Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Kalsium Glukonat
Penggunaan kalsium glukonat pada kehamilan dan menyusui perlu berhati-hati. Meski kalsium merupakan komponen fisiologis tubuh, data keamanan penggunaan kalsium glukonat pada ibu hamil dan menyusui masih sangat sedikit. Lebih lanjut, FDA memasukkan kalsium glukonat intravena dalam kategori C.[1,4,6,13]
Penggunaan pada Kehamilan
Kalsium glukonat masuk dalam kategori C oleh FDA. Artinya, studi pada hewan mengonfirmasi adanya efek teratogenik, meskipun belum terdapat bukti serupa pada penelitian di manusia.[6]
Perlu diketahui bahwa WHO merekomendasikan pemberian kalsium oral secara rutin sebagai salah satu suplemen prenatal ibu hamil. Pemberian kalsium ini diharapkan dapat menurunkan atau mencegah hipertensi pada ibu hamil, termasuk kejadian preeklampsia.[15,16]
Penelitian mengenai efek kalsium terhadap hipertensi dalam kehamilan dan preeklampsia menunjukkan hasil yang konsisten. Telaah sistematis yang dilakukan oleh Hofmeyr et al menunjukkan bahwa pemberian kalsium 1 gram/hari dapat menurunkan kejadian preeklampsia pada ibu hamil.[17]
Studi-studi yang meneliti mengenai efek kalsium pada kehamilan menggunakan berbagai macam garam kalsium, namun penggunaan kalsium glukonat lebih jarang digunakan karena memiliki bioavailabilitas yang rendah dibandingkan dengan kalsium sitrat atau kalsium karbonat.[15,18]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Data mengenai keamanan kalsium glukonat selama menyusui masih terbatas. Kalsium secara fisiologis merupakan komponen normal dalam ASI dan diketahui dapat masuk ke dalam ASI, namun belum diketahui apakah pemberian kalsium glukonat dapat mengubah konsentrasi kalsium dalam ASI secara bermakna.
Selain itu, tidak tersedia data yang memadai mengenai pengaruh kalsium glukonat terhadap bayi yang disusui maupun terhadap produksi ASI. Oleh karena itu, penggunaan kalsium glukonat pada ibu menyusui umumnya dapat dipertimbangkan bila terdapat indikasi klinis yang jelas, dengan tetap memperhatikan manfaat menyusui bagi bayi dan kebutuhan terapi pada ibu, serta digunakan secara hati-hati sesuai pemantauan klinis yang diperlukan.[4,6,13]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha