Epidemiologi Kista Ganglion
Epidemiologi kista ganglion secara global menunjukkan data insiden yang lebih sering pada wanita, dengan rentang usia 20 – 50 tahun. Di Indonesia sendiri masih belum terdapat data statistik mengenai kista ganglion.[2,3,7]
Global
Menurut data statistik yang dilakukan di Polandia pada 520 pasien dengan kista ganglion, wanita lebih sering terkena kista ganglion dibandingkan laki-laki dengan rasio 2,8:1. Insidensi terjadinya kista ganglion adalah 43 per 100.000 pada wanita dan 25 per 100.000 pada laki-laki per tahun. Rata-rata usia dari pasien dengan kista ganglion pada studi tersebut adalah 41,3 tahun dan di atas 42% dari pasien berusia antara 20-40 tahun.[7]
Berdasarkan data epidemiologi, pasien umumnya mengeluhkan benjolan di area pergelangan tangan atau jari tangan. Pada sebagian kasus, benjolan dapat menyebabkan nyeri dan keterbatasan range of motion (ROM) yang diketahui dari pemeriksaan fisik.[2,3]
Meskipun umumnya terjadi pada sendi pergelangan namun pada kasus yang sangat jarang, kista ganglion dapat muncul di area lutut. Kista ganglion area lutut dikaitkan dengan anterior cruciate ligament (ACL) atau cedera lutut depan yang mana merupakan kasus yang umumnya dapat terdeteksi melalui pemeriksaan MRI.[2,6]
Indonesia
Hingga saat ini belum terdapat data epidemiologi kista ganglion di Indonesia.
Mortalitas
Kista ganglion jarang berhubungan dengan mortalitas karena tidak bersifat ganas maupun mengancam nyawa. Namun, kista ini dapat menimbulkan morbiditas berupa nyeri, rasa tidak nyaman, kelemahan genggam, keterbatasan gerak sendi, gangguan aktivitas sehari-hari, serta masalah kosmetik yang memengaruhi kualitas hidup pasien.
Pada beberapa kasus, terutama bila ukurannya besar atau lokasinya menekan struktur di sekitarnya, kista ganglion dapat menyebabkan kompresi saraf yang memunculkan parestesia atau gangguan sensorik. Walaupun sebagian kista dapat mengalami resolusi spontan, banyak pasien mencari terapi karena gejala menetap atau kekambuhan berulang.
Rekurensi merupakan masalah utama dalam tata laksana kista ganglion. Angka kekambuhan bervariasi tergantung metode terapi, dengan aspirasi sederhana memiliki angka rekurensi lebih tinggi dibandingkan eksisi bedah. Faktor-faktor yang memengaruhi rekurensi meliputi lokasi kista, aktivitas berulang pada sendi terkait, serta adanya hubungan kista dengan kapsul sendi atau tendon sheath yang tetap persisten.[1-3,5,7,8]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha