Masuk atau Daftar

Alo! Masuk dan jelajahi informasi kesehatan terkini dan terlengkap sesuai kebutuhanmu di sini!
atau dengan
Facebook
Masuk dengan Email
Masukkan Kode Verifikasi
Masukkan kode verifikasi yang telah dikirimkan melalui SMS ke nomor
Kami telah mengirim kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Kami telah mengirim ulang kode verifikasi. Masukkan kode tersebut untuk verifikasi
Terjadi kendala saat memproses permintaan Anda. Silakan coba kembali beberapa saat lagi.
Selanjutnya

Tidak mendapatkan kode? Kirim ulang atau Ubah Nomor Ponsel

Mohon Tunggu dalam Detik untuk kirim ulang

Apakah Anda memiliki STR?
Alo, sebelum melanjutkan proses registrasi, silakan identifikasi akun Anda.
Ya, Daftar Sebagai Dokter
Belum punya STR? Daftar Sebagai Mahasiswa

Nomor Ponsel Sudah Terdaftar

Nomor yang Anda masukkan sudah terdaftar. Silakan masuk menggunakan nomor [[phoneNumber]]

Masuk dengan Email

Silakan masukkan email Anda untuk akses Alomedika.
Lupa kata sandi ?

Masuk dengan Email

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk akses Alomedika.

Masuk dengan Facebook

Silakan masukkan nomor ponsel Anda untuk verifikasi akun Alomedika.

KHUSUS UNTUK DOKTER

Logout
Masuk
Download Aplikasi
  • CME
  • Webinar
  • E-Course
  • Diskusi Dokter
  • Penyakit & Obat
    Penyakit A-Z Obat A-Z Tindakan Medis A-Z
Bell's Palsy general_alomedika 2025-12-01T10:56:20+07:00 2025-12-01T10:56:20+07:00
Bell's Palsy
  • Pendahuluan
  • Patofisiologi
  • Etiologi
  • Epidemiologi
  • Diagnosis
  • Penatalaksanaan
  • Prognosis
  • Edukasi dan Promosi Kesehatan
  • Panduan e-Prescription

Pendahuluan Bell's Palsy

Oleh :
dr. Irwan Supriyanto PhD SpKJ
Share To Social Media:

Bell’s palsy adalah kelumpuhan salah satu sisi otot wajah tiba-tiba akibat paralisis nervus fasialis (saraf kranial VII) unilateral awitan akut. Etiologi pasti Bell’s palsy belum diketahui namun proses iskemik, infeksi, imunologi, atau herediter dihipotesiskan sebagai penyebab.

Dalam perjalanannya, nervus fasialis melalui berbagai kanal sempit sehingga proses yang menyebabkan edema atau inflamasi bisa menimbulkan kompresi dan gangguan inervasi. Nervus fasialis mempunyai percabangan motorik, sensorik dan parasimpatik, sehingga gejala paralisis saraf ini akan menimbulkan paralisis otot wajah, gangguan pendengaran, gangguan pengecap, nyeri wajah dan mastoid, serta gangguan lakrimasi dan salivasi.[1,2]

Bells palsy Sumber: PJ Lynch, Wikimedia commons, 2006.

Bell’s palsy adalah kelemahan atau kelumpuhan nervus fasialis unilateral awitan akut, kurang dari 72 jam. Bell’s palsy relatif jarang ditemukan tetapi bisa mengenai semua gender pada semua umur. Insidensi gangguan ini adalah 11,5–53,3 per 100.000 orang per tahun.[1-3]

Diagnosis Bell’s palsy ditegakkan dengan menyingkirkan kemungkinan patofisiologi lain. Gejala patognomonisnya adalah paralisis otot wajah ipsilateral, mencakup cabang nervus fasialis bagian dahi, bersifat akut, dan mencapai puncak dalam 72 jam. Tingkat keparahan parese nervus dinilai dengan House Brackmann grading system. Sistem ini juga dipakai untuk menilai kemajuan terapi.

Pemeriksaan fisik yang harus dilakukan adalah pemeriksaan motorik otot-otot wajah yang diinervasi nervus fasialis, pemeriksaan nervus kranialis lain, pemeriksaan telinga, pemeriksaan mata, pemeriksaan fungsi lakrimasi dan salivasi, serta pemeriksaan fungsi pengecap. Pemeriksaan penunjang tidak direkomendasikan untuk penegakan diagnosis namun bisa dilakukan sesuai dengan indikasi, misalnya untuk menyingkirkan kelainan saraf pusat.

Penatalaksanaan farmakoterapi harus dimulai sesegera mungkin untuk menurunkan kemungkinan terjadinya sekuele. Farmakoterapi yang diberikan adalah kortikosteroid atau kombinasi kortikosteroid dan antiviral. Penggunaan antiviral sebagai agen tunggal tidak direkomendasikan. Penatalaksanaan non farmakologis dilakukan untuk mengoptimalkan fungsi dan estetik, serta mengatasi sekuele.

Sebagian besar pasien Bell’s palsy mengalami remisi sempurna, namun sebagian kecil akan mengalami remisi parsial dan mengalami sekuele. Sekuele yang bisa terjadi adalah regenerasi motorik yang inkomplit, regenerasi sensorik yang inkomplit, atau reinervasi yang salah.[11,12]

 

 

Direvisi oleh: dr. Bedry Qintha

Referensi

1. de Almeida JR, Guyatt GH, Sud S, Dorion J, Hill MD, Kolber MR, et al. Management of Bell palsy: clinical practice guideline. CMAJ Can Med Assoc J. 2014; 186(12): 917–22.
2. Baugh RF, Basura GJ, Ishii LE, Schwartz SR, Drumheller CM, Burkholder R, et al. Clinical Practice Guideline: Bell’s Palsy. Otolaryngol-Head Neck Surg. 2013; 149 (3_suppl): S1–27.
3. Greco A, Gallo A, Fusconi M, Marinelli C, Macri GF, de Vincentiis M. Bell’s palsy and autoimmunity. Autoimmun Rev. 2012; 12(2): 323–8.
11. Gardner S, Garber L, Grossi J. Bell's Palsy: Description, Diagnosis, and Current Management. Cureus. 2025 Jan 19;17(1):e77656. doi: 10.7759/cureus.77656.
12. Singh A, Deshmukh P. Bell's Palsy: A Review. Cureus. 2022 Oct 11;14(10):e30186. doi: 10.7759/cureus.30186.

Patofisiologi Bell's Palsy

Artikel Terkait

  • Membedakan Paralisis Nervus Fasialis Sentral dan Perifer
    Membedakan Paralisis Nervus Fasialis Sentral dan Perifer
  • Efikasi Antivirus dan Kortikosteroid pada Bell’s Palsy
    Efikasi Antivirus dan Kortikosteroid pada Bell’s Palsy
  • Red Flags Nyeri Wajah
    Red Flags Nyeri Wajah
  • Intervensi Pembedahan Dini pada Bell’s Palsy
    Intervensi Pembedahan Dini pada Bell’s Palsy
  • Low-Level Laser Therapy untuk Penanganan Bell’s Palsy
    Low-Level Laser Therapy untuk Penanganan Bell’s Palsy

Lebih Lanjut

Diskusi Terkait
Anonymous
Dibalas 02 Januari 2026, 11:23
Bagaimana dosis dan tapering off kortikosteroid pada Bell's Palsy?
Oleh: Anonymous
3 Balasan
Alo dokter, mohon masukan utk terapi bell's palsy....bagaimana dosis dan tapp off kortikosteroidnya ya? Terimakasih
Anonymous
Dibalas 24 September 2024, 14:01
Bells palsy tidak membaik setelah 10 hari pengobatan dengan prednison
Oleh: Anonymous
6 Balasan
Apabila bells palsy tidak membaik setelah 10 hari pengobatan prednison, apakah perlu dilanjutkan prednison nya? Sampai kapan prednison diteruskan?
Anonymous
Dibalas 22 April 2024, 15:07
Apakah pemberian dexamethasone untuk pasien bell's palsy diperbolehkan?
Oleh: Anonymous
1 Balasan
Alo dok, izin berdiskusi jika pasien datang ke fktp dengan diagnosis bell's palsy sedangkan kortikosteroid yang tersedia hanyalah dexametason. Apakah...

Lebih Lanjut

Download Aplikasi Alomedika & Ikuti CME Online-nya!
Kumpulkan poin SKP sebanyak-banyaknya!

  • Tentang Kami
  • Advertise with us
  • Syarat dan Ketentuan
  • Privasi
  • Kontak Kami

© 2024 Alomedika.com All Rights Reserved.