Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Etiologi Juvenile Angiofibroma annisa-meidina 2026-01-22T13:38:44+07:00 2026-01-22T13:38:44+07:00
Juvenile Angiofibroma
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Etiologi Juvenile Angiofibroma

Oleh :
dr.Nailla Fariq Alfiani
Share To Social Media:

Etiologi juvenile angiofibroma belum dipahami secara jelas, tetapi melibatkan faktor genetik, hormonal, dan embriologis. Interaksi antara faktor-faktor ini bisa menghasilkan pertumbuhan lokal agresif dan hipervaskularisasi, yang merupakan ciri khas juvenile angiofibroma yang mendasari risiko perdarahan.[1-4,14,15]

Teori Embriologis dan Vaskular

Menurut teori embriologis dan vaskular, juvenile angiofibroma berasal dari sisa struktur vaskular atau neural crest selama perkembangan nasofaring, termasuk pleksus arteri lengkung pertama dan cabang pertama (first branchial arch). Sisa ini bisa terdiferensiasi abnormal menjadi jaringan fibrovaskular, yang menjelaskan lokasi tumor yang khas di sekitar foramen sphenopalatine.[14,16]

Alternatifnya, tumor dapat muncul dari suatu malformasi vaskular, seperti arteriovenous malformation (AVM) yang bisa membentuk jaringan vaskular padat dengan aliran cepat (flow-related pattern).[1,3,16]

Teori Hormonal

Menurut teori hormonal, perkembangan juvenile angiofibroma berkaitan dengan hormon androgen. Hormon androgen merangsang proliferasi jaringan vaskular tumor. Sel-sel juvenile angiofibroma mengekspresikan reseptor androgen, estrogen, dan progesteron, yang memungkinkan pertumbuhan tumor selama pubertas.[14,16]

Teori Genetik dan Molekuler

Teori genetik dan molekuler terkait juvenile angiofibroma meliputi mutasi genetik seperti C-MYC (Cellular Myelocytomatosis Oncogene) maupun C-KIT (Cytokine Receptor KIT), kelainan kromosom pada 4q, 6q, 8q, 12, 17, 22q, X, dan Y, atau kondisi genetik seperti Familial Adenomatous Polyposis (FAP) dan Gardner syndrome.[4-7,15,16].

Ekspresi faktor pertumbuhan tertentu seperti vascular endothelial growth factor (VEGF) dan fibroblast growth factor receptor (FGFR) juga mendukung pembentukan jaringan vaskular padat yang menjadi ciri khas tumor.[1,3,16]

Teori Infeksi dan Lingkungan

Teori ini diambil dari beberapa studi yang menunjukkan kemungkinan peran human papillomavirus (HPV) dalam inisiasi ataupun progresivitas juvenile angiofibroma, yang mirip dengan mekanisme virus Epstein-Barr pada tumor lain. Faktor lingkungan seperti kebiasaan merokok juga diduga berkontribusi, meskipun bukti masih terbatas.[15,16]

Faktor Risiko

Faktor risiko juvenile angiofibroma mencakup faktor genetik, jenis kelamin laki-laki, usia remaja, dan kebiasaan merokok.[2,7-9,15]

Faktor Genetik

Faktor genetik dapat berkaitan dengan overekspresi reseptor fibroblast growth factor 3 (FGFR3) dan FGFR4, yang meningkatkan proliferasi sel vaskular tumor.[7,15]

Jenis Kelamin Laki-Laki dan Usia Remaja

Juvenile angiofibroma umumnya terjadi pada remaja laki-laki, yang mengindikasikan adanya peran hormon androgen dalam pertumbuhan tumor.[2,8]

Kebiasaan Merokok

Kebiasaan merokok berkaitan dengan paparan nikotin, yang dikaitkan dengan ekspresi FGFR dan potensi agresivitas tumor.[7,15]

Risiko Kekambuhan

Risiko kekambuhan terjadi bila tumor berukuran besar dan melibatkan tulang dan sinus. Tumor di lokasi invasif ke fossa pterigopalatina atau sinus dan pengangkatan yang tidak lengkap juga berisiko tinggi kambuh.[8,9]

Referensi

1. Nakayama S, Nishio J, Aoki M, Koga K, Nabeshima K, Yamamoto T. Angiofibroma of soft tissue: Current status of pathology and genetics. Histol Histopathol. 2022 Aug;37(8):717-722. doi: 10.14670/HH-18-444.
2. Josef Shargorodsky. Juvenile angiofibroma. UF Health. 2023. https://ufhealth.org/conditions-and-treatments/juvenile-angiofibroma
3. Shah UK. Juvenile angiofibroma. MSD Manual. 2025. https://www.msdmanuals.com/professional/pediatrics/miscellaneous-ear-nose-and-throat-disorders-in-children/juvenile-angiofibromas
4. Newman M, Nguyen TBV, McHugh T, Reddy K, Sommer DD. Early-onset juvenile nasopharyngeal angiofibroma (JNA): a systematic review. J Otolaryngol Head Neck Surg. 2023 Dec 19;52(1):85. doi: 10.1186/s40463-023-00687-w.
5. Alla SSM, Alla D, Ratheesh V, Ramineni PK, Singh A, K V, Siddiqua A. Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma: A Case Report of a Rare Adolescent Head and Neck Tumor. Cureus. 2023 Jan 11;15(1):e33633. doi: 10.7759/cureus.33633.
6. Arulappan LAS. Extranasopharyngeal angiofibroma in an adolescent male: a case report. International Journal of Otorhinolaryngology and Head and Neck Surgery. 2019;5(5):1416–1418. https://doi.org/10.18203/issn.2454-5929.ijohns20193895
7. Safhi FA, Al-Hazani TMI, Jalal AS, et al. FGFR3 and FGFR4 overexpression in juvenile nasopharyngeal angiofibroma: impact of smoking history and implications for personalized management. J Appl Genet. 2023 Dec;64(4):749-758. doi: 10.1007/s13353-023-00780-w.
8. Fang R, Sun W, Shi J, Xu R, Peng L, Lai Y, Chen F, Wen Y, Wen W, Li J. Risk Factors and Characteristics of the Recurrence of Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma: A 22-Year Experience With 123 Cases at a Tertiary Center. Clin Exp Otorhinolaryngol. 2022 Nov;15(4):364-371. doi: 10.21053/ceo.2022.01053.
9. Attya HMA, Hassouna MS, Shawky AA, Abdelmalek ME. Recurrent angiofibroma: analysis of risk factors and common sites of recurrence. Eur Arch Otorhinolaryngol. 2025 Jul;282(7):3611-3618. doi: 10.1007/s00405-025-09476-9.
14. Bernhard Schick, Lukas Pillong, and Silke Wemmert. The Embryological Basis of Juvenile Angiofibroma: A Unifying Hypothesis for Tumor Pathogenesis. J Clinical Research and Reports. 2025;19(5). doi:10.31579/2690-1919/521.
15. Doody J, Adil EA, Trenor CC, Cunningham MJ. The Genetic and Molecular Determinants of Juvenile Nasopharyngeal Angiofibroma: A Systematic Review. Annals of Otology, Rhinology & Laryngology. 2019;128(11):1061-1072. doi:10.1177/0003489419850194. https://journals.sagepub.com/doi/abs/10.1177/0003489419850194
16. Pieter NAL, et al. Juvenile nasopharyngeal angiofibroma characteristics at Dr. Wahidin Sudirohusodo Hospital Makassar 2011–2021. In Proceedings of the 19th Otorhinolaryngology Head and Neck Surgery National Congress (PERHATIKL 2022), Advances in Health Sciences Research. 2022. https://doi.org/10.2991/978-94-6463-280-4_37

Patofisiologi Juvenile Angiofibroma
Epidemiologi Juvenile Angiofibroma
Diskusi Terbaru
dr.Elizabeth Anastasya
Dibalas 05 Maret 2026, 08:25
Kumpulkan Alomedika Point untuk Webinar ber SKP Gratis - Ikuti Channel "STOP RSV"
Oleh: dr.Elizabeth Anastasya
1 Balasan
ALO Dokter.Jangan tunda lagi! Dapatkan 1.000 Alomedika Point dengan mengikuti langkah berikut: Klik link (dari aplikasi/HP) berikut:...
Anonymous
Dibalas 16 jam yang lalu
Keluhan pemakaian IUD
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO Dokter Selamat pagi, izin diskusi dok. Saya kemarin ketemu pasien P2A1H2, usia 39 taun, post sc dan pasang IUD 4 bulan yll. Pasien datang dgn keluhan...
Anonymous
Dibalas 04 Maret 2026, 13:48
Terapi lipoma non-bedah
Oleh: Anonymous
1 Balasan
ALO DokterSelamat pagi dok, Ijin bertanyaApakah bisa terapi lipoma tanpa bedah menggunakan injeksi DC ( Deoxycholic Acid) sebagai fat dissolver?Terimakasih

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.