Penatalaksanaan Kista Ganglion
Penatalaksanaan kista ganglion dapat berupa tata laksana konservatif, seperti aspirasi, juga dapat berupa pembedahan. Pada banyak kasus, kista ganglion bisa sembuh dengan terapi nonbedah. Indikasi eksisi kista ganglion adalah adanya nyeri, keterbatasan gerak, dan gangguan saraf.[1-3]
Konservatif
Tata laksana konservatif dari kista ganglion dapat berupa aspirasi, injeksi steroid, skleroterapi, hyaluronidase, dan imobilisasi. Tata laksana tersebut dapat dikombinasikan atau dilakukan secara terpisah. Pendekatan ini dapat menghasilkan resolusi kista ganglion pada lebih dari 50% pasien.[1-3]
Aspirasi
Tindakan aspirasi dilakukan menggunakan jarum berukuran besar. Tingkat keberhasilan dari aspirasi pada kista ganglion bervariasi, bergantung pada lokasi kista. Pada kista ganglion pergelangan tangan dorsal, aspirasi dilaporkan menghasilkan resolusi pada hingga 85% kasus. Pada kasus kista tendon sheath, keberhasilan aspirasi dilaporkan mencapai 92%.[1-3]
Imobilisasi
Imobilisasi umumnya dilakukan setelah aspirasi. Imobilisasi bertujuan untuk mencegah pergerakan pergelangan tangan yang dapat memompa cairan sinovial dan mengisi kista ganglion kembali.
Hasil dari tata laksana tersebut menimbulkan kontroversi. Menurut sebuah studi, imobilisasi selama 3 bulan setelah aspirasi memiliki tingkat kesuksesan yang lebih tinggi apabila dilakukan pada kista ganglion yang terletak pada bagian dorsal carpal.
Namun, menurut studi lain tata laksana imobilisasi tidak memiliki tingkat kesuksesan yang signifikan dan dapat menimbulkan efek samping seperti ketidaknyamanan, kaku sendi, dan menurunkan range of motion (ROM.[2,14]
Injeksi Steroid
Tata laksana dengan menggunakan steroid dilakukan dengan cara injeksi setelah aspirasi. Meski demikian, bukti yang mendukung manfaat injeksi steroid masih lemah. Tingkat kesuksesan dari menambahkan injeksi steroid tidak lebih baik dibandingkan dengan aspirasi secara monoterapi.[1-4]
Skleroterapi
Skleroterapi merupakan tata laksana yang digunakan untuk kista ganglion dengan cara menginjeksikan sklerosan ke dalam kantong ganglion yang akan menyebabkan fibrosis. Skleroterapi bertujuan untuk mengurangi angka rekurensi kista ganglion.
Meski demikian, menurut studi yang dilakukan oleh Mackie et al, tingkat kegagalan tindakan ini sebesar 94%. Selain itu, karena adanya penghubung pada kista ganglion dan synovial joint, sklerosan tersebut dapat masuk ke dalam sendi dan tendon yang berisiko menyebabkan cedera.[14]
Pembedahan
Pembedahan bisa dipilih pada kasus di mana kista ganglion menyebabkan nyeri, keterbatasan gerak, atau gangguan saraf. Meski demikian, rekurensi setelah tindakan bedah telah dilaporkan mencapai 40%.[1-3]
Eksisi Ganglion
Eksisi bedah terbuka (open excision) masih menjadi pilihan terapi operatif pada kista ganglion, terutama pada ganglion pergelangan tangan. Teknik ini bertujuan mengangkat seluruh kista beserta tangkainya untuk menurunkan risiko kekambuhan. Meskipun efektif, rekurensi tetap dapat terjadi dan dilaporkan mencapai sekitar 13–40% setelah eksisi terbuka. Pada ganglion volar, risiko kekambuhan lebih tinggi dibandingkan ganglion dorsal.
Eksisi artroskopik menjadi alternatif yang semakin banyak digunakan karena menggunakan insisi lebih kecil, meninggalkan jaringan parut minimal, serta memungkinkan visualisasi intraartikular yang lebih baik. Teknik ini juga membantu identifikasi kelainan lain, seperti cedera ligamentum atau robekan triangular fibrocartilage complex (TFCC).
Keberhasilan terapi bedah pada kista ganglion sangat dipengaruhi oleh teknik eksisi yang lengkap, terutama pengangkatan tangkai kista dan jaringan kapsul asal kista. Faktor lain yang memengaruhi rekurensi meliputi lokasi kista, jenis ganglion (volar lebih sering kambuh), serta adanya osteofit pada mucous cyst yang tidak ikut direseksi.
Setelah operasi, imobilisasi singkat selama 3–7 hari umumnya dianjurkan. Namun, mobilisasi dini dalam beberapa hari pertama dapat membantu mencegah kekakuan sendi.[1-3]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha