WHO mempublikasikan Global Tuberculosis Report atau laporan tuberkulosis global pada tahun 2025. Dalam publikasi tersebut, WHO menekankan bahwa tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar di dunia, padahal TB merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan.
Meskipun berbagai program pengendalian TB telah dijalankan selama beberapa dekade, laporan Global Tuberculosis Report 2025 menyatakan masih ada sekitar 10,7 juta orang mengalami TB pada tahun 2024 dan sekitar 1,23 juta orang meninggal akibat penyakit TB, menjadikan TB sebagai penyebab utama kematian akibat penyakit infeksi di dunia.[1]
Menurut WHO, tanpa pengobatan, angka kematian akibat tuberkulosis (TB) sangat tinggi, yakni mendekati 50%. Dengan pengobatan yang direkomendasikan, sekitar 90% penderita TB dapat disembuhkan.
Dalam laporan ini, WHO menyebutkan bahwa beberapa negara telah berhasil menurunkan beban penyakit TB menjadi kurang dari 10 kasus dan kurang dari 1 kematian per 100.000 penduduk per tahun. Komitmen politik untuk mengakhiri epidemi TB juga semakin meningkat dalam tahun-tahun terakhir. Lembaga PBB juga telah menyelenggarakan dua pertemuan tingkat tinggi mengenai TB, yang pertama di tahun 2018 dan yang kedua di tahun 2023.[1]
Tabel 1. Sekilas tentang Strategi Pengentasan TB 2023
| VISI | DUNIA YANG BEBAS TBC (tidak ada kematian, penyakit, dan penderitaan akibat TB) | |||
| TUJUAN | AKHIRI EPIDEMI TBC GLOBAL | |||
|
INDIKATOR | TARGET | |||
| 2020 | 2025 | 2030 | 2035 | |
| Persentase penurunan jumlah absolut kematian akibat TBC (dibandingkan dengan tahun dasar 2015) | 35% | 75% | 90% | 95% |
| Persentase penurunan tingkat insiden TB (dibandingkan dengan tahun dasar 2015) | 20% | 50% | 80% | 90% |
| Persentase rumah tangga yang terkena dampak TB yang menghadapi biaya total yang sangat besar akibat TB (tingkat pada tahun 2015 tidak diketahui) | 0% | 0% | 0% | 0% |
| PRINSIP ● Pengelolaan dan akuntabilitas pemerintah, disertai pemantauan dan evaluasi ● Koalisi yang kuat dengan organisasi masyarakat sipil dan komunitas ● Perlindungan dan promosi hak asasi manusia, etika, dan keadilan ● Penyesuaian strategi dan target di tingkat negara, dengan kolaborasi global PILAR DAN KOMPONEN ● Perawatan dan pencegahan terintegrasi yang berorientasi pada pasien ● Kebijakan yang tegas dan sistem penunjang ● Penelitian dan inovasi yang ditingkatkan | ||||
Sumber: WHO, Global TB Report, 2025.[1]
WHO melalui End TB Strategy menargetkan penurunan insiden TB sebesar 80% dan penurunan kematian sebesar 90% pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2015. Namun sebagian besar negara masih jauh dari target tersebut, terutama setelah pandemi COVID‑19 yang mengganggu layanan TB. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara dengan beban TB tertinggi di dunia dan memiliki peran penting dalam pencapaian target pengendalian TB.[1]
Temuan Utama Dalam Laporan Tuberkulosis Global 2025
Global TB Report 2025 menyatakan bahwa jumlah orang yang sakit akibat TB secara global mencapai sekitar 10,7 juta kasus pada tahun 2024, sedikit menurun dibandingkan dengan 10,8 juta kasus pada tahun 2023. Penurunan ini merupakan penurunan pertama sejak tahun 2020, setelah tiga tahun sebelumnya mengalami peningkatan kasus akibat dampak pandemi COVID-19 terhadap layanan TB.
Selain itu, jumlah kasus TB yang dilaporkan (case notifications) mencapai sekitar 8,3 juta pada tahun 2024, meningkat dibandingkan dengan 7,1 juta kasus pada tahun 2019 sebelum pandemi. Peningkatan ini sebagian besar disebabkan oleh pemulihan layanan diagnosis TB setelah pandemi, penemuan kasus TB yang tertunda selama pandemi, hingga peningkatan transmisi TB akibat keterlambatan diagnosis sebelumnya.
Meski begitu, tren TB tidak seragam di seluruh dunia. Beberapa wilayah menunjukkan pemulihan diagnosis yang signifikan setelah pandemi, sementara wilayah lain masih menghadapi tantangan besar. Sebagai contoh, wilayah Asia Tenggara dan Afrika menunjukkan peningkatan diagnosis TB setelah pandemi, sedangkan wilayah Eropa dan Amerika mengalami penurunan kasus yang lebih stabil.[1]
Drug-Resistant Tuberculosis
TB resisten obat, terutama multidrug-resistant TB (MDR-TB) dan rifampicin-resistant TB (RR-TB), merupakan sebuah tantangan besar dalam pengendalian TB global. Pada tahun 2024, dilaporkan sekitar 164.545 pasien MDR/RR-TB memulai pengobatan, angka ini sedikit menurun dibandingkan laporan 177.017 pasien pada tahun 2023.
Jumlah ini diperkirakan hanya mewakili sekitar 42% dari total kasus MDR-TB global. Fakta ini menunjukkan masih terdapat kesenjangan besar antara jumlah pasien yang terdiagnosis dengan yang mendapatkan pengobatan.
Meskipun masih ditemukan banyak tantangan, outcome dari pengobatan, MDR-TB menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan. Tingkat keberhasilan pengobatan meningkat menjadi 71% pada kohort pasien yang memulai pengobatan tahun 2022, dibandingkan dengan 50% pasien yang dilaporkan pada tahun 2012. Peningkatan ini diperkirakan terjadi karena penggunaan regimen obat baru yang lebih efektif dan lebih singkat.[1]
Diagnosis Tuberkulosis
Diagnosis TB telah mengalami kemajuan besar dalam beberapa tahun terakhir, terutama dengan penggunaan tes cepat molekuler (TCM). WHO menekankan pentingnya diagnosis bakteriologis TB, pengujian resistensi rifampicin, serta penggunaan teknologi molekuler cepat saat melakukan pemeriksaan dan penegakan diagnosis TB.
Pada tahun 2024, dilaporkan sekitar 83% pasien TB dengan konfirmasi bakteriologis telah diperiksa resistensi rifampicin, meningkat dibandingkan 79% pada tahun 2023 dan 69% pada tahun 2021. Kemajuan ini menunjukkan telah terjadi peningkatan akses terhadap diagnosis MDR-TB secara global.
Selain itu, WHO juga mengeluarkan panduan terbaru terkait diagnosis TB yang mengintegrasikan deteksi, diagnosis dan deteksi resistensi obat TB dalam satu pedoman terpadu. WHO juga memperkenalkan penggunaan teknologi computer-aided detection (CAD) untuk skrining TB menggunakan radiografi digital, yang dapat membantu meningkatkan deteksi TB terutama di daerah yang memiliki keterbatasan tenaga radiologi.[1]
Terapi Tuberkulosis
Tingkat keberhasilan terapi pada TB sensitif mencapai sekitar 88% pada pasien yang memulai pengobatan tahun 2023. Regimen standar 6 bulan masih menjadi pilihan terapi utama untuk TB sensitif obat.
Di sisi lain, WHO kini memprioritaskan regimen oral pendek selama 6 bulan untuk MDR-TB. Dua regimen utama yang saat ini direkomendasikan adalah BPaLM (bedaquiline, pretomanid, linezolid, moxifloxacin) dan BDLLfxC (bedaquiline, delamanid, linezolid, levofloxacin, clofazimine). Kedua pilihan regimen ini memiliki durasi pengobatan yang lebih pendek (6 bulan) dibandingkan regimen lama yang memerlukan 18–20 bulan pengobatan.
Penggunaan regimen pendek ini pun meningkat pesat secara global. Pada tahun 2024, sekitar 34.256 pasien MDR-TB dilaporkan menggunakan regimen 6 bulan, meningkat drastis dibandingkan hanya 1.744 pasien pada tahun 2022. Regimen pendek ini memiliki beberapa keunggulan yaitu tingkat keberhasilan yang lebih tinggi dengan efek samping yang lebih rendah sehingga kepatuhan pasien dapat lebih baik.[1]
Profilaksis Tuberkulosis
Selain dari penemuan kasus melalui diagnosis, serta terapi yang terus berkembang, pencegahan TB merupakan salah satu faktor lain yang perlu diperhatikan dalam mengentaskan TB di 2030. Terapi pencegahan TB (TPT) merupakan salah satu strategi penting untuk mencegah infeksi TB berkembang menjadi penyakit aktif. WHO merekomendasikan TPT diberikan untuk setiap orang dengan HIV, kontak serumah pasien TB, serta kelompok risiko tinggi.
Beberapa regimen TPT adalah:
- 3HP (isoniazid + rifapentine selama 3 bulan)
- 3HR (isoniazid + rifampicin selama 3 bulan)
- 1HP (isoniazid + rifapentine selama 1 bulan)
- 4R (rifampicin selama 4 bulan)
- 6H atau 9H (isoniazid monoterapi selama 6 atau 9 bulan).
Pada tahun 2024, dilaporkan sekitar 5,3 juta orang telah menerima terapi pencegahan TB. Angka ini meningkat dibandingkan angka tahun sebelumnya yaitu 4,7 juta pada tahun 2023.[1]
Strategi lainnya yang dilakukan dalam rangka pencegahan TB adalah upaya vaksinasi dengan vaksin BCG. Vaksin BCG saat ini masih menjadi satu-satunya vaksin TB yang tersedia dan memberikan manfaat melindungi anak dari kejadian TB berat. Namun, diketahui saat ini penelitian vaksin baru sedang berlangsung. Termasuk dalam kandidat vaksin baru yaitu M72/AS01E yang sedang menjalani uji klinis fase III dan menunjukkan hasil menjanjikan dalam mencegah TB pada orang dewasa.[1]
Aplikasi Hasil Laporan TB Global 2025 di Indonesia
Indonesia merupakan salah satu kontributor utama peningkatan kasus TB global antara tahun 2020 hingga 2023. Hal ini menunjukkan bahwa kejadian pandemi COVID-19 memberikan dampak besar terhadap program TB di Indonesia. Dampak yang terjadi terutama terlihat dalam hal keterlambatan diagnosis, gangguan layanan pengobatan serta penurunan aktivitas skrining TB.
Dengan pulihnya layanan kesehatan pasca pandemi, jumlah kasus TB yang dilaporkan di Indonesia meningkat kembali, yang secara tidak langsung mencerminkan keberhasilan deteksi kasus TB yang sebelumnya tidak terdiagnosis karena pandemi. Oleh sebab itu, Indonesia harus terus memperluas skrining TB aktif dan meningkatkan akses diagnosis molekuler.
Tuberkulosis Resisten Obat
Pada penanganan kasus MDR-TB, beberapa negara menyumbang sebagian besar kesenjangan antara kasus MDR-TB yang diperkirakan dengan yang diobati, yaitu India, Filipina, Indonesia, Cina, dan Pakistan. Indonesia sendiri menyumbang sekitar 7,3% dari kesenjangan global tersebut, menunjukkan bahwa deteksi dan pengobatan MDR-TB masih perlu ditingkatkan secara signifikan.
Mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan kesenjangan besar dalam pengobatan MDR-TB, peningkatan kapasitas diagnosis resistensi obat dan akses pengobatan sangat penting. Penggunaan regimen pendek MDR-TB yang hanya 6 bulan pun harus diperluas untuk meningkatkan keberhasilan terapi dan menjaga kepatuhan minum obat.[1]
Diagnosis dan Pencegahan Tuberkulosis
Dari sisi penegakan diagnosis TB, Indonesia diketahui telah memperluas penggunaan tes cepat molekuler (TCM) di berbagai fasilitas kesehatan. Namun, masih terdapat tantangan berupa distribusi alat yang belum merata, keterbatasan kapasitas laboratorium, serta keterlambatan transportasi sampel akibat akses yang sulit.
Pencegahan TB pun perlu untuk semakin digiatkan pelaksanaannya di Indonesia. Penguatan pemberian program TPT bagi kontak serumah dan kelompok risiko tinggi harus diperluas, tidak hanya di kota besar melainkan hingga ke pelosok negeri. Penguatan vaksinasi melalui edukasi dan pelurusan informasi terkait hoax yang acap kali meningkatkan jumlah antivaksin perlu digencarkan.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka angka cakupan vaksinasi BCG yang menjadi imunisasi dasar bagi balita akan terus menurun dan meningkatkan jumlah kasus TB berat. Program TB pun harus mulai diintegrasikan ke berbagai program penyakit kronis, di mana setiap orang yang memiliki faktor risiko, seperti diabetes dan malnutrisi, perlu ditangani secara komprehensif, salah satunya dengan skrining TB dan pemeriksaan TCM.[1]
Kesimpulan
WHO mempublikasikan Global Tuberculosis Report atau laporan tuberkulosis global di tahun 2025. Laporan ini menunjukkan bahwa sekalipun terjadi peningkatan dalam pengendalian tuberkulosis (TB), penyakit ini tetap masih menjadi masalah kesehatan global yang serius, yang mana Indonesia masih menjadi salah satu penyumbang kasus tuberkulosis terbanyak di dunia.
Dalam laporannya, WHO mencatat bahwa jumlah kasus TB global mulai menurun kembali pada tahun 2024 setelah mengalami peningkatan selama pandemi COVID-19. Meski demikian, angka kejadian tuberkulosis tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sebelum pandemi.
MDR-TB tetap menjadi tantangan, yakni terlihat dari kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus yang ada dan yang menerima pengobatan. Dalam hal ini, WHO merekomendasikan regimen terapi MDR-TB yang lebih pendek untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dan keberhasilan terapi.
Terlepas dari itu, dalam laporan tahun 2025 ini, WHO juga mencatat beberapa kemajuan, yaitu dalam bidang diagnosis, terapi, maupun pencegahan TB, termasuk di dalamnya peningkatan penggunaan tes molekuler cepat, pengembangan regimen terapi pendek untuk MDR-TB, serta perluasan program terapi pencegahan TB (TPT).
