Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

AI DAN SKP KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • Alomedika AI New
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Efek Samping dan Interaksi Obat Prochlorperazine annisa-meidina 2026-07-21T11:54:43+07:00 2026-07-21T11:54:43+07:00
Prochlorperazine
  • Pendahuluan
  • Farmakologi
  • Formulasi
  • Indikasi dan Dosis
  • Efek Samping dan Interaksi Obat
  • Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui
  • Kontraindikasi dan Peringatan
  • Pengawasan Klinis

Efek Samping dan Interaksi Obat Prochlorperazine

Oleh :
dr.Novita Mawar Hadini, Sp.FK
Share To Social Media:

Efek samping umum prochlorperazine meliputi kantuk (drowsiness), pusing, amenore, penglihatan kabur, reaksi kulit, dan hipotensi, yang sebagian besar berkaitan dengan efek antagonisme dopaminergik, antikolinergik, dan α-adrenergik obat ini. Interaksi obat bisa terjadi dengan phenytoin, karena prochlorperazine dapat menurunkan ambang kejang dan mengganggu metabolisme phenytoin sehingga meningkatkan risiko toksisitas phenytoin.[2]

Efek Samping

Prochlorperazine dapat menimbulkan berbagai efek samping yang berkaitan dengan antagonisme reseptor dopamin, histamin, muskarinik, dan α₁-adrenergik. Efek samping yang paling sering dilaporkan meliputi kantuk, pusing, penglihatan kabur, amenore, reaksi kulit, dan hipotensi. Efek antikolinergik dapat berupa mulut kering, konstipasi, retensi urin, dan anoreksia, sedangkan blokade reseptor histamin H₁ berkontribusi terhadap sedasi.

Selain itu, blokade reseptor α₁-adrenergik dapat menyebabkan hipotensi ortostatik. Antagonisme dopamin pada jalur tuberoinfundibular dapat menyebabkan hiperprolaktinemia, yang bermanifestasi sebagai amenore, pembesaran payudara, dan disfungsi seksual. Prochlorperazine juga dapat menurunkan ambang kejang, pemanjangan interval QTc, dan gangguan konduksi jantung lain yang berpotensi meningkatkan risiko aritmia.

Efek samping neurologis yang perlu diwaspadai adalah gejala ekstrapiramidal seperti distonia akut, akatisia, parkinsonisme, dan tardive dyskinesia. Efek yang lebih jarang tetapi serius adalah sindrom neuroleptik maligna (neuroleptic malignant syndrome/NMS), yang ditandai oleh demam tinggi, agitasi, kebingungan, rigiditas otot berat, leukositosis, peningkatan kadar kreatin fosfokinase, gangguan fungsi hati, mioglobinuria, hingga gagal ginjal akut.

Efek samping serius lain yang jarang dilaporkan meliputi leukopenia, agranulositosis, ikterus kolestatik, dan perlemakan hati. Pada populasi pediatrik, prochlorperazine diketahui memiliki frekuensi efek samping yang relatif lebih tinggi dibandingkan pada orang dewasa, terutama sedasi dan gejala ekstrapiramidal, sehingga penggunaannya pada anak memerlukan kehati-hatian. Obat ini tidak dianjurkan pada anak usia di bawah dua tahun.[1-3,5]

Interaksi Obat

Prochlorperazine memiliki potensi berinteraksi dengan berbagai obat melalui efek farmakodinamik maupun farmakokinetik, sehingga penggunaannya bersama obat lain memerlukan pemantauan yang cermat

Penggunaan dengan Obat Antikolinergik

Penggunaan prochlorperazine bersama obat antikolinergik seperti atropin dapat menyebabkan potensiasi efek antikolinergik, sehingga meningkatkan risiko mulut kering, konstipasi, retensi urin, penglihatan kabur, dan gangguan kognitif, terutama pada pasien lanjut usia.[2]

Penggunaan dengan Obat Antikoagulan

Selain itu, prochlorperazine dapat mengurangi efektivitas antikoagulan oral, seperti warfarin, sehingga berpotensi memengaruhi kontrol antikoagulasi dan memerlukan pemantauan parameter koagulasi yang lebih ketat selama penggunaan bersamaan.[2]

Penggunaan dengan Obat Antikonvulsan

Interaksi penting juga terjadi dengan obat antikonvulsan, khususnya phenytoin. Prochlorperazine dapat menurunkan ambang kejang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya kejang pada pasien yang rentan. Selain itu, obat ini dapat mengganggu metabolisme phenytoin dan menyebabkan peningkatan kadar phenytoin, yang berpotensi menimbulkan toksisitas.[2]

Penggunaan dengan Depresan Saraf Pusat

Penggunaan bersama depresan sistem saraf pusat seperti alkohol, anestetik, opioid, atau sedatif lainnya dapat memperkuat efek sedasi dan depresi sistem saraf pusat, sehingga meningkatkan risiko kantuk berlebihan, gangguan kesadaran, hingga depresi pernapasan.[2]

Penggunaan dengan Epinefrin atau Dopamin

Pada sistem kardiovaskular, penggunaan bersamaan dengan epinefrin atau dopamin dapat menyebabkan penurunan tekanan darah yang lebih berat akibat efek antagonisme α-adrenergik prochlorperazine.[2]

Penggunaan dengan Diuretik

Penggunaan bersama diuretik tiazid, seperti hydrochlorothiazide, dapat meningkatkan risiko hipotensi ortostatik, terutama pada pasien lanjut usia atau pasien dengan deplesi volume.[2]

Penggunaan dengan Litium

Kombinasi prochlorperazine dengan litium dapat meningkatkan risiko terjadinya sindrom ensefalopati akut, terutama bila kadar litium serum tinggi. Kondisi ini dapat ditandai dengan perubahan status mental, gangguan neurologis, dan gejala toksisitas lainnya.[2]

Penggunaan dengan Propranolol

Sementara itu, penggunaan bersama propranolol dapat meningkatkan konsentrasi plasma kedua obat, sehingga berpotensi memperkuat efek terapeutik maupun efek samping, termasuk hipotensi, bradikardia, sedasi, dan gangguan neurologis.[2]

Referensi

1. MIMS. Prochlorperazine. 2026. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/prochlorperazine?mtype=generic
2. ASHP. Prochlorperazine. 2025. https://www.drugs.com/monograph/prochlorperazine-systemic-sedative.html
3. National Center for Biotechnology Information (2026). PubChem Compound Summary for CID 4917, Prochlorperazine. https://pubchem.ncbi.nlm.nih.gov/compound/Prochlorperazine.
5. Din L, Preuss CV. Prochlorperazine. In: StatPearls. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2026. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK537083/

Indikasi dan Dosis Prochlorperazine
Penggunaan pada Kehamilan dan Ib...

Artikel Terkait

  • Profilaksis Migraine: Pemilihan Pasien dan Jenis Terapi
    Profilaksis Migraine: Pemilihan Pasien dan Jenis Terapi
  • Pilihan Terapi pada Migrain Menstrual
    Pilihan Terapi pada Migrain Menstrual
  • Dislipidemia Tidak Menyebabkan Nyeri Kepala
    Dislipidemia Tidak Menyebabkan Nyeri Kepala
  • Pedoman Tata Laksana Migraine 2024 - Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Tata Laksana Migraine 2024 - Ulasan Guideline Terkini
  • Pedoman Penanganan Migraine Akut di Unit Gawat Darurat – Ulasan Guideline Terkini
    Pedoman Penanganan Migraine Akut di Unit Gawat Darurat – Ulasan Guideline Terkini

Lebih Lanjut

Diskusi Terbaru
Anonymous
Dibalas 9 jam yang lalu
Omeprazol dan asam mefenamat untuk ibu hamil
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Saya memiliki pasen ibu hamil tiga bulan yang menderita gerd, dan cephalgia, bolehkah untuk gerd nya diberikan omeprazol dan untuk sakit kepalanya diberikan...
dr. Hudiyati Agustini
Dibalas 21 Agustus 2026, 13:27
Ikuti Webinar ber-SKP Kemenkes - Manajemen Nyeri Sendi: Dari Terapi hingga Dukungan Kesehatan Sendi - Selasa, 1 September 2026, Jam:10.00 - 11.30 WIB
Oleh: dr. Hudiyati Agustini
1 Balasan
ALO Dokter.Mengurangi nyeri bukanlah satu-satunya tujuan terapi osteoarthritis. Pendekatan modern menempatkan pengendalian gejala, mempertahankan fungsi...
Anonymous
Dibalas 21 Agustus 2026, 19:36
Bekas imunisasi BCG bengkak & merah
Oleh: Anonymous
2 Balasan
Alo TS dokter anak. Saya kedatangan pasien bayi 4 bulan. Keluhannya bengkak & merah di bekas imunisasi BCG sejak 1 minggu. Anak tdk demam atau tampak...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.