Beberapa bukti menunjukkan bahwa opioid meningkatkan risiko terjadinya Hospital-Acquired Pneumonia melalui efek sedasi, penurunan refleks batuk, gangguan klirens mukosiliar, hingga imunosupresi. Mengingat cukup seringnya penggunaan opioid, pemahaman mengenai hubungan antara opioid dan risiko Hospital-Acquired Pneumonia menjadi krusial untuk menyeimbangkan manfaat analgesia dengan potensi komplikasi yang mungkin timbul.[1-4]
Opioid merupakan obat yang sering digunakan untuk penanganan nyeri akut, seperti pasca operasi atau cedera, maupun nyeri kronik, baik kanker maupun non-kanker. Di lain pihak, infeksi nosokomial masih menjadi penyebab mortalitas dan morbiditas pasien rawat inap di seluruh dunia. Salah satu jenis infeksi nosokomial yang menjadi penyebab utama kematian adalah hospital-acquired pneumonia (HAP).[5,6]
Karena tingginya mortalitas dan morbiditas dari hospital-acquired pneumonia, penggunaan opioid sebelum atau selama rawat inap menjadi hal yang perlu diperhatikan. Hal ini karena opioid dinilai dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi pada sistem pernapasan, mengingat peranan opioid dalam menyebabkan sedasi dan mendepresi sistem pernapasan.
Selain itu, bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa opioid yang berbeda memiliki pengaruh terhadap imun yang berbeda pula. Beberapa jenis opioid dapat menekan sistem imun, seperti morfin, kodein, sufentanil dan fentanil, sementara beberapa jenis lainnya tidak bersifat imunosupresif, misalnya hydrocodone dan oxycodone.[7]
Opioid dan Hospital-Acquired Pneumonia (HAP)
Pada American Academy of Pain Medicine Annual Meeting 2017, dikemukakan bahwa pemberian opioid (fentanyl, morfin, atau kodein) selama 100 hari sebelum hospitalisasi dapat meningkatkan risiko terjadinya hospital-acquired pneumonia. Publikasi tersebut menunjukkan risiko terjadinya HAP meningkat 2 kali lipat pada pengguna opioid (rasio infeksi 0.79 vs 0.39 dibandingkan bukan pengguna opioid).[2]
Dalam studi lainnya, yakni sebuah studi observasional retrospektif terhadap 2494 pasien dewasa yang diintubasi pada hari pertama-kedua rawat inap, juga didapat hasil serupa. Penggunaan opioid sebelumnya akan meningkatkan risiko hospital-acquired pneumonia sebanyak 3,35 kali pada hari rawat ke 3-5.
Penggunaan opioid imunosupresif rawat jalan (sufentanil, fentanil, kodein, atau morfin) meningkatkan risiko HAP 3 kali lipat, sementara jenis opioid nonimunosupresif lainnya (hydromorphone, hydrocodone, oxycodone, oxymorphone, atau methadone) tidak berkaitan dengan kejadian HAP.[3]
Sumber lain juga melaporkan bahwa penggunaan opioid meningkatkan risiko terjadinya penyakit pneumokokal invasif hingga 1,62 kali, di mana pasien yang sedang mengonsumsi long-acting opioid, opioid imunosupresif, atau baru memakai opioid pertama kali terpapar dengan risiko 2,4 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang hanya memiliki riwayat penggunaan opioid sekali-sekali saja sebelumnya.[8]
Mekanisme Kerja Opioid dalam Modulasi Sistem Imun
Opioid dikenal memiliki karakteristik imunosupresif, yang diketahui didasari beberapa mekanisme berikut:
- Penurunan sitotoksisitas natural killer cells(NKC) dan migrasi makrofag
- Penghambatan kemotaksis neutrophil
- Inhibisi proliferasi limfosit dan dan fagosit
- Penurunan aktivitas sistem imun nonspesifik
- Penghambatan ekspresi sitokin dan produksi antibodi.[8-10]
Namun, perlu dicatat bahwa jenis opioid dan dosis yang berbeda dapat mempengaruhi sistem imun yang berbeda pula. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa terdapat jenis opioid yang bersifat imunosupresif maupun imunostimulatif. Bahkan jenis opioid yang imunosupresif pun dapat meningkatkan sistem imun bila diberikan pada dosis yang berbeda.
Sebagai contoh, pada studi hewan, pemberian dosis morfin 0,5 mg/kg dapat meningkatkan aktivitas NKC 4 kali lipat sementara dosis yang lebih tinggi (1-5 mg/kg) akan meningkatkan aktivitas NKC di awal kemudian diikuti dengan penurunan sitotoksisitas.[11]
Kesimpulan
Opioid sering kali dibutuhkan untuk pasien yang dirawat inap, khususnya yang dirawat di ICU. Rumah sakit perlu mengetahui bahwa pasien rawat inap yang mendapat opioid merupakan kelompok risiko tinggi mengalami pneumonia, hingga 2-3 kali lipat dari pasien yang tidak mendapat opioid.
Untuk itu, rumah sakit perlu membuat strategi untuk menurunkan hospital-acquired pneumonia pada populasi risiko tinggi seperti ini. Contoh strategi yang dapat dikembangkan adalah posisi elevasi kepala untuk meminimalkan risiko pneumonia aspirasi akibat aspirasi saliva berlebih, penggunaan suction, diagnosis dini hospital-acquired pneumonia pada pasien yang mengalami demam saat dirawat, menjaga kebersihan tangan, serta menjaga higiene oral pasien.
Dokter juga sebaiknya juga mempertimbangkan untuk mengganti opioid yang digunakan pada pasien yang dirawat menjadi opioid yang tidak imunosupresif, seperti hydrocodone dan oxycodone, pada kondisi yang memungkinkan.
Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha
