Vernakalant versus Procainamide for Rapid Cardioversion of Patients with Acute Atrial Fibrillation (RAFF4): Randomised Clinical Trial
Ian G Stiell, Monica Taljaard, Debra Eagles, et al. BMJ. 2025; 391:e085632. doi: 10.1136/bmj-2025-085632.
Abstrak
Latar Belakang: Peneliti melakukan uji klinis label terbuka perbandingan efikasi dan keamanan vernakalant intravena dan procainamide intravena dalam tata laksana atrial fibrilasi akut di Instalasi Gawat Darurat.
Desain penelitian: Uji klinis acak (RAFF4).
Lokasi: 12 fasilitas kesehatan tersier di Kanada.
Subjek: Pasien atrial fibrilasi yang mana kontrol ritme akut dinilai sebagai tata laksana yang aman.
Intervensi: Pasien diacak 1:1 untuk diberikan infus vernakalant atau procainamide. Ketika konversi irama tidak terjadi, pasien ditawarkan untuk menjalani kardioversi elektrik.
Luaran dan Pengukuran: Luaran primer adalah konversi menjadi irama sinus dalam 30 menit setelah infus obat diselesaikan. Luaran sekunder merupakan waktu konversi irama sinus dan apakah pasien memerlukan kardioversi elektrik.
Hasil: Dari 350 subjek yang memenuhi kriteria, karakteristik dasar subjek dalam kelompok vernakalant (n=178) dan procainamide (n=172) adalah sebanding. Luaran primer adalah keberhasilan konversi irama sinus, yang mana vernakalant ditemukan lebih efektif (62,4% vs 48,3%; adjusted absolute difference 15,0%).
Dengan vernakalant, waktu konversi irama menjadi lebih cepat (21,8 vs 44,7 menit; mean difference -22,9) dan pasien lebih sedikit diindikasikan untuk kardioversi elektrik (33,7% vs 44,2%; OR 0,62).
Efek samping pada kedua kelompok tidak jauh berbeda dan mayoritas didapatkan efek samping ringan hingga sangat ringan, dan kebanyakan pasien bisa dipulangkan. Analisis subgrup menunjukkan superioritas vernakalant dalam konversi subjek yang lebih muda dari 70 tahun (73,3% vs 47,2%; aOR: 3,1).
Kesimpulan: Pada studi komparasi ini, vernakalant superior dibandingkan procainamide, dengan angka konversi irama atrial fibrilasi yang lebih tinggi dan lebih cepat. Vernakalant adalah pilihan aman dan efektif secara intravena untuk konversi irama dan pemulangan pasien dengan atrial fibrilasi akut.
Ulasan Alomedika
Atrial fibrilasi akut adalah salah satu jenis aritmia yang sering didapatkan di ruang gawat darurat. Penelitian ini mencoba membandingkan efikasi vernakalant dan procainamide untuk kardioversi kimiawi pada kasus atrial fibrilasi akut.
Ulasan Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan uji klinis acak komparatif (randomized comparative effectiveness trial) dengan desain label terbuka, yang dilakukan di 12 instalasi gawat darurat rumah sakit tersier di Kanada. Pasien dengan atrial fibrilasi akut berdurasi ≥3 jam hingga ≤7 hari yang stabil secara hemodinamik dan membutuhkan tata laksana segera dimasukkan dalam penelitian. Pasien diacak 1:1 menggunakan sistem komputer menjadi dua kelompok.
Kriteria inklusi meliputi pasien yang aman untuk menjalani kardioversi berdasarkan pedoman (misalnya telah mendapat antikoagulasi adekuat ≥3 minggu atau onset atrial fibrilasi <48 jam dengan risiko tromboemboli rendah). Kriteria eksklusi mencakup kondisi yang tidak sesuai atau berisiko, seperti tanda vital tidak stabil atau interval QT memanjang, serta pasien yang ternyata bukan mengalami atrial fibrilasi setelah evaluasi elektrokardiogram.
Intervensi yang dibandingkan adalah kardioversi farmakologis dengan:
- Vernakalant intravena: 3 mg/kg selama 10 menit, dapat diulang 2 mg/kg jika belum konversi
- Procainamide intravena: 15 mg/kg dalam 60 menit.
Jika irama sinus tidak tercapai setelah pemberian obat dan periode observasi, pasien dapat menjalani kardioversi listrik.
Luaran primer adalah keberhasilan konversi menjadi irama sinus yang bertahan minimal 30 menit setelah randomisasi hingga 30 menit setelah infus obat selesai. Luaran sekunder meliputi waktu menuju konversi irama sinus, kebutuhan kardioversi listrik, lama rawat di IGD, keputusan rawat inap atau pulang, efek samping selama terapi, serta luaran 30 hari seperti kunjungan ulang ke IGD, stroke, kematian, dan waktu kembali ke aktivitas normal.
Ulasan Hasil Penelitian
Pasien yang menjalani skrining adalah sebanyak 16.209 pasien, dengan 354 pasien memenuhi kriteria untuk diikutkan dalam protokol penelitian ini. Dari jumlah tersebut, 350 pasien diinklusikan ke dalam penelitian dan menjadi subjek penelitian, dengan 172 subjek pada kelompok procainamide dan 178 subjek pada kelompok vernakalant.
Hasil menunjukkan bahwa vernakalant lebih efektif dalam mengembalikan irama sinus dalam 30 menit setelah infus dibandingkan procainamide (62,4% vs 48,3%). Perbedaan absolut sebesar 15,0% dan perbedaan ini bermakna secara statistik.
Selain itu, pasien pada kelompok vernakalant lebih jarang memerlukan kardioversi listrik (33,7% vs 44,2%) dan waktu menuju konversi irama sinus lebih cepat (21,8 menit vs 44,7 menit). Analisis per-protocol juga memberikan hasil yang serupa.
Untuk luaran lainnya, lama rawat di instalasi gawat darurat dan proporsi pasien yang dipulangkan ke rumah tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok. Kejadian efek samping selama atau setelah infus obat juga tidak berbeda secara signifikan (17,4% vs 25,0%), dan umumnya bersifat ringan, tetapi hipotensi yang memerlukan penghentian infus lebih sering terjadi pada kelompok procainamide.
Pada tindak lanjut 30 hari, angka kunjungan ulang ke IGD, kebutuhan kardioversi, serta luaran serius seperti stroke atau kematian tidak ditemukan pada kedua kelompok. Analisis subkelompok menunjukkan keuntungan vernakalant terutama pada pasien berusia <70 tahun, sementara pada kelompok lain tidak ditemukan perbedaan bermakna.
Kelebihan Penelitian
Kekuatan utama penelitian ini adalah desainnya berupa uji klinis acak (randomized controlled trial) yang dilakukan di 12 rumah sakit tersier, sehingga meningkatkan validitas internal dan generalisasi hasil pada praktik.
Proses randomisasi dilakukan secara komputerisasi dengan alokasi tersembunyi dan stratifikasi berdasarkan usia, lokasi, serta episode pertama atau berulang, sehingga meminimalkan bias seleksi.
Selain itu, analisis utama dilakukan dengan pendekatan intention-to-treat, karakteristik dasar kedua kelompok seimbang, serta tingkat kehilangan tindak lanjut sangat rendah, yang memperkuat keandalan hasil. Luaran primer yang digunakan juga bersifat klinis, serta didukung analisis statistik multivariat untuk mengontrol faktor perancu.
Limitasi Penelitian
Desain label terbuka tanpa blinding dapat menimbulkan potensi bias performa atau penilaian, meskipun luaran primer relatif objektif. Selain itu, sejumlah besar pasien yang memenuhi syarat menolak berpartisipasi, sehingga berpotensi menimbulkan bias seleksi dan membatasi generalisasi hasil.
Studi ini juga hanya melibatkan pasien dengan atrial fibrilasi akut yang stabil secara hemodinamik, sehingga hasilnya mungkin tidak dapat diterapkan pada pasien yang lebih tidak stabil atau dengan kondisi komorbid tertentu.
Aplikasi Penelitian di Indonesia
Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa vernakalant lebih efektif untuk konversi cepat ke irama sinus tanpa peningkatan efek samping yang signifikan. Dalam praktik klinis di Indonesia, temuan ini dapat mendukung penggunaan vernakalant sebagai pilihan farmakologis untuk kardioversi atrial fibrilasi akut yang stabil di IGD.
Meski begitu, aplikasinya tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan obat, biaya, serta pedoman nasional, karena di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia procainamide atau kardioversi listrik masih lebih umum digunakan.

