Izin Bertanya kepada Dokter Spesialis dan Dokter umum, saya pernah menemukan pasien dengan serangan cemas akut dgn keluhan merasa seperti tercekik di tempat...
Hubungan serangan cemas akut pada penurunan saturasi oksigen - Diskusi Dokter
general_alomedikaDiskusi Dokter
- Kembali ke komunitas
Hubungan serangan cemas akut pada penurunan saturasi oksigen
Dibalas 04 April 2024, 14:43
dr.Wilda Florentina S
Dokter Umum
Izin Bertanya kepada Dokter Spesialis dan Dokter umum, saya pernah menemukan pasien dengan serangan cemas akut dgn keluhan merasa seperti tercekik di tempat praktek saya, ketika saya melakukan pemeriksaan pada pasien tersebut tak jarang ditemukan penurunan saturasi oksigen 94%. Izin dokter bertanya, apakah ada hubungan kecemasan, serangan cemas atau stress terhadap penurunan saturasi oksigen? Dan pada kasus ini apakah pemberian oksigen nasal kanul dapat diberikan? Terimakasih.
Dibuat 02 April 2024, 20:02
04 April 2024, 14:43
dr.Wilda Florentina S
Dokter Umum
03 April 2024, 11:49
dr. Hudiyati Agustini
Dokter Umum
ALO dr. Wilda, ada 3 poin, nih:
- Anxiety attack jangan jadi diagnosis pertama untuk pasien dengan penurunan saturasi O2. Kondisi ini merupakan diagnosis eksklusi, di mana perlu menyingkirikan semua faktor risiko penyebab lain yang lebih umum disertai sesak, seperti sindrom arteri koroner, eksaserbasi asma, atrium fibrilasi, tirotoksikosis, maupun edema paru akut.
- Pada serangan cemas, pasien dapat mengalami hiperventilasi yang dapat menurunkan saturasi O2, tetapi akan segera kembali normal ketika pasien tidak lagi mengalami hiperventilasi. Perubahan fisiologis utama pada hiperventilasi adalah penurunan pCO2 yang menyebabkan gejala, seperti mati rasa atau kesemutan pada lengan/kaki atau daerah perioral, kejang otot pada tangan/kaki, nyeri dada, jantung berdebar, sakit kepala ringan atau pusing. Gejala-gejala ini akan kembali normal dengan cepat ketika laju napas kembali normal.
- Penanganan utama hiperventilasi hipokapnia adalah pernapasan ulang untuk meningkatkan pCO2. Pasien diminta untuk menghirup kembali udara ekspirasinya (dapat menggunakan kantong kertas/plastik tertutup). Nah, pada kondisi ini, pasien tidak membutuhkan aliran O2, melainkan butuh CO2.