Pemeriksaan urine albumin-to-creatinine ratio (uACR) adalah pemeriksaan sederhana yang mudah dilakukan untuk mendeteksi terjadinya gangguan ginjal pada pasien diabetes dan hipertensi. Seperti telah banyak dilaporkan dalam penelitian dan studi epidemiologi, penderita hipertensi dan diabetes merupakan populasi kunci yang berisiko mengalami gangguan fungsi ginjal. Gangguan ginjal pada populasi ini juga meningkatkan morbiditas dan mortalitas.
Adanya gangguan ginjal pada pasien diabetes dan hipertensi umumnya ditentukan berdasarkan kadar kreatinin serum, penurunan estimated glomerular filtration rate (eGFR), atau evaluasi uACR. Meski demikian, pemeriksaan uACR merupakan yang paling mudah dilakukan karena hanya memerlukan sampel urin sewaktu, terutama urin pertama di pagi hari.[1,2]
Meski pemeriksaan uACR sangat mudah dilakukan di praktik, termasuk di fasilitas kesehatan primer dan sekunder, data saat ini menunjukkan bahwa pemeriksaan uACR masih sangat jarang dilakukan. Sebuah meta analisis terhadap 3,6 juta individu dewasa dari 44 negara menunjukkan bahwa hanya 1 dari 3 pasien diabetes, dan 1 dari 2 pasien hipertensi yang menjalani tes uACR.
Kurangnya penggunaan uACR di praktik bisa dipengaruhi berbagai faktor, seperti kurangnya kesadaran tenaga kesehatan mengenai pentingnya albuminuria pada kasus diabetes dan hipertensi, keterbatasan akses pemeriksaan, serta belum terintegrasinya pemeriksaan uACR ke dalam alur rutin pengelolaan diabetes dan hipertensi.[1-3]
Apa Itu Pemeriksaan uACR?
Pemeriksaan uACR menggunakan sampel urin sewaktu untuk mengukur jumlah albumin urin relatif terhadap kreatinin urin dalam satuan mg/g, yang dapat dilakukan tanpa pengumpulan urin 24 jam. Pemeriksaan uACR dianjurkan dilakukan menggunakan sampel urin pertama di pagi hari yang berkorelasi kuat dengan nilai albumin urin 24 jam.
- Nilai uACR < 30 mg/g diinterpretasikan sebagai normal atau peningkatan ringan albumin urin (normoalbuminuria).
- Nilai uACR 30-299 mg/g diinterpretasikan sebagai peningkatan sedang albumin urin (mikroalbuminuria)
- Nilai uACR > 300 mg/g diinterpretasikan sebagai peningkatan berat albumin urin (makroalbuminuria).[3-5]
Kelebihan dan Keterbatasan Pemeriksaan uACR
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan salah satu komplikasi diabetes melitus dan hipertensi, tetapi kerusakan ginjal pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan gejala. Karena itu, deteksi dini perlu dilakukan sebelum terjadi penurunan laju filtrasi glomerulus (eGFR) yang bermakna. Salah satu pemeriksaan yang sederhana dan dapat dilakukan pada fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun sekunder adalah uACR.
Pemeriksaan uACR memiliki keunggulan dibandingkan pemeriksaan dipstick atau albumin urin sewaktu tanpa koreksi kreatinin. Konsentrasi albumin dalam urin dapat dipengaruhi hidrasi, sehingga urin yang sangat encer atau sangat pekat dapat menghasilkan hasil negatif atau positif palsu. Dengan membandingkan albumin terhadap kreatinin dalam sampel yang sama, uACR secara relatif mengoreksi variasi konsentrasi urin.
Selain itu, pengumpulan urin dalam pemeriksaan albumin urin 24 jam menggunakan sampel tampung akan lebih merepotkan pasien, sering terkendala kepatuhan pasien, dan tidak memberikan keuntungan yang cukup besar dalam akurasi atau nilai prediktif dibandingkan pemeriksaan uACR dari sampel urin sewaktu.[1-5,11,12]
Peningkatan uACR menunjukkan adanya peningkatan permeabilitas glomerulus dan merupakan penanda kerusakan ginjal serta faktor prognostik penting untuk progresi gangguan ginjal dan risiko kardiovaskular. Namun, satu hasil uACR yang meningkat belum selalu berarti PGK karena albuminuria dapat meningkat sementara akibat infeksi saluran kemih, aktivitas fisik berat, demam, atau kondisi akut lain.[3-5]
Hasil uACR Sebagai Penanda Kerusakan Ginjal pada Diabetes Mellitus
Komplikasi tersering pada pasien diabetes adalah nefropati diabetik, yang diawali dengan terjadinya mikroalbuminuria yang kemudian berlanjut menjadi proteinuria dan gagal ginjal. Diperkirakan 20-40% penderita diabetes mengalami kelainan ginjal, yang apabila tidak ditangani secara efektif maka akan berlanjut menjadi gagal ginjal tahap akhir.
Pada manajemen diabetes, pemeriksaan uACR digunakan untuk skrining albuminuria dan nefropati diabetik, serta sebagai penanda prediktif luaran penyakit ginjal, kardiovaskular, dan mortalitas. Penurunan uACR telah dilaporkan berkaitan dengan perlambatan kerusakan ginjal dan komplikasi kardiovaskular.[6,7]
Pada diabetes, PGK didiagnosis berdasarkan peningkatan uACR persisten, atau penurunan eGFR (<60 mL/menit/1,73m2), atau manifestasi kerusakan ginjal lain selama ≥3 bulan. Adanya makroalbuminuria (uACR > 300 mg/g) merupakan penanda utama progresivitas PGK yang meningkatkan risiko terjadinya gagal ginjal tahap akhir dan komplikasi kardiovaskular seperti penyakit jantung iskemik dan penyakit vaskular perifer.[3,7-9]
Rekomendasi Pemeriksaan uACR pada Diabetes Menurut Pedoman Klinis
Pada pasien diabetes, American Diabetes Association (ADA) merekomendasikan:
- Pemeriksaan uACR dan eGFR dilakukan setidaknya satu kali setiap tahun pada seluruh pasien diabetes tipe 2 dan pada pasien diabetes tipe 1 setelah durasi penyakit ≥5 tahun.
- Pada pasien diabetes yang sudah diketahui mengalami PGK, pemeriksaan uACR dan eGFR sebaiknya dilakukan 1-4 kali/tahun, disesuaikan dengan derajat PGK.[11]
Hasil uACR sebagai Penanda Risiko Kardiovaskular pada Hipertensi
Meski terapi antihipertensi berbasis bukti telah diterapkan secara luas, risiko kerusakan organ subklinis seringkali terjadi mendahului manifestasi penyakit utamanya. Hal ini menegaskan perlunya penanda yang mampu mendeteksi kelainan tahap awal, serta menjadi acuan bagi strategi penatalaksanaan yang lebih personal dan terintegrasi untuk memitigasi risiko kardiorenal.[10]
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peningkatan uACR ≥ 30 mg/g berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular, terlepas berapapun nilai eGFR. Hasil suatu meta analisis yang melibatkan 25 juta individu menunjukkan bahwa risiko mortalitas kardiovaskular, infark miokard, stroke, dan gagal jantung meningkat pada pasien dengan uACR > 10 mg/g.
Pada individu dengan eGFR 90-104 mL/min/1,73m2, angka mortalitas kardiovaskular meningkat sebesar:
- 1,3 kali lipat pada pasien dengan uACR 10-29 mg/g
- 1,9 kali lipat pada pasien dengan uACR 30-299 mg/g
- 2,7 kali lipat pada pasien dengan uACR ≥ 300 mg/g.[3]
Rekomendasi Pemeriksaan uACR pada Hipertensi Menurut Pedoman Klinis
Pada pasien hipertensi, American Heart Association/American College of Cardiology (AHA/ACC) merekomendasikan:
- Pemeriksaan uACR dilakukan saat pasien pertama kali didiagnosis hipertensi untuk menilai adanya kerusakan organ target.
- Setelah itu, pemeriksaan uACR sebaiknya diulang setidaknya setiap tahun, atau lebih cepat bila terdapat indikasi klinis, untuk mendeteksi perkembangan penyakit ginjal dan memantau risiko.
- Pada pasien hipertensi dengan PGK dan albuminuria ≥30 mg/g, terapi yang dianjurkan adalah obat golongan ACE inhibitor atau angiotensin receptor blocker (ARB), digunakan salah satu (bukan kombinasi keduanya). ACE inhibitor dan ARB direkomendasikan karena memberi manfaat kardiovaskular dan membantu memperlambat progresi penyakit ginjal.[12]
Indikasi Rujukan Ke Nefrolog
Pasien dengan albuminuria ringan sampai sedang, eGFR yang relatif stabil, dan risiko progresi rendah umumnya masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan primer dengan pemantauan berkala dan terapi berbasis pedoman. Sebaliknya, konsultasi atau rujukan ke nefrolog perlu dipertimbangkan pada:
- Kasus di mana penyebab PGK tidak jelas
- Terdapat penurunan eGFR yang cepat atau persisten
- eGFR <30 mL/min/1,73 m², albuminuria berat, hematuria bermakna, atau terdapat risiko gagal ginjal yang tinggi.
Pedoman KDIGO (Kidney Disease: Improving Global Outcomes) juga menganjurkan pendekatan berbasis risiko menggunakan Kidney Failure Risk Equation (KFRE). Risiko gagal ginjal 3–5% dalam lima tahun dapat digunakan sebagai salah satu ambang untuk menentukan kebutuhan rujukan.[11,13]
Kesimpulan
Pemeriksaan urine albumin-to-creatinine ratio (uACR) merupakan pemeriksaan sederhana, praktis, dan penting untuk deteksi dini gangguan ginjal pada pasien diabetes dan hipertensi, yang dapat dilakukan di fasilitas kesehatan primer maupun sekunder. Pemeriksaan uACR dilakukan menggunakan sampel urin sewaktu, idealnya urin pagi pertama.
Pemeriksaan uACR lebih praktis dibandingkan pengumpulan urin 24 jam dan lebih mampu mengatasi variasi konsentrasi urin dibandingkan pemeriksaan albumin dengan dipstick. Nilai uACR <30 mg/g menunjukkan albuminuria ringan; nilai 30–299 mg/g menunjukkan albuminuria sedang; dan nilai ≥300 mg/g menunjukkan albuminuria berat. Semakin tinggi albuminuria, semakin besar risiko progresi gangguan ginjal dan kejadian kardiovaskular.
Pada diabetes, pedoman klinis merekomendasikan pemeriksaan uACR dan eGFR dilakukan minimal setiap tahun pada seluruh pasien diabetes tipe 2 dan pasien diabetes tipe 1 yang telah terdiagnosis ≥ 5 tahun. Pada hipertensi, pedoman klinis menganjurkan agar uACR diperiksakan pada seluruh pasien yang baru terdiagnosis hipertensi untuk menilai adanya kerusakan organ target, kemudian diulangi setiap tahun atau lebih cepat bila ada indikasi klinis.