Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Tamsulosin
Penggunaan tamsulosin pada kehamilan termasuk dalam kategori B oleh FDA tetapi obat ini umumnya tidak diindikasikan untuk penggunaan pada wanita. Data tentang penggunaan obat ini pada ibu menyusui juga masih terbatas.[1,14]
Penggunaan pada Kehamilan
Kategori B (FDA): studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil.[1]
Tamsulosin umumnya digunakan untuk terapi benign prostatic hyperplasia, sehingga hampir tidak pernah diberikan untuk wanita. Namun, obat ini kadang diberikan oleh beberapa dokter untuk mengatasi batu ureter.
Berdasarkan data pada hewan, tidak ditemukan efek buruk terhadap perkembangan janin dalam studi reproduksi ketika tamsulosin hidroklorida diberikan kepada tikus selama periode organogenesis.
Meski demikian, hasil studi pada hewan tidak dapat secara langsung memastikan keamanan pada manusia, sehingga tamsulosin tidak direkomendasikan sebagai terapi rutin selama kehamilan dan penggunaannya pada wanita hamil sebaiknya dihindari kecuali terdapat pertimbangan klinis khusus bahwa manfaat terapi lebih besar daripada potensi risikonya.[3]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Pada ibu menyusui, data mengenai penggunaan tamsulosin masih sangat terbatas karena belum terdapat informasi yang dipublikasikan mengenai kadar tamsulosin dalam ASI maupun kadar pada bayi yang mendapat ASI, serta belum ada laporan yang memadai mengenai efek tamsulosin terhadap bayi menyusui atau produksi ASI.
Meski demikian, tamsulosin memiliki ikatan yang sangat tinggi dengan protein plasma, yaitu sekitar 94–99%, sehingga jumlah obat yang diperkirakan dapat berpindah ke dalam ASI kemungkinan kecil. Oleh karena itu, apabila tamsulosin memang diperlukan oleh ibu, penggunaan obat tersebut tidak dianggap sebagai alasan untuk menghentikan pemberian ASI.
Namun, karena bukti klinis mengenai keamanannya pada bayi masih belum tersedia, bayi yang mendapat ASI tetap perlu dipantau secara cermat terhadap kemungkinan efek obat, terutama tanda-tanda efek farmakologis seperti hipotensi atau gangguan menyusu.[1-3,14]
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha