Autologous fat grafting, atau disebut juga autologous fat transfer (AFG) dan lipofilling, merupakan prosedur rejuvenasi wajah yang semakin populer dilakukan. Prosedur bedah kosmetik dan rekonstruksi medis ini dilakukan dengan memindahkan lemak dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lainnya, termasuk ke wajah, untuk mengisi pipi yang cekung atau menyamarkan kantung mata.
Meskipun autologous fat grafting adalah sebuah prosedur bedah, tindakan ini bersifat relatif non-invasif. Pada prosedur ini, istilah autologous berarti sel lemak diambil dari pasien sendiri. Lemak diambil dari area donor yang kaya akan jaringan adiposa, seperti perut atau paha, kemudian dipindahkan ke area target. Prosedur ini umumnya bersifat estetika dengan tujuan utama mengisi area yang mengalami volume loss.[1]
Cara Kerja Autologous Fat Grafting untuk Rejuvenasi Wajah
Kehilangan volume pada wajah memiliki pengaruh negatif terhadap estetika pasien secara keseluruhan. Penyebab volume loss melibatkan beberapa faktor, mulai dari penuaan, trauma atau kelainan kongenital.
Selain kehilangan volume, proses penuaan wajah juga terjadi akibat gangguan distribusi bantalan lemak (fat pad). Hal ini dikarenakan kompartemen lemak di wajah mengalami proses penuaan berbeda-beda, yang mana area seperti perioribtal dan midface mengalami atrofi lebih dini dan signifikan. Gambaran atrofi dan penuaan juga diperburuk dengan terjadinya penurunan elastisitas kulit dan produksi kolagen, serta peningkatan resorpsi tulang kraniofasial seiring usia.
AFG memiliki efek seperti filler. Penggunaan jaringan adiposa juga memiliki kemampuan regeneratif, utamanya melalui peran adipocyte-derived stem cells (ADSC) dan pre-adiposit dari stromal vascular fraction (SVF). Mekanisme kerjanya mencakup modulasi microenvironment, peningkatan proliferasi sel, efek antiinflamasi, dan antiapoptotik. Selain itu, karena bersifat autologus, AFG memiliki biokompatibilitas tinggi dan risiko imunogenisitas rendah.[1-4]
Prinsip Dasar Prosedur Autologous Fat Grafting
Secara sederhana, prosedur AFG dapat dibagi menjadi 3 langkah:
- Tahap pemanenan atau harvesting jaringan lemak dengan liposuction menjadi lipoaspirat
- Proses pemurnian dan isolasi lipoaspirat
- Injeksi graft lemak pada area spesifik.[4]
Persiapan Sebelum Tindakan
Sebelum melakukan AFG, pasien harus memberikan informed consent setelah memahami manfaat, risiko, alternatif tindakan, serta kemungkinan perlunya prosedur tambahan di masa depan akibat sebagian lemak yang ditransplantasikan mengalami resorpsi. Evaluasi juga diperlukan untuk memastikan pasien layak menjalani prosedur, termasuk mengidentifikasi gangguan perdarahan dan penggunaan obat seperti antikoagulan yang dapat meningkatkan risiko perdarahan.
Dokumentasi berupa foto sebelum tindakan juga diperlukan, diikuti dengan penentuan lokasi donor lemak dan evaluasi area resipien untuk memperkirakan volume lemak yang dibutuhkan. Sebelum tindakan, area donor dan resipien dipersiapkan, termasuk mencukur rambut wajah pada pasien pria bila diperlukan serta menandai area fibrosis (zones of adherence) yang harus dihindari selama pengambilan lemak untuk meminimalkan trauma jaringan dan ketidakteraturan kontur.[5]
Pemilihan Area Donor
Pemilihan area donor yang aman dan memiliki cadangan jaringan adiposa yang adekuat menjadi pertimbangan utama dalam prosedur AFG. Area yang sering dipilih antara lain regio abdomen, femoralis posterior, dan gluteal.[6]
Tindakan pengambilan lemak atau harvesting dimulai dengan melakukan anestesi lokal pada entry point diikuti dengan insisi kecil yang memungkinkan kanula bisa masuk. Teknik anestesi pada AFG dapat bersifat umum maupun lokal.
Penggunaan teknik tumesen dengan formulasi Klein memiliki profil keamanan yang baik karena mengurangi risiko cedera jaringan serta perdarahan yang minimal saat proses hidrodiseksi. Anestesi tumesen dilakukan minimal 45 menit sebelum tindakan harvesting. Pemilihan area donor yang berbeda-beda untuk harvesting dilaporkan tidak mempengaruhi kualitas graft lemak yang akan didapatkan.[4,6,7]
Pengambilan Lemak atau Harvesting
Tidak ada konsensus resmi tentang perbandingan antara jumlah cairan tumesen yang masuk dengan jumlah lemak yang diaspirasi saat melakukan harvesting. Namun untuk hasil maksimal dengan viabilitas sel yang baik serta di saat bersamaan memiliki profil keamanan yang adekuat, direkomendasikan jumlah cairan tumesen yang dimasukan adalah sebanyak 2-3 kali jumlah lipoaspirasi yang hendak dilakukan.
Aspirasi lemak dilakukan secara manual agar sel-sel lemak terpreservasi dengan baik dengan memanfaatkan tekanan negatif dari syringe 10 mL (Teknik Coleman) yang dihubungkan dengan kanula dengan panjang dan diameter yang bervariasi serta memiliki ujung tumpul. Sebelum aspirasi dilakukan, operator harus memastikan posisi kanula berada di lapisan subkutis agar tidak menimbulkan kerusakan pada area superfisial.
Dengan ujung kanula yang tumpul, proses mencacah lemak dilakukan, dan tergantung dengan ukuran kanula yang digunakan, lemak yang didapatkan dapat berbentuk macrofat dengan lobul lemak yang berukuran lebih besar, atau menjadi ukuran yang lebih kecil (microfat). Untuk mencapai tahap microfat, kanula dengan diameter 0.7mm dapat digunakan.[4,7]
Hasil microfat yang dapat diproses lebih lanjut menjadi nanofat melalui proses filtrasi lebih lanjut yang hanya menyisakan sel-sel progenitor tanpa sel adiposit. Pada level nanofat, lemak ini tidak memiliki efek filling yang baik dan lebih cocok digunakan untuk mendapatkan efek regeneratif untuk rejuvenasi wajah.[2]
Pemrosesan Lipoaspirat
Hasil pengambilan lemak pada AFG disebut lipoaspirat. Pemrosesan lipoaspirat lebih lanjut penting dilakukan untuk memisahkan jaringan adiposit dengan darah, cairan tumesen, minyak, debris selular serta sitokin yang dapat bersifat inflamatif ketika disuntikan. Proses pemurnian dan isolasi dapat dilakukan melalui beberapa metode seperti dekantasi, pencucian, filtrasi, atau sentrifugasi. Belum ada konsensus mengenai cara pemurnian terbaik.[4,8]
Graft lemak yang sudah terpisah dapat dibagi menjadi 3 zona (Gambar 1). Karena graft lemak bersifat avaskular, lapisan paling dalam pada AFG terdiri dari sel-sel yang akan mengalami nekrosis sehingga menyebabkan penyusutan pada ukuran graft dalam beberapa minggu setelah tindakan. Lapisan kedua mengandung ADSC yang bersifat multipoten dan memiliki kemampuan regeneratif, dan lapisan paling luar terdiri dari sel-sel adiposit yang memiliki viabilitas tinggi.[7,9]
Gambar 1. Ilustrasi Sederhana Pembagian Zona pada Lipoaspirat (Sumber: Jonathan Kurnia Wijaya, 2026.)
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Kualitas Autologous Fat Graft
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pada tindakan AFG, tidak semua graft lemak yang disuntikan akan viabel dan bertahan di area injeksi. Kemampuan bertahan hidup sel lemak sangat dipengaruhi beberapa faktor, utamanya seberapa tinggi tingkat inflamasi yang terjadi. Semakin tinggi inflamasi semakin banyak sel lemak yang akan nekrosis, sehingga dapat terjadi penyusutan volume signifikan.[4]
Selain itu agar graft memiliki retensi yang baik ketika disuntikan ke wajah, penting untuk mempercepat proses re-vaskularisasi graft di area resipien. Untuk meningkatkan neovaskularisasi, beberapa langkah dapat dilakukan, antara lain:
- Menghindari injeksi terlalu banyak pada satu area yang menyebabkan gumpalan dan penumpukan graft lemak yang berujung pada peningkatan jumlah sel yang nekrosis
- Pengaplikasian platelet rich plasma (PRP) yang mengandung berbagai growth factors seperti vascular endothelial growth factor (VEGF) pada area resipien.[4,6,10]
Cara lain adalah dengan melakukan injeksi retrograd secara perlahan dengan volume kecil pada beberapa lapisan anatomis menggunakan kanula dengan tetap memasukan total volume lebih banyak dari yang dibutuhkan untuk menghasilkan retensi volume AFG yang memuaskan. Satu penelitian melaporkan injeksi volume >20% dari target volume akhir menghasilkan luaran yang memuaskan dan dapat memitigasi penyusutan volume akibat nekrosis lemak.[4,8]
Kelebihan Autologous Fat Grafting untuk Rejuvenasi Wajah
AFG memiliki kelebihan yaitu mampu memberikan efek pengisian volume secara langsung segera setelah injeksi sehingga menghasilkan perbaikan kontur wajah yang instan. Prosedur ini juga dilaporkan memiliki tingkat kepuasan pasien yang tinggi, khususnya pada augmentasi area temporal, serta lebih ekonomis dibandingkan filler sintetis karena memungkinkan transfer lemak dalam volume yang lebih besar dengan biaya yang relatif lebih efisien.
Selain fleksibel untuk diaplikasikan pada berbagai area wajah, seperti dahi, pipi, lipatan nasolabial, dan prejowl sulcus, AFG juga dapat dikombinasikan dengan prosedur bedah estetika lain, seperti facelift, untuk memperoleh hasil yang lebih optimal. Penggunaan nanofat secara intradermal bahkan terbukti efektif memperbaiki kerutan halus dengan hasil yang dapat bertahan hingga sedikitnya 7 bulan.
Di samping efek penambahan volume, AFG juga memiliki kemampuan regeneratif melalui remodeling dermis, yang ditandai dengan penurunan elastosis, peningkatan serat elastis oksitalan, pembentukan mikrovaskular baru, serta stimulasi neoelastogenesis melalui peningkatan produksi tropoelastin dan fibrilin, sehingga memperbaiki kualitas kulit akibat photoaging. Efek regeneratif dan retensi volume AFG juga dapat semakin ditingkatkan melalui kombinasi dengan stromal vascular fraction (SVF).[2,10,11]
Keterbatasan Autologous Fat Grafting untuk Rejuvenasi Wajah
Meskipun AFG merupakan teknik rejuvenasi wajah yang menjanjikan, prosedur ini masih memiliki beberapa keterbatasan. Salah satu tantangan utama adalah belum adanya standarisasi yang baku mengenai teknik pelaksanaan, seperti belum adanya konsensus mengenai cara pemrosesan lipoaspirat yang terbaik dan belum adanya pedoman pasti mengenai cara mitigasi penyusutan volume sel yang ditransfer.
Lebih lanjut, dalam tindakan AFG juga belum ada metode untuk memprediksi retensi volume lemak dalam jangka panjang, maupun parameter objektif untuk menilai keberhasilan terapi. Retensi volume AFG umumnya baru dianggap stabil setelah masa tindak lanjut sekitar 12 bulan, dan tingkat keberhasilannya bervariasi bergantung pada lokasi penyuntikan.
Area temporal, misalnya, cenderung memberikan hasil yang kurang memuaskan dibandingkan area wajah lain karena aktivitas otot yang tinggi saat berbicara dan mengunyah diduga mempercepat degradasi jaringan lemak yang ditransplantasikan.
Selain itu, AFG juga memiliki risiko komplikasi, meskipun insidensinya relatif rendah (sekitar 2% kasus). Efek samping ringan seperti eritema, edema, dan hematoma umumnya bersifat sementara dan dapat sembuh spontan. Komplikasi sedang meliputi infeksi, pembentukan kista, asimetri, dan iregularitas kontur. Komplikasi berat, seperti injeksi intravaskular, emboli lemak, atau migrasi lemak yang memerlukan tindakan operatif, sangat jarang terjadi.[1,2,4,10,12]
Luaran Jangka Panjang Autologous Fat Grafting
Sebuah studi yang menggunakan fotografi tiga dimensi melaporkan bahwa dalam rerata 1,7 tahun pemantauan, sebanyak hingga 53% volume AFG tetap bertahan. Area dagu dan bibir bawah dilaporkan memiliki persentase bertahan yang tertinggi, yakni 59,5% dan 56,5%. Area hidung memiliki persentase paling rendah (39,4%) diikuti dengan pipi (48,5%) dan bibir atas (50,3%).[13]
Kesimpulan
Autologous fat grafting (AFG), yang disebut juga autologous fat transfer atau lipofilling, merupakan prosedur rejuvenasi wajah yang menggunakan jaringan lemak pasien sendiri untuk mengembalikan volume wajah yang hilang (volume loss).
Prosedur ini dilakukan dalam tiga tahap utama, yaitu pengambilan lemak (harvesting) dari area donor seperti abdomen atau paha dengan teknik liposuction; pemurnian lipoaspirat untuk memisahkan jaringan lemak dari darah, cairan tumesen, dan debris seluler; kemudian penyuntikan graft lemak ke area wajah yang mengalami volume loss.
Dibandingkan filler sintetis, AFG memiliki keunggulan berupa biokompatibilitas yang tinggi, risiko reaksi imun yang rendah, kemampuan mengoreksi defek dalam volume yang lebih besar dengan biaya yang lebih ekonomis, serta dapat dikombinasikan dengan prosedur estetika lain untuk memperbaiki kerutan halus. Namun, prosedur ini masih memiliki berbagai keterbatasan, seperti belum adanya standarisasi teknik, sulitnya memprediksi retensi volume lemak jangka panjang, serta variasi hasil berdasarkan lokasi penyuntikan.
Oleh karena itu, meski AFG dinilai relatif aman, mudah dilakukan, ekonomis, dan minimal invasif, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk meningkatkan konsistensi luaran klinis serta keamanan prosedur.

