Penggunaan pada Kehamilan dan Ibu Menyusui Retinol
Penggunaan retinol pada kehamilan tidak disarankan jika dalam dosis tinggi karena peningkatan risiko teratogenik. Penggunaan pada ibu hamil masuk dalam kategori X oleh FDA dan kategori D oleh TGA. Sementara itu, pada ibu menyusui, retinol diketahui dikeluarkan ke ASI, tetapi penggunaan dalam dosis yang dianjurkan umumnya dianggap aman.[4,6,10,22]
Penggunaan pada Kehamilan
Menurut FDA, pemberian retinol pada wanita hamil masuk dalam kategori X. Retinol telah terbukti memiliki efek teratogenik pada janin.[4]
Menurut TGA penggunaan retinol pada kehamilan masuk kategori D untuk sediaan topikal dan kategori X untuk sediaan oral. Kategori tersebut mencakup obat-obatan yang telah terbukti menyebabkan atau diduga menyebabkan peningkatan insiden malformasi janin atau kerusakan ireversibel. Selain risiko teratogenik, obat dalam kategori ini juga dapat menimbulkan efek farmakologis merugikan pada janin.[10]
Vitamin A seperti retinol bersifat teratogenik bila dikonsumsi selama kehamilan karena retinoid dapat mengganggu ekspresi gen homeobox seperti Hoxb-1 yang berperan dalam pengaturan pola aksial embrio. Hal ini dapat meningkatkan risiko malformasi kongenital.
Kelainan yang dilaporkan meliputi cacat kraniofasial, kelainan jantung, dan malformasi sistem saraf pusat. Oleh karena itu, suplementasi vitamin A dosis tinggi harus dihindari pada ibu hamil, kecuali di wilayah dengan prevalensi defisiensi vitamin A tinggi. Dalam kondisi tersebut, dosis tidak boleh melebihi 10.000 IU/hari untuk meminimalkan risiko teratogenisitas.[4]
Penggunaan pada Ibu Menyusui
Vitamin A merupakan komponen fisiologis dalam ASI. Kebutuhan harian ibu menyusui lebih tinggi dibandingkan saat hamil, yaitu sekitar 1.300 µg retinol/hari. Suplementasi maternal mungkin diperlukan pada populasi dengan risiko defisiensi.
Data menunjukkan bahwa dosis tunggal maternal hingga 120.000 µg (400.000 IU) atau dosis harian hingga 1.500 µg (5.000 IU) dianggap tidak menimbulkan efek merugikan pada bayi yang disusui. Meski demikian, dosis harian di atas 3.000 µg (10.000 IU/hari) sebaiknya dihindari karena belum terdapat data keamanan yang memadai.[22]
Penulisan pertama oleh: dr. Reren Ramanda