Pendahuluan Retinol
Retinol adalah obat turunan vitamin A yang saat ini banyak digunakan dalam perawatan kulit wajah untuk pengelolaan acne vulgaris atau jerawat, serta perawatan tanda penuaan kulit seperti keriput dan hiperpigmentasi. Kapsul vitamin A dalam bentuk retinol juga digunakan di Indonesia dalam program pencegahan defisiensi vitamin A nasional, khususnya saat Posyandu setiap bulan Februari dan Agustus.[1-3]
Secara umum, retinol dan vitamin A lainnya tidak dapat disintesis oleh tubuh, sehingga hanya bisa didapat dari asupan makanan sehari-hari, seperti dari susu dan telur. Pada tanaman juga bisa didapatkan prekursor vitamin A, yaitu karotenoid. Beta karoten di dalam saluran cerna akan diubah menjadi retinol, kemudian diserap.
Retinol dan vitamin A secara umum berperan dalam regulasi sistem imun, mempengaruhi pertumbuhan sel, diferensiasi, proliferasi dan perkembangan embrio. Retinol juga berikatan dan mengaktivasi retinoid receptors (RARs), yang menyebabkan terjadinya apoptosis sel kanker dan menghambat karsinogenesis.[4,5]
Pada penggunaan oral, yakni kapsul merah atau kapsul biru retinol untuk pencegahan defisiensi vitamin A, obat ini umumnya bersifat nontoksik dan dapat ditoleransi dengan baik. Pada penggunaan topikal untuk terapi acne atau antiaging, retinol bisa menyebabkan efek samping berupa iritasi yang ditandai dengan eritema, pengelupasan kulit, rasa terbakar, dan gatal.[6,7]
Tabel 1. Deskripsi Singkat Retinol
| Perihal | Deskripsi |
| Kelas | Vitamin dan mineral.[8] |
| Sub-kelas | Vitamin dan mineral.[8] |
| Akses | Obat bebas.[9] |
| Wanita hamil | Kategori FDA: X.[4] Kategori TGA: X (oral), D (topikal).[10] |
| Wanita menyusui | Dikeluarkan ke ASI.[4,6] |
| Anak-anak | Diperbolehkan sesuai indikasi dan dosis yang direkomendasikan.[4,6] |
| Infant | |
| FDA | Approved.[6] |
Penulisan pertama oleh: dr. Reren Ramanda