Bisakah Manipulasi Spinal dan Terapi Biopsikososial Mandiri Mengatasi Nyeri Punggung Akut – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Ade Wijaya SpN

Spinal Manipulation and Clinician-Supported Biopsychosocial Self-Management for Acute Back Pain The PACBACK Randomized Clinical Trial

Bronfort G, Meier EN, Leininger B, et al. JAMA. 2025. e2521990. doi: 10.1001/jama.2025.21990.

studilayak

Abstrak

Latar belakang: Nyeri punggung bawah dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikologis yang saling berkaitan. Namun, sebagian besar pengobatan berfokus pada mengurangi gejala tanpa memperhatikan faktor biopsikososial pada pasien. Studi ini bertujuan menentukan efektivitas manipulasi spinal dan terapi biopsikososial mandiri dibandingkan dengan terapi medis pada pasien dewasa yang berisiko mengalami nyeri punggung bawah kronis.

Metode: Studi ini merupakan uji klinis dengan randomisasi yang dilakukan pada 3 klinik penelitian di Universitas Minnesota dan Pittsburgh dalam periode November 2018 hingga Mei 2023. Penilaian akhir dilakukan pada Juni 2024. Pasien dewasa dengan nyeri punggung bawah akut atau subakut dengan risiko sedang hingga tinggi menjadi kronis berdasarkan STarT Back tool dirandomisasi kemudian dilakukan intervensi yang berlangsung selama 8 minggu.

Analisis statistik dilakukan selama November 2024 hingga Juni 2025. Sebanyak 201 subjek penelitian menjalani manipulasi spinal, 205 subjek menjalani terapi biopsikososial mandiri, dan 305 subjek menjalani kombinasi manipulasi spinal dan terapi biopsikososial mandiri, dibandingkan dengan 301 subjek yang menjalani terapi medis berdasarkan pedoman. Manipulasi spinal dilakukan oleh terapis dan praktisi kiropraktik.

Luaran primer yang dinilai setelah 1 tahun adalah tingkat disabilitas bulanan berdasarkan kuesioner disabilitas Roland-Morris (RMDQ) dan intensitas nyeri mingguan berdasarkan skala nyeri numerik. Analisis sekunder menilai proporsi subjek yang mencapai penurunan parameter luaran primer sebanyak 50% atau lebih.

Hasil: Di antara 1000 partisipan yang dirandomisasi (rerata usia 47 tahun dengan standar deviasi 16 tahun, 58% jenis kelamin perempuan), sebanyak 93% menyelesaikan studi. Hasil studi signifikan secara statistik pada luaran tingkat disabilitas tetapi tidak pada intensitas nyeri.

Setelah periode 12 bulan, disabilitas secara signifikan menurun pada kelompok terapi biopsikososial mandiri dan kelompok gabungan terapi biopsikososial mandiri dengan manipulasi spinal dibandingkan kelompok terapi medis, tetapi tidak menurun signifikan pada kelompok terapi manipulasi spinal saja.

Kesimpulan: Pada pasien dengan nyeri punggung bawah akut-subakut dengan peningkatan risiko menjadi nyeri kronis, terapi biopsikososial mandiri dapat mengurangi disabilitas yang signifikan secara statistik, tetapi tidak mengurangi nyeri jika dibandingkan dengan terapi medis pada periode penilaian 1 tahun. Manipulasi spinal tidak memberikan luaran yang berbeda secara signifikan dibandingkan dengan terapi medis.

Bisakah Manipulasi Spinal dan Terapi Biopsikososial Mandiri Mengatasi Nyeri Punggung Bawah

Ulasan Alomedika

Nyeri punggung bawah merupakan salah satu penyebab utama disabilitas secara global dan menjadi alasan tersering kunjungan pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan. Meski demikian, tata laksana nyeri punggung bawah masih sering berfokus pada pendekatan simptomatik dan farmakologi.

The PACBACK Randomized Clinical Trial mengevaluasi apakah intervensi berbasis biopsikososial, dengan atau tanpa manipulasi spinal, menghasilkan luaran klinis yang lebih baik dibandingkan terapi medis berbasis pedoman pada pasien dengan nyeri punggung bawah akut–subakut yang berisiko berkembang menjadi kronis.

Ulasan Metode Penelitian

Studi ini merupakan uji klinis acak multisenter yang dilakukan di tiga klinik penelitian di Universitas Minnesota dan Pittsburgh pada periode November 2018 hingga Mei 2023, dengan pengamatan luaran hingga Juni 2024.

Partisipan dan Perlakuan:

Sebanyak 1.000 pasien dewasa dengan nyeri punggung bawah akut–subakut (durasi 2–12 minggu) dan risiko sedang hingga tinggi untuk kronisitas berdasarkan STarT Back Screening Tool dirandomisasi ke dalam empat kelompok intervensi:

  • Manipulasi spinal
  • Terapi biopsikososial mandiri dengan dukungan klinisi
  • Kombinasi manipulasi spinal dan terapi biopsikososial mandiri
  • Terapi medis berbasis pedoman (usual medical care)

Intervensi berlangsung selama 8 minggu dan seluruh partisipan menerima edukasi standar berbasis bukti mengenai prognosis dan manajemen mandiri nyeri punggung bawah.

Parameter Luaran:

Luaran primer penelitian adalah:

  • Disabilitas fungsional yang diukur menggunakan Roland–Morris Disability Questionnaire (RMDQ)
  • Intensitas nyeri yang diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS)

Pengukuran dilakukan secara longitudinal selama rerata 12 bulan. Reduksi ≥30% dari nilai awal dianggap bermakna secara klinis. Analisis dilakukan berdasarkan prinsip intention-to-treat.

Luaran sekunder mencakup PROMIS-29, frekuensi nyeri, tingkat pemulihan, penggunaan analgesik, kehilangan produktivitas, kepuasan pasien, serta efek samping.

Ulasan Hasil Penelitian

Sebanyak 93% partisipan menyelesaikan penelitian. Pada analisis luaran primer, terapi biopsikososial mandiri, baik sebagai intervensi tunggal maupun dikombinasikan dengan manipulasi spinal, menunjukkan penurunan disabilitas yang signifikan secara statistik dibandingkan terapi medis berbasis pedoman setelah 12 bulan. Sebaliknya, manipulasi spinal saja tidak memberikan perbedaan bermakna dibandingkan terapi medis.

Tidak terdapat perbedaan signifikan antar kelompok dalam hal penurunan intensitas nyeri jangka panjang. Temuan ini menegaskan bahwa perbaikan fungsi dan disabilitas dapat terjadi tanpa disertai penurunan nyeri yang sebanding.

Pada luaran sekunder, terapi biopsikososial mandiri memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan terapi medis pada sebagian besar parameter, termasuk fungsi fisik, kesehatan mental, dan kepuasan pasien. Penambahan manipulasi spinal tidak memberikan manfaat tambahan yang konsisten.

Kelebihan Penelitian

Salah satu kekuatan dari penelitian ini adalah menggunakan desain uji klinis dengan randomisasi sehingga diharapkan memiliki tingkat bukti tinggi untuk menilai efektivitas terapi dan memiliki validitas internal yang baik. Penelitian ini juga melibatkan 1000 partisipan dengan 93% menyelesaikan studi sehingga kekuatan statistik dan keandalan juga baik.

Pasien diikuti dan dinilai dalam periode 1 tahun, waktu yang cukup panjang untuk menilai risiko kronisitas nyeri punggung bawah. Penelitian ini juga menilai efektivitas terapi yang sesuai pedoman atau konsep nyeri modern, yaitu tidak hanya memperhatikan aspek fisik tetapi juga menilai aspek psikologis dan sosial.

Pada studi ini, luaran dinilai dengan menggunakan instrumen standar seperti RMDQ dan skala nyeri numerik. Luaran diukur secara berkala sehingga memperkuat kualitas data.

Limitasi Penelitian

Keterbatasan penelitian ini antara lain efek klinis yang relatif kecil walaupun signifikan secara statistik sehingga belum tentu selalu bermakna klinis pada setiap pasien. Pada studi ini, penyamaran antara klinisi dan partisipan juga tidak dapat dilakukan, sehingga berpotensi menimbulkan bias. Selain itu, jadwal penelitian sempat berubah karena pandemi COVID-19 sehingga berpotensi mempengaruhi konsistensi intervensi.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Nyeri punggung bawah merupakan salah satu keluhan tersering yang membawa pasien berobat ke dokter, termasuk di Indonesia. Uji klinis ini menemukan bahwa pada pasien dewasa dengan nyeri punggung bawah akut–subakut yang berisiko menjadi kronis, pendekatan biopsikososial mandiri memberikan penurunan disabilitas yang kecil namun bermakna secara statistik selama 1 tahun dibandingkan perawatan medis berbasis pedoman, meskipun tidak menurunkan intensitas nyeri. Di lain pihak, manipulasi spinal saja tidak menunjukkan manfaat signifikan.

Dalam praktik klinis, temuan ini dapat diaplikasikan dengan menggeser fokus layanan primer dari sekadar pemberian terapi analgesik menjadi edukasi terstruktur, aktivasi pasien, dan dukungan psikologis sederhana yang mencakup edukasi nyeri, reassurance, dan aktivitas bertahap. Pendekatan ini utamanya dianjurkan bagi pasien yang berisiko mengalami nyeri punggung bawah kronik.

 

Referensi