Mengurangi Obat Lansia dengan Bantuan Rekam Medis Elektronik

Oleh :
dr.Anugrah Dwi Riski MARS

Pemberian obat-obat yang berpotensi tidak tepat pada lansia perlu dikurangi, termasuk dengan menggunakan bantuan rekam medis elektronik sebagai pengingat. Hal ini amat penting diperhatikan oleh dokter, mengingat lansia rentan mengalami efek samping dari berbagai obat, terutama ketika lansia tersebut mendapatkan polifarmasi.[1,2]

Obat yang perlu diwaspadai pada lansia terutama berupa benzodiazepine, Z-drugs, dan obat-obat dengan efek antikolinergik. Obat-obat ini diketahui meningkatkan risiko jatuh, delirium, gangguan kognitif, dan rawat inap pada populasi usia lanjut.[1,2]

Mengurangi Obat Lansia dengan Bantuan Rekam Medis Elektronik

Sekilas tentang Golongan Obat yang Perlu Diwaspadai pada Lansia

Lansia sering kali mendapatkan terapi yang polifarmasi, sehingga rentan terhadap efek samping bermacam obat dan juga interaksi negatif antar obat. Dari berbagai obat yang berisiko pada lansia, ada beberapa golongan obat tertentu yang terutama perlu dokter waspadai, misalnya benzodiazepine, Z-drugs, dan obat-obatan antikolinergik.[2]

Golongan Benzodiazepine

Lansia lebih sensitif terhadap benzodiazepine dan mengalami penurunan metabolisme benzodiazepine kerja panjang. Benzodiazepine meningkatkan risiko gangguan kognitif, delirium, dan risiko jatuh serta fraktur pada lansia. Obat ini sebaiknya dihindari pada lansia, baik yang kerja pendek dan menengah (alprazolam, estazolam, dan lorazepam) maupun yang kerja panjang (chlordiazepoxide, clonazepam, dan diazepam).[2]

Golongan Z-drugs

Hypnotic non-benzodiazepines seperti zaleplon, zolpidem, zopiclone, dan eszopiclone sering juga dikenal sebagai Z-drugs. Obat-obatan ini sering digunakan untuk gangguan tidur dan dianggap memiliki profil keamanan yang lebih baik daripada benzodiazepine. Namun, Z-drugs sebenarnya bisa menimbulkan pusing, gangguan gait, dan efek negatif pada fungsi kognitif seperti benzodiazepine. Studi menunjukkan bahwa obat golongan ini juga meningkatkan risiko jatuh dan fraktur pada lansia.[2,3]

Obat-Obatan Antikolinergik

Ada amat banyak obat dengan efek antikolinergik, sehingga lansia cenderung terpapar efek antikolinergik lebih dari satu obat. Contoh obat dengan efek antikolinergik adalah obat antihistamin (desloratadine, cetirizine, levocetirizine, dan dimenhydrinate), obat kardiovaskular (metoprolol, digoxin, captopril, furosemide, dan warfarin), antipsikotik (risperidone dan olanzapine), dan antidepresan (paroxetine dan amitriptyline).[4]

Obat-obatan ini bisa menyebabkan gangguan kognitif, kebingungan, dan delirium. Efek samping terutama lebih signifikan pada lansia karena ada perubahan fisiologis terkait usia, seperti peningkatan permeabilitas darah-otak, penurunan reseptor asetilkolin, dan berkurangnya pembersihan antikolinergik. Tingginya penggunaan obat antikolinergik pada lansia dikaitkan dengan peningkatan angka jatuh, rawat inap, dan kematian.[4]

Pertimbangan Ketika Memberikan Obat untuk Lansia

Tidak semua obat di atas perlu dihentikan. Hal ini telah dibahas secara lebih mendetail dalam AGS Beers Criteria 2023 terkait obat yang perlu dievaluasi untuk dikurangi atau dihentikan pada lansia. Sebelum menghentikan ataupun mengurangi obat pada lansia, dokter perlu memikirkan apakah risiko obat benar lebih besar daripada manfaatnya. Selain itu, dokter perlu berhati-hati jika:

  • Risiko withdrawal tinggi
  • Pasien stabil dan penggunaan jangka panjang terkontrol
  • Tidak tersedia alternatif terapi yang sesuai[5-7]

Pengurangan maupun penghentian obat pada lansia harus dilakukan secara individual, bertahap, dan disertai dengan edukasi pasien serta monitoring. Proses yang bertahap diharapkan dapat mengurangi risiko withdrawal yang mungkin terjadi.[5-7]

Strategi Deprescribing atau Mengurangi Penggunaan Obat pada Lansia dengan Bantuan Rekam Medis Elektronik

Deprescribing adalah proses yang direncanakan dan diawasi untuk mengurangi dosis atau menghentikan penggunaan obat yang mungkin menyebabkan efek samping atau tidak lagi memberikan manfaat. Deprescribing merupakan bagian dari praktik resep yang baik untuk mengurangi dosis ketika terlalu tinggi atau menghentikan penggunaan obat yang tidak lagi diperlukan.[5]

Namun, dalam praktik klinis, deprescribing sering tidak dilakukan karena keterbatasan waktu, kebiasaan prescribing jangka panjang, dan kurangnya sistem pengingat. Oleh karena itu, intervensi yang berbasis EHR (rekam medis elektronik) dikembangkan untuk membantu dokter mengidentifikasi dan mempertimbangkan penghentian obat berisiko pada lansia.[1,5]

Suatu uji klinis acak berbasis klaster mengevaluasi efektivitas dua jenis pengingat EHR untuk meningkatkan deprescribing pada lansia. Sebanyak 201 dokter layanan primer dan 1146 pasien berusia 65 tahun ke atas diikutsertakan dalam studi. Dokter dibagi ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok pre-commitment, boostering, dan usual care.[1]

Dalam kelompok pre-commitment, dokter menerima pengingat dalam sistem EHR saat kunjungan pasien berlangsung. Pengingat mendorong dokter untuk mempertimbangkan deprescribing. Pengingat juga muncul pada kunjungan berikutnya. Dalam kelompok boostering, dokter menerima pengingat saat kunjungan pertama. Kemudian, empat minggu setelahnya, sistem kembali mengirimkan pengingat melalui pesan di EHR. Dalam kelompok usual care, dokter tidak menerima pengingat apa pun.[1]

Luaran primer yang dinilai adalah apakah pasien mengalami penurunan dosis minimal satu obat selama periode follow-up. Hasil menunjukkan bahwa persentase pasien yang mengalami deprescribing dalam masing-masing grup adalah 36,8% (pre-commitment), 34,3% (boostering), dan 26,8% (usual care). Hal ini berarti pengingat dalam sistem EHR bisa meningkatkan kemungkinan deprescribing 6–10% lebih tinggi secara absolut dibandingkan tanpa pengingat. Tidak ada efek samping serius terkait intervensi ini.[1]

Kelebihan dan Kekurangan Pengingat dari Rekam Medis Elektronik

Kelebihan sistem pengingat deprescribing dari rekam medis elektronik adalah terbukti mampu meningkatkan deprescribing dibandingkan usual care tanpa menimbulkan efek samping yang bermakna. Intervensi ini bersifat sederhana dan dapat diterapkan secara luas dalam sistem kesehatan. Selain itu, intervensi ini dapat dikombinasikan dengan kriteria BEERS untuk identifikasi pasien berisiko.[1,2]

Kekurangan sistem pengingat deprescribing dari rekam medis elektronik ini adalah efek peningkatan deprescribing sebenarnya hanya bersifat moderat (6–10%). Selain itu, efek ini belum terbukti menurunkan total beban obat secara populasi. Belum ada data kuat mengenai dampak terhadap outcome klinis seperti penurunan kejadian jatuh atau rawat inap pada lansia.[1]

Kesimpulan

Strategi deprescribing untuk mengurangi atau menghentikan obat pada lansia penting untuk dijalankan, mengingat lansia sering kali mendapatkan polifarmasi dan mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami berbagai efek samping obat. Contoh golongan obat yang dikaitkan dengan risiko lebih tinggi pada lansia adalah golongan benzodiazepine, Z-drugs, dan obat-obatan antikolinergik.

Tantangan dalam pelaksanaan deprescribing selama ini adalah keterbatasan waktu, kebiasaan prescribing jangka panjang, dan kurangnya sistem pengingat. Oleh karena itu, penggunaan sistem pengingat dari rekam medis elektronik (EHR) dapat membantu dokter untuk mempertimbangkan deprescribing pada lansia.

Meskipun efeknya moderat dan belum terbukti bisa memperbaiki outcome klinis jangka panjang, sistem pengingat dari EHR dilaporkan aman, sederhana, dan bisa diterapkan secara luas. Selain itu, intervensi ini juga bisa dipadukan dengan pedoman BEERS.

Referensi