Panduan praktis cara melakukan rehidrasi pada anak balita tanpa tanda syok diperlukan karena dehidrasi bisa meningkatkan morbiditas dan mortalitas pada anak usia di bawah 5 tahun secara bermakna. Dehidrasi pada balita telah dilaporkan berkaitan dengan komplikasi berat seperti gagal ginjal, aritmia, hingga kematian.[1,2]
Dehidrasi didefinisikan sebagai kondisi di mana tubuh kehilangan cairan. Dehidrasi pada anak dapat disebabkan oleh diare akut, muntah, demam, atau penurunan asupan oral. Gastroenteritis akut merupakan penyebab tersering kehilangan cairan pada kelompok anak. Dehidrasi juga sering terjadi pada anak dengan malnutrisi akut berat dan menjadi penyulit yang meningkatkan morbiditas dan mortalitas.[2]
- Nilai Derajat Dehidrasi dan Tentukan Pendekatan Rehidrasi Terbaik Sesuai Kondisi Pasien
Penentuan derajat dehidrasi pada balita dilakukan berdasarkan persentase kehilangan berat badan dan manifestasi klinis yang muncul. Karena bayi memiliki proporsi cairan tubuh lebih tinggi (70–80% berat badan) dibandingkan anak yang lebih besar (60–65%), kehilangan cairan dalam jumlah relatif kecil dapat menyebabkan perburukan klinis yang lebih cepat. Strategi manajemen terbaik ditentukan berdasarkan derajat dehidrasi.
Pada dehidrasi ringan–sedang, rehidrasi oral menggunakan cairan rehidrasi oral (ORS) osmolaritas rendah menjadi pilihan. Bila anak sulit minum, menolak cairan, atau mengalami muntah, rehidrasi enteral melalui nasogastric tube (NGT) atau orogastric tube (OGT) dapat dipilih. Rehidrasi intravena menggunakan cairan kristaloid isotonik, seperti normal salin dan ringer laktat (RL), diindikasikan pada dehidrasi berat atau bila terapi oral/enteral gagal.[2-9]
Tabel 1. Penilaian Derajat Dehidrasi dan Pilihan Pendekatan Rehidrasi Terbaik
| Derajat Dehidrasi | Manifestasi Klinis | Strategi Manajemen |
| Dehidrasi ringan (Kehilangan 3–5% BB) | Sadar penuh, mata normal, mukosa basah, turgor segera kembali, pengisian kapiler (CRT) dan tanda vital normal, urin sedikit berkurang. | Terapi Rehidrasi Oral (TRO): · Rawat jalan atau observasi di faskes. |
| Dehidrasi sedang (Kehilangan 6–10% BB) | Gelisah/rewel, mukosa kering, mata agak cekung, turgor kembali lambat, CRT 2–3 detik, takikardia ringan, urin berkurang nyata. | Terapi Rehidrasi Oral atau Enteral: · Gunakan NGT/OGT jika anak menolak minum atau TRO gagal. |
| Dehidrasi berat (Kehilangan >10% BB) | Lesu/penurunan kesadaran, mukosa sangat kering, turgor >2 detik, CRT >3 detik (akral hangat), takikardia, anuria. | Rehidrasi Intravena (IV): · Koreksi cairan intravena, bisa menggunakan cairan normal salin atau ringer laktat. |
- Protokol Pemberian Cairan Aktif
Prioritas penanganan dehidrasi yaitu pengenalan dini gejala, identifikasi tingkat dehidrasi, mengembalikan defisit cairan dan elektrolit, mengganti kehilangan cairan yang berkelanjutan, dan mempertahankan cairan.[2]
Dehidrasi Derajat Ringan-Sedang: Protokol Cairan Oral dan Enteral
Jika dilakukan rehidrasi oral pada balita, pilihan cairan adalah oralit dengan osmolaritas rendah ≤ 250 mOsm/L. Target volume cairan adalah sebagai berikut:
- Dehidrasi ringan: 50 mL/kg dalam 4 jam
- Dehidrasi sedang: 100 mL/kg dalam 4 jam
- Kehilangan cairan berkelanjutan (ongoing losses): tambahkan 10 mL/kg (maksimal 240 mL) setiap kali diare atau muntah.
- Evaluasi ulang setelah 4 jam: Jika masih ada dehidrasi, lanjutkan rehidrasi.[2,8]
Tips dalam memberikan cairan oral adalah:
- Berikan sedikit demi sedikit: 5 mL (1 sendok teh) setiap 5 menit, bisa dinaikkan bertahap sesuai toleransi anak
- Jika jalur oral gagal atau anak menolak minum, pasang NGT atau OGT untuk menyalurkan target volume cairan
- Tingkatkan kepatuhan anak dengan menambahkan sedikit sirup perasa atau membekukan oralit menjadi es batu atau es lilin.[2,8,9]
Dehidrasi Berat atau Rehidrasi Oral Gagal: Protokol Cairan Intravena
Rehidrasi intravena bisa dibagi dalam dua fase, yaitu fase awal untuk memperbaiki volume intravaskular dan fase rumatan.[2,4,6,7]
Fase 1: Perbaikan Volume Intravaskular
Jenis cairan yang dianjurkan adalah cairan kristaloid isotonik, seperti ringer laktat (RL) dan cairan normal salin. Perlu diketahui bahwa terdapat kekhawatiran terjadinya asidosis metabolik hiperkloremik pada penggunaan cairan normal salin, sehingga beberapa praktisi lebih menyukai penggunaan ringer laktat. Namun, belum ada penelitian spesifik pada kelompok anak untuk memastikan besaran risiko tersebut.
- Bolus awal: 20 mL/kg selama 20–30 menit. Evaluasi tanda vital. Ulangi jika hipovolemia belum teratasi.
- Lanjutkan pemberian cairan hingga total mencapai 70–100 mL/kg dalam 3–6 jam pertama.[2,4,6,7]
Fase 2: Cairan Rumatan (Rumus Holliday-Segar)
Segera transisikan ke jalur oral jika kondisi anak sudah stabil. Jika pasien masih memerlukan cairan intravena rumatan, volume cairan bisa diberikan sesuai rumus Holliday-Segar:
- 10 kg pertama: 100 mL/kg/hari
- 10 kg kedua (11–20 kg): +50 mL/kg/hari
- Setiap kg di atas 20 kg: +20 mL/kg/hari
Gunakan cairan rumatan yang mengandung dekstrosa, misalnya KA-EN 3B atau D5% 0,45% NS. Tambahkan KCl 20 mEq/L setelah anak bisa buang air kecil.
Jika kadar gula darah sewaktu (GDS) <60 mg/dL, berikan bolus D10% sebanyak 5–10 mL/kg IV.[2,4,6,7]
- Rehidrasi pada Kondisi Khusus: Anak dengan Malnutrisi Akut Berat
Pada anak dengan malnutrisi, terdapat risiko tinggi terjadi kelebihan cairan (fluid overload) yang fatal dan gagal jantung. Rehidrasi perlu dilakukan secara lambat dan jauh lebih konservatif. Cairan yang digunakan adalah cairan Rehydration Solution for Malnourished (ReSoMal).
- Jangan berikan oralit standar karena kandungan natriumnya terlalu tinggi.
- Cairan pilihan: ReSoMal (Na 45, K 40, Glukosa 125 mmol/L) dengan kecepatan 5–10 mL/kg/jam secara oral atau dengan NGT, maksimal selama 12 jam.
- Cairan alternatif jika ReSoMal tidak ada: encerkan 1 saset Oralit standar ke dalam 2 liter air + 50 gram gula pasir + 40 mL larutan Mineral Mix/KCl.
- Jika terpaksa jalur IV: cairan intravena hanya diberikan jika anak letargi total atau syok. Gunakan cairan hipotonik seperti setengah kekuatan cairan Darrow dengan D5%, RL dengan D5%, atau 0,45% NaCl dengan D5%.
Pada anak yang dicurigai menderita kolera atau mengalami diare cair profuse, dapat digunakan cairan rehidrasi oral standar WHO tanpa pengenceran tambahan untuk menggantikan kehilangan cairan yang lebih besar.[1,3-5,10,11]
- Pemantauan Tanda Bahaya dan Kriteria Pulang
Pemantauan dilakukan untuk mencegah dan mendeteksi potensi komplikasi dari dehidrasi atau kelebihan rehidrasi. Dehidrasi dapat menimbulkan komplikasi yang mengancam jiwa seperti gangguan elektrolit, kejang, koma, gagal ginjal akut, hingga syok hipovolemik.[1,2,7]
Pemantauan mencakup perbaikan status hidrasi dan deteksi dini kegagalan terapi. Evaluasi klinis sebaiknya dilakukan secara berkala dengan menilai tingkat kesadaran, frekuensi nadi dan napas, kelembapan mukosa mulut, rasa haus, turgor kulit, mata cekung, pengisian kapiler (CRT), serta produksi urin.
Catat jumlah cairan yang masuk dan keluar bila memungkinkan, dan pastikan anak mulai berkemih secara teratur sebagai tanda perbaikan perfusi. Keberhasilan rehidrasi ditandai dengan:
- Anak tampak lebih aktif
- Mukosa mulut lembap
- Rasa haus berkurang
- Mata tidak lagi cekung
- Pengisian kapiler (CRT) normal <2 detik
- Buang air kecil teratur.
Edukasikan pada orang tua untuk segera kembali ke unit gawat darurat jika muncul tanda bahaya seperti:
- Anak kembali lemas, tidur terus, atau sulit dibangunkan.
- Muntah terus-menerus atau berwarna hijau/hitam.
- Diare semakin sering dengan volume yang banyak.
- Tangan dan kaki teraba dingin.
- Anak tidak mau minum sama sekali.[2,7,11,12]
Kesimpulan
Rehidrasi merupakan terapi utama pada tata laksana dehidrasi anak balita. Rehidrasi dilakukan berdasarkan derajat dehidrasi, kondisi klinis, serta kemampuan anak dalam menerima rute cairan.
Pada dehidrasi ringan-sedang, terapi oral dengan cairan rehidrasi oral menjadi pilihan. Pada anak yang sulit menerima rute oral, rute enteral dengan nasogatric tube atau orogastric tube dapat menjadi alternatif. Rute intravena dengan kristaloid isotonik dapat diberikan pada dehidrasi berat atau bila anak tidak dapat mentoleransi terapi oral maupun parenteral.
Selama melakukan rehidrasi, pantau tanda-tanda klinis, kadar elektrolit dan glukosa. Keberhasilan rehidrasi ditandai oleh anak tampak lebih aktif, mukosa lembap, pengisian kapiler normal, dan produksi urin. Jika anak akan dipulangkan, pastikan untuk mengedukasi orang tua mengenai warning sign seperti penurunan kesadaran, muntah terus-menerus, diare semakin banyak, dan anak tampak lemas.
