Beberapa studi menunjukkan bahwa dermatitis atopik atau eczema atopik dapat dicegah secara primer. Dermatitis atopik merupakan suatu penyakit peradangan kulit yang bersifat kronik. Sekitar 1 dari 5 individu selama masa hidupnya mengalami dermatitis atopik.
Dermatitis atopik dapat menyebabkan kulit menjadi lebih rentan terkena infeksi. Oleh karena itu, diperlukan penanganan yang menyeluruh pada penatalaksanaan dermatitis atopik. Beberapa upaya yang dilakukan dalam menangani dermatitis atopik adalah menghindari faktor pemicu atau alergen, mengontrol faktor eksaserbasi di lingkungan, serta mengembalikan fungsi hidrasi kulit.[1,2]
Memahami Dermatitis Atopik
Dermatitis atopik merupakan suatu kondisi peradangan kronik pada kulit, yang ditandai dengan adanya ruam dan rasa gatal yang dipicu oleh paparan alergen tertentu. Dermatitis atopik terjadi akibat interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan, fungsi proteksi kulit, dan respon peradangan imunologis.[1,2]
Dermatitis atopik dapat terjadi sejak bayi. Oleh karena itu, pencegahan primer dan sekunder perlu dilakukan sedini mungkin. Pendekatan pencegahan primer bertujuan untuk menurunkan risiko terjadinya dermatitis atopik kutaneus pada bayi dengan risiko tinggi. Pencegahan sekunder bertujuan untuk menurunkan durasi dan berat ruam kulit serta mencegah kekambuhan ketika dermatitis atopik telah terjadi.[3]
Bukti Ilmiah Untuk Pencegahan Primer Dermatitis Atopik
Saat ini, telah berkembang beberapa penelitian yang mencoba membuktikan penggunaan berbagai modalitas tata laksana yang dapat mencegah dermatitis atopik secara primer.
Penggunaan Pelembab dalam Pencegahan Dermatitis Atopik
Sebuah uji klinis mengevaluasi efektivitas penggunaan pelembab (moisturizer) selama periode neonatus untuk mencegah terjadinya dermatitis atopik dan sensitisasi alergi. Pada uji klinis ini, pelembab diberikan pada 59 dari 118 neonatus risiko tinggi selama 32 minggu.
Hasil menunjukkan bahwa penggunaan pelembab dengan tipe emulsi selama 32 minggu pertama kehidupan memiliki efek proteksi terhadap dermatitis atopik (risiko lebih rendah 32% dibandingkan kontrol). Pada grup intervensi didapatkan hidrasi stratum korneum yang lebih tinggi pada usia 12 dan 24 minggu dibandingkan dengan grup kontrol.[4]
Uji klinis lain terhadap 60 neonatus juga menemukan hasil serupa. Menurut uji klinis ini, pemberian pelembap pada masa neonatus efektif dalam pencegahan dermatitis atopik. Meski demikian, perlu dicatat bahwa uji klinis ini memiliki sampel yang kecil dan ada keterlibatan produsen pelembap yang mungkin menimbulkan bias.[5]
Uji klinis lain dengan jumlah sampel yang lebih besar adalah uji klinis STOP-AD. Uji klinis acak terkontrol ini melibatkan 321 neonatus yang berisiko tinggi mengalami dermatitis atopik. Hasil uji klinis ini menunjukkan bahwa neonatus risiko tinggi yang menggunakan pelembap setiap hari akan mengalami penurunan insidensi terjadinya dermatitis atopik di tahun pertama kehidupan.[6]
Suplementasi Probiotik dalam Pencegahan Dermatitis Atopik
Sebuah meta analisis pada 18 penelitian melaporkan bahwa penggunaan probiotik dapat menurunkan insidensi dermatitis atopik sebanyak 20%. Hasil tersebut didukung oleh meta analisis lain terhadap 16 Randomised Controlled Trials (RCT), yang menyimpulkan bahwa probiotik memiliki efek protektif terhadap dermatitis atopik.
Pada meta analisis ini didapatkan bahwa pemberian probiotik akan bersifat protektif apabila diberikan sejak bayi masih dalam kandungan dan dilanjutkan hingga postnatal. Efek protektif ini ditemukan pada populasi risiko tinggi dan juga populasi normal. Meta analisis ini menyarankan probiotik diberikan pada beberapa minggu akhir masa kehamilan dan dilanjutkan sampai sebulan pertama kehidupan bayi.
Probiotik yang digunakan dalam kedua studi di atas bervariasi, di antaranya Lactobacillus reuteri, Lactobacillus rhamnosus, dan Lactobacillus acidophilus. Meski begitu, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan efikasi pemberian probiotik sebagai pencegahan primer dermatitis atopik karena studi yang tersedia masih sangat heterogen dan memiliki risiko bias tinggi.[7,8]
Rekomendasi Pedoman Klinis Untuk Pencegahan Primer Dermatitis Atopik
Pada tahun 2026, American Academy of Dermatology mempublikasikan pedoman pencegahan primer dermatitis atopik. Pedoman klinis ini memberikan rekomendasi kondisional untuk penggunaan pelembap sebagai modalitas pencegahan primer dermatitis atopik. Hal ini karena sudah ada bukti ilmiah yang mendukung efikasi penggunaan pelembap untuk pencegahan primer dermatitis atopik, tetapi masih terdapat heterogenitas antar bukti yang tersedia.
Lebih lanjut, pedoman ini tidak merekomendasikan intervensi diet maupun suplementasi tertentu sebagai pencegahan primer dermatitis atopik. Ini termasuk tidak direkomendasikannya pemberian probiotik, prebiotik, sinbiotik, maupun vitamin D untuk tujuan pencegahan primer dermatitis atopik.[1]
Kesimpulan
Dermatitis atopik merupakan suatu peradangan kronik pada kulit yang lebih sering mengenai bayi dan anak. Dermatitis atopik disebabkan oleh ketidakseimbangan sistem imun adaptif dan gangguan pada fungsi proteksi dan hidrasi kulit. Bukti ilmiah yang tersedia masih sangat heterogen, sehingga kekuatan bukti yang ada belum cukup untuk memastikan modalitas apa yang paling baik untuk pencegahan primer dermatitis atopik.
Beberapa bukti terbatas mengindikasikan manfaat dari pemberian pelembap sejak masa neonatus dalam mencegah dermatitis atopik pada bayi risiko tinggi. Meski demikian, uji klinis acak terkontrol dengan jumlah sampel lebih besar dan intervensi yang lebih terstandar masih diperlukan untuk memastikan cara terbaik untuk pencegahan primer dermatitis atopik.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
