Konsumsi Kafein dan Kaitannya dengan Fungsi Kognitif – Telaah Jurnal Alomedika

Oleh :
dr. Ade Wijaya SpN

Coffee and Tea Intake, Dementia Risk, and Cognitive Function

Zhang Y, Liu Y, Li Y, et al. JAMA. 2026. 335(11):961-974. doi: 10.1001/jama.2025.27259.

studi berkelas

Abstrak

Latar belakang: Bukti ilmiah yang menghubungkan kopi dan teh dengan fungsi kognitif selama ini masih inkonklusif, dan sebagian besar studi tidak membedakan kopi berkafein dan kopi tanpa kafein (decaffeinated). Tujuan dari studi ini adalah meneliti hubungan antara konsumsi kopi dan teh dengan risiko demensia dan fungsi kognitif.

Metode: Studi ini merupakan studi kohort prospektif yang mengikutsertakan partisipan perempuan dari studi kesehatan perawat (NHS; n=86.606 dengan data dari tahun 1980-2023) dan partisipan laki-laki dari studi lanjutan professional kesehatan (HPFS; n = 45.215 dengan data dari tahun 1986-2023). Partisipan tidak memiliki riwayat kanker, penyakit Parkinson, atau demensia pada saat awal studi.

Pajanan yang diberikan berupa asupan kopi berkafein, kopi tanpa kafein, dan teh. Data dikumpulkan setiap 2-4 tahun menggunakan kuesioner frekuensi makanan yang telah divalidasi. Luaran primer studi ini adalah demensia yang diidentifikasi berdasarkan laporan kematian atau diagnosis dokter. Luaran sekunder meliputi penurunan kognitif subjektif dan fungsi kognitif obejektif, serta pengukuran kognisi global.

Penurunan kognitif subjektif dinilai dengan kuesioner (nilai 0-7, nilai yang lebih tinggi mengindikasikan penurunan kognitif yang lebih berat, penurunan kognitif yang dianggap sebagai luaran positif pada studi ini adalah partisipan dengan nilai > 3). Fungsi kognitif objektif dinilai dengan tes neuropsikologis berbasis telepon, yaitu Telephone Interview for Cognitive Status (TICS), dengan rentang nilai 0-41. Penurunan kognisi global dengan 6 tes kognitif yang terstandar.

Hasil: Dari 131.821 partisipan (dengan rerata usia pada awal studi adalah 46,2 tahun pada kohort NHS dan 53,8 tahun pada kohort HPFS, 65,7% partisipan berjenis kelamin perempuan) yang diikuti selama 43 tahun, terdapat insidens demensia sebanyak 11.033 kasus.

Setelah dilakukan penyesuaian terhadap faktor perancu, asupan kopi berkafein yang lebih tinggi berkaitan secara signifikan dengan risiko demensia yang lebih rendah, juga berkaitan dengan prevalensi penurunan kognitif secara subjektif yang lebih rendah. Pada kohort NHS, asupan kopi berkafein yang lebih tinggi juga berkaitan dengan perfoma kognitif objektif yang lebih baik.

Dibandingkan dengan partisipan pada kuartil terendah, partisipan pada kuartil tertinggi memiliki rerata nilai TICS dan rerata nilai kognisi global lebih tinggi, tetapi asosiasi dengan kognisi global tidak signifikan secara statistik (P=0.06).

Asupan teh yang lebih tinggi menunjukkan asosiasi serupa pada luaran kognitif tersebut, sedangkan kopi tidak berkafein tidak berasosiasi dengan risiko demensia yang lebih rendah maupun performa kognitif yang lebih baik.

Analisis dosis menunjukkan asosiasi terbalik nonlinear antara kadar asupan kopi berkafein dan teh dengan risiko demensia dan penurunan kognitif subjektif. Perbedaan asosiasi yang paling jelas diamati pada asupan kopi berkafein sebanyak 2-3 cangkir/hari dan asupan teh sebanyak 1-2 cangkir/hari.

Kesimpulan: Konsumsi teh dan kopi berkafein yang lebih banyak ditemukan berkaitan dengan risiko demensia lebih rendah dan fungsi kognitif yang lebih baik dalam tingkat sedang, dengan tingkat asosiasi yang lebih jelas didapatkan pada pola konsumsi moderat.

Konsumsi Kafein dan Kaitannya dengan Fungsi Kognitif

Ulasan Alomedika

Kopi mengandung senyawa bioaktif yang meliputi kafein dan polifenol, yang bersifat neuroprotektif dengan mengurangi stres oksidatif dan neuroinflamasi. Studi eksperimental menunjukkan bahwa pajanan kronis kafein dapat mempengaruhi proses terkait demensia Alzheimer yang meliputi jalur amiloid dan protein tau. Lebih lanjut, kafein juga dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin dan fungsi vascular, yang dapat melindungi dari penurunan kognitif.

Ulasan Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan studi kohort prospektif yang menggunakan data dari dua kohort besar di Amerika Serikat, yaitu:

  • Nurses' Health Study (NHS) yang melibatkan 86.606 perempuan

  • Health Professionals Follow-up Study (HPFS) yang melibatkan 45.215 laki-laki.

Peserta yang memiliki riwayat kanker, penyakit Parkinson, atau demensia pada awal penelitian dikeluarkan dari analisis. Pajanan utama yang dinilai adalah konsumsi kopi berkafein, kopi tanpa kafein (decaffeinated coffee), dan teh, sedangkan asupan kafein total dianalisis sebagai pajanan sekunder.

Informasi konsumsi diperoleh menggunakan validated semiquantitative food frequency questionnaire (FFQ) yang diisi pada awal penelitian dan diperbarui setiap 2–4 tahun untuk mencerminkan pola konsumsi jangka panjang. Asupan minuman kemudian dikelompokkan ke dalam kuartil berdasarkan tingkat konsumsi, dan dianalisis sebagai variabel yang berubah seiring waktu (time-dependent covariates).

Hubungan antara konsumsi minuman berkafein dan risiko demensia dianalisis menggunakan model Cox proportional hazards yang telah disesuaikan dengan berbagai faktor perancu, sedangkan hubungan dengan luaran kognitif dianalisis menggunakan generalized estimating equation (GEE).

Luaran primer penelitian adalah kejadian demensia, yang diidentifikasi melalui catatan kematian dan diagnosis dokter yang dilaporkan peserta, kemudian diverifikasi menggunakan sertifikat kematian, rekam medis, atau hasil autopsi oleh dokter yang tidak mengetahui status pajanan. Selain itu, penelitian juga menilai dua luaran sekunder, yaitu penurunan fungsi kognitif subjektif dan fungsi kognitif objektif.

Penurunan kognitif subjektif diukur menggunakan kuesioner berisi 6–7 pertanyaan mengenai memori, fungsi eksekutif, perhatian, dan kemampuan visuospasial, dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan persepsi penurunan kognitif yang lebih besar. Sementara itu, fungsi kognitif objektif hanya dievaluasi pada peserta NHS berusia di atas 70 tahun melalui serangkaian tes neuropsikologis berbasis telepon, termasuk Telephone Interview for Cognitive Status (TICS), tes memori verbal, dan skor kognitif global.

Peneliti juga melakukan analisis hubungan dosis-respons, analisis subkelompok berdasarkan karakteristik peserta (misalnya usia, status merokok, indeks massa tubuh, dan genotipe APOE4), serta berbagai analisis sensitivitas untuk memastikan konsistensi hasil penelitian.

Ulasan Hasil Penelitian

Selama masa tindak lanjut hingga 43 tahun, penelitian ini mencatat 11.033 kasus demensia dari 131.821 peserta. Setelah dilakukan penyesuaian terhadap berbagai faktor perancu, konsumsi kopi berkafein yang lebih tinggi berhubungan dengan penurunan risiko demensia dibandingkan konsumsi terendah (hazard ratio/HR kuartil tertinggi vs terendah 0,82).

Hubungan protektif serupa juga ditemukan pada konsumsi teh, sedangkan kopi tanpa kafein tidak menunjukkan hubungan bermakna dengan risiko demensia. Selain itu, konsumsi kopi berkafein dan teh juga dikaitkan dengan prevalensi penurunan kognitif subjektif yang lebih rendah, sementara konsumsi kopi tanpa kafein justru tidak memberikan manfaat terhadap luaran tersebut.

Pada penilaian fungsi kognitif objektif, peserta dengan konsumsi kopi berkafein tertinggi memiliki skor TICS yang sedikit lebih baik dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah, meskipun peningkatan skor kognitif global tidak mencapai signifikansi statistik. Konsumsi teh juga berhubungan dengan skor TICS, memori verbal, dan fungsi kognitif global yang lebih baik, sedangkan kopi tanpa kafein tidak menunjukkan manfaat serupa.

Analisis dosis–respons menunjukkan bahwa manfaat terbesar terhadap penurunan risiko demensia dan pemeliharaan fungsi kognitif diperoleh pada konsumsi sekitar 2–3 cangkir kopi berkafein atau 1–2 cangkir teh per hari (sekitar 300 mg kafein/hari), dengan hasil yang tetap konsisten pada berbagai analisis sensitivitas dan sebagian besar analisis subkelompok.

Kelebihan Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain kohort prospektif dengan jumlah sampel yang sangat besar (131.821 peserta) dan masa tindak lanjut yang sangat panjang hingga 43 tahun, sehingga memungkinkan penilaian hubungan jangka panjang antara konsumsi kopi dan risiko demensia. Selain itu, asupan kopi dan teh diukur berulang setiap 2–4 tahun menggunakan food frequency questionnaire (FFQ) yang telah tervalidasi, sehingga lebih mencerminkan pola konsumsi habitual dibandingkan pengukuran tunggal.

Penelitian ini juga membedakan antara kopi berkafein dan kopi tanpa kafein, suatu aspek yang jarang dievaluasi pada studi sebelumnya. Penelitian ini juga menilai berbagai luaran kognitif, mulai dari kejadian demensia, penurunan kognitif subjektif, hingga fungsi kognitif objektif.

Lebih lanjut, analisis dilakukan dengan penyesuaian terhadap banyak faktor perancu, disertai analisis dosis–respons, analisis subkelompok, dan berbagai analisis sensitivitas yang menunjukkan hasil tetap konsisten.

Limitasi Penelitian

Karena merupakan studi observasional, hubungan yang ditemukan tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat dan masih mungkin dipengaruhi oleh residual confounding dari faktor yang tidak terukur. Keterbatasan lain adalah fakta bahwa asupan kopi dan teh dalam penelitian ini dinilai berdasarkan laporan mandiri melalui FFQ sehingga tetap berpotensi menimbulkan recall bias maupun kesalahan klasifikasi konsumsi.

Selain itu, identifikasi kasus demensia sebagian bergantung pada diagnosis yang dilaporkan peserta dan catatan kematian sehingga beberapa kasus mungkin tidak terdeteksi atau salah klasifikasi. Penilaian fungsi kognitif objektif juga hanya dilakukan pada sebagian peserta, sehingga generalisasi hasil tersebut ke populasi lain perlu dilakukan dengan hati-hati.

Keterbatasan lain adalah populasi studi yang mayoritas merupakan tenaga kesehatan di Amerika Serikat dengan latar belakang ras yang relatif homogen, sehingga hasil penelitian mungkin tidak sepenuhnya dapat digeneralisasikan ke populasi lain dengan karakteristik demografis, budaya, maupun pola konsumsi kopi yang berbeda.

Lebih lanjut, jika kita menelaah lebih jauh dari sudut pandang patofisiologi, demensia dan penurunan kognitif merupakan kondisi yang sangat kompleks yang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adanya penyakit pembuluh darah, kelainan genetik, pajanan toksin, atau kombinasi faktor-faktor tersebut, sehingga kemungkinan pajanan terhadap suatu jenis makanan (dalam hal ini kopi atau teh) dapat memengaruhi mekanisme kompleks ini sangat rendah.

Aplikasi Hasil Penelitian di Indonesia

Penelitian ini memiliki keterbatasan yang signifikan dan bersifat observasional, sehingga sulit untuk menarik kesimpulan yang bermakna selain bahwa apabila pasien Anda menikmati minuman berkafein dan menanyakan apakah konsumsi tersebut dapat berkontribusi terhadap perkembangan demensia, mereka dapat disarankan untuk tetap mengonsumsinya, karena konsumsi kafein lebih banyak ditemukan pada kelompok yang tidak mengalami demensia.

Perlu digarisbawahi bahwa penelitian ini tidak menunjukkan adanya hubungan kausal antara asupan kafein dan demensia. Selain itu, karena demensia merupakan penyakit yang kompleks, kecil kemungkinan bahwa konsumsi satu jenis zat gizi atau makanan (dalam hal ini kopi atau teh) bisa menjadi faktor penentu utama dalam perkembangan penyakit demensia.

Walaupun studi ini dapat dijadikan dasar untuk penelitian lebih lanjut di Indonesia, prioritas utama pencegahan demensia di Indonesia semestinya tetap pada pengendalian hipertensi, diabetes, dislipidemia, berhenti merokok, gaya hidup sehat, dan pengendalian faktor risiko vaskular lain.

Referensi