Peran Agonis Reseptor GLP-1 terhadap Luaran Kardiovaskular Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2

Oleh :
dr. Hendra Gunawan SpPD-KKV

Obat golongan agonis reseptor GLP-1 atau glucagon-like peptide 1 menunjukkan efek positif terhadap luaran kardiovaskular pasien diabetes mellitus tipe 2. Hal ini penting diperhatikan, mengingat diabetes mellitus tipe 2 bisa menyebabkan komplikasi secara mikrovaskular maupun makrovaskular dan merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Strategi untuk memperbaiki luaran kardiovaskular pada pasien diabetes mellitus tipe 2 sangat diperlukan.[1]

Salah satu usaha untuk mengurangi morbiditas dan mayoritas kardiovaskular mayor (MACE) pada pasien diabetes mellitus tipe 2 (DMT2) adalah pencapaian faktor kendali glikemik yang baik. Temuan tinjauan sistematik sebelumnya mengonfirmasi bahwa kurang baiknya kendali kadar glukosa darah pada pasien DMT2 berhubungan dengan peningkatan risiko stroke, penyakit kardiovaskular, dan mortalitas secara umum.[2]

Peran Agonis Reseptor GLP-1 terhadap Luaran Kardiovaskular Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2

Oleh karena itu, diperlukan strategi untuk menurunkan glukosa darah secara intensif dan terkendali dengan pilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sesuai skenario klinis pasien, mengingat hal tersebut juga berpengaruh untuk menurunkan risiko komplikasi pada pasien DMT2.[3]

Sekilas tentang Kriteria Pengendalian Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Dewasa

Di Indonesia kriteria pasien DMT2 dinyatakan terkendali tidak hanya dari kadar A1c semata, tetapi juga evaluasi faktor-faktor metabolik dan parameter antropometri yang tercantum pada tabel 1. Pada pasien usia lanjut dengan komorbid, target kendali A1c dapat bersifat individual dalam rentang 7,0–8,0% tergantung pada kapasitas fungsional dan banyaknya faktor komorbid yang mendasari.[4]

Selain itu, pada skenario tertentu, apabila seseorang memiliki kondisi kesehatan yang amat buruk, maka kendali A1c tidak lagi menjadi target dan pemantauan status glikemik didasarkan pada kualitas hidup yang baik dan pencegahan hipoglikemia.[4]

Tabel 1. Target Pengendalian DMT2 pada Pasien Dewasa yang Tidak Hamil

Parameter Target
IMT 18.5-22.9 kg/m2
Tekanan darah sistolik <140 mmHg
Tekanan darah diastolik <90 mmHg
HbA1c <7% atau individual
Glukosa darah pre-prandial kapiler 80-130 mg/dL
Glukosa darah 1-2 jam post-prandial <180 mg/dL
Kolesterol-LDL

<100 mg/dL (Risiko sedang)

<70 mg/dL (Risiko tinggi)

<55 mg/dL (Risiko sangat tinggi)

Kolesterol non-HDL

<130 mg/dL (Risiko sedang)

<100 mg/dL (Risiko tinggi)

<80 mg/dL (Risiko sangat tinggi)

Trigliserida <150 mg/dL
Apo-B <90 mg/dL

Sumber: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2024.

Agonis Reseptor GLP-1 untuk Mencegah MACE pada Diabetes Mellitus Tipe 2

Pada pasien DMT2, intensivitas penurunan kadar glukosa darah dapat dicapai dengan kombinasi terapi gaya hidup, olahraga, dan pemilihan obat hipoglikemik oral. Salah satu golongan obat hipoglikemik oral, yakni agonis reseptor GLP-1, telah diteliti memiliki efektivitas baik untuk mencapai kendali glikemik dengan menurunkan kadar glukosa 3.12 mmol/L atau HbA1c 2.1% dalam waktu minimal 12 minggu. Namun, efektivitas agonis reseptor GLP-1 untuk mencegah MACE masih belum banyak dipublikasikan.[5]

Menjawab pertanyaan tersebut, Neugebauer et al. melakukan suatu uji klinis mengenai efektivitas berbagai obat hipoglikemik oral berdasarkan Real World Data (RWD). Uji ini melibatkan kohort 4-arm berjumlah 241.981 subjek. Parameter klinis subjek pada awal pengobatan tidak jauh berbeda antar kelompok (HbA1c 8.6–9.3%, sistolik 129.2–130.6 mmHg, dan diastolik 72.7-75.0 mmHg). Komorbid yang paling sering adalah hipertensi, atrial fibrilasi, penyakit jantung koroner, dan depresi.[6]

Setelah menilai luaran penelitian ini secara 2-arm, didapatkan bahwa penurunan risiko MACE oleh agonis reseptor GLP-1 lebih superior daripada sodium-dependent glucose transporter-2 inhibitor (SGLT2i) (p<0.001), sulfonilurea (p<0.001), maupun dipeptidyl peptidase-4 inhibitor (DPP4i) (p<0.001). Perbandingan risiko kumulatif MACE 2.5 tahun antara DPP4i dan sulfonilurea adalah 1.9%, sedangkan perbandingan risiko kumulatif MACE 2.5 tahun antara SGLT2i dan agonis reseptor GLP-1 adalah 1.5%.[6]

Pada pasien dengan penyakit jantung aterosklerosis, risiko MACE pada tiap kelompok pengobatan tidak jauh berbeda. Efek protektif terhadap MACE pada kelompok agonis reseptor GLP-1RA paling baik pada pasien dengan ASCVD, gagal jantung, usia ≥65 tahun, dan gangguan fungsi ginjal moderat. Sementara itu, pada kelompok usia muda, penurunan risiko MACE pada kelompok agonis reseptor GLP-1 tidak jauh berbeda dengan SGLT2i.[6]

Uji klinis yang membandingkan efektivitas agonis reseptor GLP-1 dan metformin secara head-to-head belum dipublikasikan. Akan tetapi, berbagai tinjauan sistematik mengenai penambahan agonis reseptor GLP-1 pada pasien DMT2 yang sedang mengonsumsi metformin telah dipublikasikan oleh Zhang et al.[7]

Zhang et al. melaporkan bahwa agonis reseptor GLP-1 atau SGLT2i menurunkan risiko komplikasi kardiovaskular pada pasien DMT2 yang telah mengonsumsi metformin (HR: 0.95, 95%IK: 0.91-0.99, p=0.02). Penurunan risiko juga dijumpai pada pasien yang belum pernah mengonsumsi metformin (HR: 0.79, 95%IK: 0.65-0.95, p=0.01). Oleh sebab itu, agonis reseptor GLP-1 atau SGLT2i secara independen dapat menurunkan risiko terjadinya MACE pada pasien DMT2 terlepas dari riwayat pengobatan.[7]

Kesimpulan

Diabetes mellitus tipe 2 bisa menyebabkan komplikasi secara mikrovaskular maupun makrovaskular, sehingga menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas kardiovaskular. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang juga mempunyai efek protektif terhadap sistem kardiovaskular menjadi perhatian khusus karena hal ini.

Agonis reseptor GLP-1 seperti semaglutide dilaporkan dapat mengurangi risiko MACE pada pasien DMT2. Efek protektif tersebut dilaporkan lebih superior daripada golongan SGLT2i, sulfonilurea, maupun DPP4i. Namun, kembali lagi, pemilihan obat hipoglikemik perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien dan juga ada tidaknya limitasi biaya. Selain itu, kombinasi dengan perbaikan gaya hidup juga tetap perlu dicanangkan.

Referensi