronutrien sering dijumpai di negara berkembang seperti Indonesia. Zat besi, asam folat, vitamin D, vitamin A, zinc, dan kalsium merupakan beberapa mikronutrien yang paling sering mengalami defisiensi selama kehamilan. Defisiensi ini dikaitkan dengan risiko komplikasi seperti anemia, preeklamsia, kelahiran prematur, serta berat badan lahir rendah.[2]
Data Riset Kesehatan Dasar Indonesia tahun 2018 mencatat prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai hampir 49%, dengan defisiensi zat besi dan folat sebagai penyebab utama. Sementara itu, studi global memperkirakan lebih dari 60% ibu hamil di Asia Tenggara mengalami defisiensi vitamin D, yang juga berdampak pada luaran kehamilan.[3,4]
Pentingnya berbagai jenis mikronutrien, konsekuensi dari defisiensinya, serta peran suplementasi Multiple Micronutrient Supplements (MMS) yang mengacu pada formulasi UNIMMAP MMS (United Nations International Multiple Micronutrient Antenatal Preparation) sebagai strategi intervensi untuk meningkatkan luaran kehamilan dan memutus siklus malnutrisi lintas generasi menjadi fokus. Integrasi MMS dan kalsium kini menjadi standar global baru dalam asuhan antenatal, sesuai pedoman Kementerian Kesehatan di Indonesia.
Mikronutrien dan Perannya dalam Kehamilan
Selama kehamilan, kebutuhan mikronutrien meningkat untuk pembentukan plasenta, pertumbuhan janin, dan perubahan metabolik ibu. Jika terjadi defisiensi, proses ini dapat terganggu dan membahayakan kesehatan ibu dan janin. UNIMMAP MMS merekomendasikan 15 mikronutrien esensial yang terbukti mendukung kehamilan sehat.
Tabel 1. Formulasi UNIMMAP MMS
| Mikronutrien | Dosis |
| Zat besi | 30mg |
| Zinc | 15mg |
| Tembaga | 2mg |
| Selenium | 65µg |
| Yodium | 150µg |
| Vitamin A | 800µg ekuivalen dengan retinol (RE) |
| Vitamin B1 | 1.4mg |
| Vitamin B2 | 1.4mg |
| Vitamin B3 (niasin) | 18mg |
| Vitamin B6 | 1.9mg |
| Vitamin B9 (asam folat) | 400µg |
| Vitamin B12 | 2.6µg |
| Vitamin C | 70mg |
| Vitamin D | 200 IU |
| Vitamin E | 10mg |
Sumber: WHO Model List of Essential Medicines.[27]
Mikronutrien Antioksidan dan Imunologis
Vitamin A, C, E, dan selenium berperan sebagai mikronutrien antioksidan dan imunologis yang melindungi sel dari stres oksidatif yang meningkat selama kehamilan. Vitamin A juga mendukung diferensiasi sel dan kekebalan; defisiensinya meningkatkan risiko infeksi dan kematian maternal.
Vitamin C membantu pembentukan kolagen dan meningkatkan absorpsi zat besi, sedangkan vitamin E membantu mencegah kerusakan membran sel. Selenium diperlukan untuk fungsi enzim antioksidan seperti glutation peroksidase, yang penting dalam mencegah preeklampsia dan kelahiran prematur.[5]
Mikronutrien Hematopoietik
Mikronutrien hematopoietik seperti zat besi, vitamin B12, dan asam folat berperan dalam eritropoiesis. Kekurangan zat besi adalah penyebab utama anemia kehamilan, yang meningkatkan risiko perdarahan postpartum, infeksi, serta kematian maternal.
Asam folat dibutuhkan untuk sintesis DNA dan pencegahan cacat tabung saraf, sedangkan vitamin B12 penting dalam metabolisme folat dan fungsi neurologis. Kombinasi defisiensi B12 dan folat memperbesar risiko anemia megaloblastik dan gangguan perkembangan janin.[6]
Mikronutrien Metabolik dan Neurologis
Vitamin B1 (tiamin), B2 (riboflavin), B3 (niasin), B6 (piridoksin), dan B12 (kobalamin) sebagai mikronutrien metabolik dan neurologis berperan dalam metabolisme energi dan sintesis neurotransmitter.
Riboflavin dan niasin mendukung produksi energi dan pertumbuhan jaringan. Piridoksin diperlukan untuk perkembangan sistem saraf janin serta mengurangi risiko mual dan muntah berat pada kehamilan. Defisiensi tiamin dapat menyebabkan sindrom Wernicke, terutama pada ibu dengan hiperemesis gravidarum.[7]
Mikronutrien untuk Pertumbuhan dan Fungsi Endokrin
Mikronutrien untuk pertumbuhan dan fungsi endokrin adalah vitamin D, iodine, dan zinc, yang memiliki fungsi hormonal dan perkembangan jaringan.
Vitamin D terlibat dalam metabolisme kalsium dan mencegah preeklampsia. Iodium sangat krusial untuk sintesis hormon tiroid, dan kekurangannya berkaitan dengan gangguan neurokognitif pada anak. Zinc diperlukan untuk pembelahan sel, penyembuhan luka, dan fungsi imun; defisiensinya berkontribusi terhadap pertumbuhan janin terhambat dan kelahiran prematur.[8]
Mikronutrien untuk Angiogenesis
Copper berperan dalam angiogenesis, perkembangan sistem saraf pusat, serta metabolisme zat besi. Defisiensi tembaga dapat menyebabkan anemia, gangguan pertumbuhan janin, dan kelainan neurologis. Meskipun jarang, status copper perlu diperhatikan terutama pada ibu dengan gangguan penyerapan usus atau asupan protein rendah.[9]
Studi Manfaat Multiple Micronutrient Supplements (MMS)
Mengingat pentingnya peran mikronutrien, suplementasi harian dengan preparat seperti MMS dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengurangi morbiditas maternal dan memperbaiki luaran kehamilan, terutama di wilayah dengan prevalensi defisiensi tinggi.
Hal ini didukung melalui studi oleh Smith et. al yang membuktikan melalui analisisnya bahwa suplementasi Multiple Micronutrient Supplements (MMS) lebih efektif dibandingkan suplemen zat besi-folat dalam menurunkan persentase kejadian lahir mati (stillbirth) dan berat badan lahir rendah.[18]
Penelitian lain oleh Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) juga menunjukkan bahwa MMS lebih efektif dibandingkan suplementasi konvensional dalam menurunkan SGA dan stillbirth.[21]
Dampak Malnutrisi terhadap Ibu dan Janin
Malnutrisi selama kehamilan, baik defisiensi mikronutrien maupun makronutrien, berdampak serius terhadap kesehatan ibu dan janin. Defisiensi mikronutrien seperti zat besi, folat, vitamin A, D, dan zinc, telah dikaitkan dengan peningkatan risiko anemia, preeklampsia, infeksi, dan kematian maternal.[10-12]
Dampak pada Ibu Hamil
Status mikronutrien yang buruk dapat memperburuk komplikasi obstetrik, memperpanjang masa rawat inap, dan mengganggu pemulihan pasca persalinan. Contohnya, kekurangan vitamin D berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi gestasional dan preeklampsia, sedangkan kekurangan folat berkorelasi dengan anemia megaloblastik dan risiko kelahiran prematur.[13]
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa malnutrisi pada ibu hamil berkorelasi kuat dengan luaran kehamilan yang buruk. Studi di Zerfu et al. di Ethiopia menemukan defisiensi folat dan zat besi pada ibu hamil meningkatkan risiko preeklampsia dua kali lipat. Titaley et al. menyatakan kekurangan vitamin A dan zinc secara signifikan meningkatkan kejadian infeksi dan komplikasi postpartum di Indonesia.[14,15]
Beberapa studi kohort dan intervensi memperkuat hubungan ini. Sunuwar et al. menemukan defisiensi vitamin B12 pada trimester pertama berhubungan dengan Small for Gestational Age (SGA) dan kelahiran prematur di Nepal, bahkan setelah disesuaikan dengan usia, status ekonomi, dan paritas. Perumal et al. dengan data dari 5 negara membuktikan bahwa kadar zinc serum yang rendah meningkatkan risiko preeklampsia dan komplikasi neonatal hingga 1,5 kali lipat.[16,17]
Dampak pada Janin
Malnutrisi juga mempengaruhi janin. Defisiensi mikronutrien selama kehamilan meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), small-for-gestational-age (SGA), prematuritas, dan stillbirth (lahir mati).
Kekurangan zat besi dan zinc berhubungan dengan pertumbuhan janin yang buruk dan peningkatan risiko prematuritas. Defisiensi yodium dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak janin, keterlambatan tumbuh kembang, dan penurunan kapasitas kognitif anak.[19,20]
Malnutrisi prenatal berdampak jangka panjang pada janin seperti stunting, gangguan perkembangan otak, serta keterbatasan pendidikan dan ekonomi di masa depan. Defisiensi makronutrien (protein dan energi) turut menyebabkan BBLR, pertumbuhan intrauterin terhambat, mortalitas neonatal, dan kapasitas menyusui rendah.[22,23]
Pencegahan dan Intervensi Klinis dengan MMS
Pencegahan malnutrisi pada ibu hamil merupakan bagian penting dari pelayanan antenatal. Intervensi klinis seperti pemberian MMS sesuai rekomendasi WHO efektif mencegah defisiensi sebelum komplikasi muncul. Dokter berperan dalam skrining gizi, terutama pada ibu hamil berisiko tinggi, melalui pemeriksaan antropometri, riwayat diet, laboratorium, serta konseling gizi yang disesuaikan.[6,11]
Penelitian menunjukkan bahwa MMS lebih efektif dibandingkan suplementasi zat besi dan folat saja dalam menurunkan risiko BBLR, prematur, dan stillbirth. MMS dan kalsium adalah standar global baru untuk asuhan antenatal, menggantikan hanya zat besi dan asam folat. Suplemen MMS dan kalsium untuk ibu hamil sudah termasuk dalam pedoman Kementerian Kesehatan. Oleh karena itu, MMS sebaiknya diintegrasikan dalam pelayanan antenatal sejak trimester pertama.[18,27]
Penanganan kondisi klinis seperti anemia atau preeklampsia juga harus mencakup koreksi nutrisi. Edukasi pola makan seimbang dengan sumber lokal serta pemanfaatan buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan media digital penting untuk memperkuat komunikasi dokter-pasien dan mencegah dampak lintas generasi malnutrisi.
Kesimpulan
Malnutrisi pada ibu hamil khususnya defisiensi mikronutrien, seperti zat besi, folat, vitamin D, yodium, dan zinc, berdampak serius terhadap ibu dan janin. Kombinasi malnutrisi makronutrien dan mikronutrien berkontribusi pada mortalitas dan siklus kemiskinan lintas generasi sehingga diperlukan intervensi nutrisi terpadu.
Tenaga kesehatan berperan penting melalui intervensi berbasis bukti seperti suplementasi Multiple Micronutrient Supplements (MMS) dan kalsium, skrining gizi, edukasi diet, dan manajemen individual. Pendekatan ini perlu diintegrasikan dalam layanan antenatal sebagai standar praktik di Indonesia sesuai dengan pedoman Kemenkes, didukung peran aktif dokter dalam edukasi dan advokasi gizi ibu hamil.
