Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Penatalaksanaan Diabetes Insipidus general_alomedika 2022-06-14T12:04:14+07:00 2022-06-14T12:04:14+07:00
Diabetes Insipidus
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan

Penatalaksanaan Diabetes Insipidus

Oleh :
dr. Reren Ramanda
Share To Social Media:

Penatalaksanaan diabetes insipidus melibatkan penggantian cairan untuk mencegah dehidrasi, serta pemberian medikamentosa, seperti desmopressin, carbamazepine, dan indomethacin. Beberapa kasus central diabetes insipidus dapat dikontrol dengan diet rendah natrium. Pengawasan pada penderita diabetes insipidus perlu dilakukan terkait kemungkinan terjadinya retensi cairan dan hiponatremia.[2,3]

Terapi Cairan

Pasien diabetes insipidus umumnya mampu minum cairan per oral untuk menggantikan cairan yang hilang. Apabila kebutuhan cairan tidak dapat dipenuhi melalui konsumsi cairan per oral atau ditemukan hipernatremia, pertimbangkan pemberian cairan dekstrosa atau cairan intravena yang bersifat hipoosmolar terhadap serum pasien

Untuk menghindari hiperglikemia, kelebihan cairan, dan koreksi hipernatremia yang terlalu cepat, terapi cairan diberikan dengan kecepatan tidak melebihi 500–750 mL/jam.[2,3]

Terapi Medikamentosa

Terapi medikamentosa pilihan untuk cranial diabetes insipidus adalah desmopressin, yang merupakan analog sintetis hormon vasopressin (AVP). Dosis desmopressin oral dan sublingual adalah 0,1–0,2 mg. Dosis semprotan intranasal adalah 10–20 mikrogram, dan dosis injeksi intramuskular atau intravena adalah 1–2 mikrogram.[3,13]

Alternatif terapi desmopressin adalah AVP sintesis, chlorpropamide, carbamazepine, dan indomethacin. Karena efek sampingnya yang banyak, carbamazepine jarang digunakan. Indomethacin boleh dipakai jika tidak ada pilihan obat lain. Walaupun demikian, secara umum, pasien dengan cranial diabetes insipidus (CDI) berespon baik terhadap pemberian desmopressin.[2]

Tata laksana pada nephrogenic diabetes insipidus (NDI) kongenital lebih difokuskan pada pengurangan gejala, daripada penyembuhan penyakit secara total. Sedangkan, pada NDI didapat, terapi ditargetkan pada penyebab yang mendasari seperti menghilangkan obstruksi urin atau penghentian terapi lithium.[4]

Terapi lain yang dapat digunakan adalah menggunakan diuretik thiazide. Fungsinya adalah menghambat kotranspor NaCL pada tubulus distal ginjal. Hambatan kotranspor NaCL mengakibatkan penurunan natrium, sehingga terjadi penurunan glomerular filtration rate (GFR) dan peningkatan reabsorpsi natrium dan air di tubulus proksimal.[7]

Terapi Non Medikamentosa

Central diabetes insipidus dengan gejala poliuria dan nokturia ringan hingga sedang dapat dikontrol dengan diet rendah natrium, jika pasien dapat mematuhi diet yang diberikan. Diet rendah natrium berguna untuk menurunkan urine output pasien. Namun, seringkali tata laksana diet rendah natrium juga disertai dengan memberikan obat-obatan, misalnya thiazide atau desmopressin.[17]

Diabetes Insipidus pada Bayi dan Anak-anak

Tata laksana central diabetes insipidus (CDI) pada bayi dan anak kecil cukup sulit. Berbagai sediaan desmopressin memiliki masa kerja yang bervariasi, sehingga pemberian desmopressin dosis oral dan nasal yang tepat terkadang sulit dicapai. Selain itu, kebutuhan kalori bayi sebagian besar dipenuhi dengan cairan, sehingga dosis desmopressin yang salah membuat bayi berisiko mengalami hiponatremia dan kejang.

Selain itu, bayi tidak dapat mengungkapkan rasa haus, serta terkadang sulit untuk mengukur urine output bayi. Terapi pilihan pada kelompok pasien ini adalah dengan menggunakan diet rendah natrium, yaitu rendah garam dan protein, serta kombinasi bersama diuretik thiazide. Kombinasi terapi akan menurunkan urine output dan rasa haus.

Jika meresepkan desmopressin, lakukan pemantauan terhadap konsentrasi serum natrium dan berat badan, untuk mewaspadai terjadinya hipernatremia. Serum natrium sebaiknya diukur 1–2 hari setelah pemberian desmopressin dosis pertama, atau setelah dilakukan penyesuaian dosis.[15-19]

Pengawasan

Lakukan pemantauan terkait retensi cairan dan hiponatremia selama terapi inisial. Awasi asupan cairan, serta frekuensi dan volume buang air kecil. Pantau juga rasa haus pasien, kadar natrium serum, dan volume urine 24 jam. Minta pasien untuk datang kontrol setiap 6–12 bulan.[2]

Pada pasien postoperatif pituitari, lakukan urinalisis untuk mengetahui berat jenis urin, terutama sebelum memberikan desmopressin. Jika terjadi diabetes insipidus, berikan desmopressin setiap 12–24 jam, diimbangi dengan pemberian cairan yang cukup. Pengambilan darah secara berkala untuk menilai kadar elektrolit juga perlu dilakukan.[2,6]

 

 

 

Direvisi oleh: dr. Livia Saputra

Referensi

2. Khardori, Romesh. Diabetes Insipidus. Medscape. 2022. https://emedicine.medscape.com/article/117648-overview#a6
3. Baldeweg, SE et al. Guidelines And Guidance Society For Endocrinology Clinical Guidance Inpatient Management Of Cranial Diabetes Insipidus. Endocrine Connections (2018) 7, G8–G11. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC6013691/
4. Bockenhauer, Detlef and Bichet DG. Pathophysiology, diagnosis and management of nephrogenic diabetes insipidus. Nat Rev Nephrol. 2015 Oct;11(10):576-88. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/26077742
6. Hui C, Khan M, Radbel JM. Diabetes Insipidus. StatPearls. 2022. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK470458/
7. Mutter CM, Smith T, Menze O, Zakharia M, Nguyen H. Diabetes Insipidus: Pathogenesis, Diagnosis, and Clinical Management. Cureus. 2021 Feb 23;13(2):e13523. doi: 10.7759/cureus.13523.
13. Badan POM RI. Diabetes Insipidus. 2015. http://pionas.pom.go.id/ioni/bab-6-sistem-endokrin/65-hormon-hipotalamus-dan-hipofisis-serta-antiestrogen/652-hormon-0
15. Mavinkurve M, McGrath N, Johnston N, et al. Oral administration of diluted nasal desmopressin in managing neonatal central diabetes insipidus. J Pediatr Endocrinol Metab 2017; 30:623.
16. Duicu C, Pitea AM, Săsăran OM, Cozea I, Man L and Bănescu C: Nephrogenic diabetes insipidus in children (Review). Exp Ther Med 22: 746, 2021.
17. Priya G, Kalra S, Dasgupta A, et al. Diabetes Insipidus: A Pragmatic Approach to Management. Cureus 13(1): e12498. doi:10.7759/cureus.12498. 2021.
18. Raisingani M, Palliyil Gopi R, Shah B. Use of Chlorothiazide in the Management of Central Diabetes Insipidus in Early Infancy. Case Rep Pediatr. 2017;2017:2407028. Epub 2017 May 3.
19. Rivkees SA, Dunbar N, Wilson TA. The management of central diabetes insipidus in infancy: desmopressin, low renal solute load formula, thiazide diuretics. J Pediatr Endocrinol Metab. 2007;20(4):459.

Diagnosis Diabetes Insipidus
Prognosis Diabetes Insipidus
Diskusi Terkait
dr. Intan Fajriani
Dibuat 04 Maret 2022, 07:25
Live Webinar Alomedika - Peran Pemantauan Glukosa Mandiri saat COVID-19. Sabtu, 5 Maret 2022 ( 10.00 - 11.00 WIB )
Oleh: dr. Intan Fajriani
0 Balasan
ALO, Dokter!Jangan lewatkan Live Webinar dengan topik, "Peran Pemantauan Glukosa Mandiri saat COVID-19."Narasumber:dr. Johanes Purwoto, Sp.PD, K-EMD,...
dr.Nana
Dibalas 01 April 2021, 21:14
Pasien wanita usia 47 tahun dengan keluhan sering buang air kecil namun nilai gula darah dan hasil pemeriksaan urin normal
Oleh: dr.Nana
2 Balasan
Pasien perempuan usia 47 tahun datang ke puskesmas dengan keluhan sering kecing baik pada pagi hari ataupun malam hari. Nyeri saat BAK disangkal. Sering haus...
Anonymous
Dibalas 29 September 2020, 00:12
Pasien laki-laki usia 27 tahun dengan keluhan sering buang air kecil
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter. Izin konsul.Laki laki usia 27 tahun datang dengan keluhan sering bak. Hal ini telah dialami os lebih kurang selama 12 tahun.Dalam sehari os bisa...

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.