Hubungan antara konsumsi makanan mengandung kolesterol dengan penyakit kardiovaskular serta mortalitas masih kontroversi. Hasil studi yang ada menunjukkan bahwa hubungan antara konsumsi makanan yang mengandung kolesterol, seperti telur dan daging merah, dengan penyakit kardiovaskular dan risiko mortalitas sangat bervariasi.[1-3]
Beberapa meta analisis terbaru dari studi kohort prospektif juga tidak dapat menarik kesimpulan yang berarti tentang hubungan antara konsumsi kolesterol makanan dan penyakit kardiovaskular. Hal ini terutama karena heterogenitas antar studi, dan kurangnya ketelitian metodologis, atau adanya bias dari studi yang ditinjau.[2,3]
Selain itu, perubahan pada Dietary Guidelines for Americans 2015-2020 yang awalnya tidak merekomendasikan konsumsi kolesterol, kini menyarankan konsumsi kolesterol sesedikit mungkin dalam pola makan yang sehat.[1-3]
Hubungan Konsumsi Kolesterol dengan Risiko Terjadinya Penyakit Kardiovaskular
Telur mengandung kolesterol dalam jumlah yang relatif tinggi terutama pada kuning telur, sementara daging merah mengandung kolesterol dan lemak jenuh (saturated fat) yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah. Kolesterol ini akan dicerna dan diabsorbsi melalui usus halus, lalu masuk ke aliran darah dalam bentuk partikel lipoprotein, seperti kilomikron.[3-5]
Setelah diabsorbsi, kolesterol akan mengalami proses metabolisme di hepar dan dibawa oleh LDL (low density lipoprotein) untuk didistribusikan ke sel-sel yang membutuhkan kolesterol berguna untuk pembentukan membran sel dan produksi hormon.[3,5,6]
Kadar LDL yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan kolesterol dan partikel LDL yang terperangkap di dinding arteri, terutama pada bagian yang rapuh. Penumpukan plak yang terdiri dari kolesterol, partikel LDL, kalsium, dan berbagai zat lainnya akan membentuk plak aterosklerotik yang menebal dan mempersempit pembuluh darah yang dapat memicu aterosklerosis.[3,4,5,7]
Pada kondisi aterosklerosis, plak akan terus berkembang dan menyebabkan pembuluh darah semakin sempit serta keras, sehingga mengurangi aliran darah dan oksigen ke organ seperti jantung dan otak.[4,5,7]
Jika aliran darah terganggu secara signifikan, maka aterosklerosis dapat menyebabkan penyakit kardiovaskular, seperti infark miokard, angina pektoris, gagal jantung, penyakit jantung koroner, stroke, hingga kematian.[4-7]
Bukti Ilmiah Terbaru Hubungan Konsumsi Kolesterol dengan Penyakit Kardiovaskular
Berbagai studi telah dilakukan untuk mengetahui hubungan antara asupan kolesterol yang bersumber dari makanan seperti telur dan daging merah terhadap penyakit kardiovaskular dan risiko mortalitas.[8-11]
Hubungan Konsumsi Telur dengan Risiko Penyakit Kardiovaskular dan Mortalitas
Pada penelitian yang dilakukan Mofrad et al., konsumsi telur hingga 1,5 butir per hari dan asupan kolesterol makanan hingga 450 mg per hari tidak berhubungan signifikan dengan risiko mortalitas, termasuk akibat penyakit kardiovaskular. Namun, risiko ini meningkat jika melebihi batas tersebut. Studi ini memiliki keterbatasan, seperti bias kausalitas terbalik dan heterogenitas antar-studi yang moderat.[8]
Sementara itu, penelitian oleh Xia et al. menunjukkan bahwa konsumsi telur yang sangat rendah (<1 butir per minggu) maupun sangat tinggi (≥10 butir per minggu) dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas. Berdasarkan temuan ini, direkomendasikan konsumsi telur 3–<6 butir per minggu untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas.[9]
Hubungan Konsumsi Daging dengan Risiko Penyakit Kardiovaskular dan Mortalitas
Penelitian Wang et al. pada 180.642 individu menunjukkan bahwa konsumsi daging merah ≥3 kali/minggu meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular (20%), penyakit jantung koroner (53%), dan stroke (101%) dibandingkan dengan konsumsi <1,5 kali/minggu. Menggantinya dengan unggas atau serealia dapat menurunkan risiko mortalitas akibat penyakit kardiovaskular sebesar 9%–16%.[10]
Studi kohort oleh Wang et al. (2024) pada 148.506 peserta menunjukkan bahwa konsumsi daging merah, terutama daging olahan seperti sosis dan bacon, meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular lebih besar dibandingkan daging merah yang tidak diolah. Menggantinya sebagian dengan kacang, biji-bijian, atau susu skim dikaitkan dengan penurunan risiko masing-masing sebesar 14%, 7%, dan 4%.[11]
Secara keseluruhan, konsumsi daging merah yang tinggi, terutama daging olahan, dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitas, sementara penggantian sebagian dengan sumber protein lain dapat memberikan manfaat kesehatan yang lebih baik.[10,11]
Rekomendasi Asupan Kolesterol Makanan Harian
Beberapa organisasi merekomendasikan batas aman konsumsi kolesterol untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, meskipun tidak ada batas numerik yang eksplisit. Penilaian efek kolesterol makanan masih sulit dilakukan karena keterbatasan bukti mengenai jumlah asupan yang tepat serta sulitnya memisahkan dampak telur dari makanan pendamping seperti bacon dan sosis.[3,9,14]
Rekomendasi National Lipid Association (NLA)
National Lipid Association (NLA) merekomendasikan pengurangan asupan kolesterol makanan hingga <200 mg/hari dan mengurangi asupan lemak jenuh hingga <7% dari total energi untuk menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini harus diikuti dengan pola diet yang menyehatkan jantung, dengan fokus mengonsumsi protein nabati.[12,13]
Rekomendasi American Heart Association (AHA)
American Heart Association (AHA) dalam Dietary Guidance to Improve Cardiovascular Health (2021) merekomendasikan pembatasan kolesterol makanan hingga 300 mg/hari, sejalan dengan laporan dari Komite Penasihat Pedoman Diet Amerika Serikat tahun 2020 yang menyarankan agar asupan kolesterol tidak meningkat.[2,5,13,14]
AHA juga tidak merekomendasikan konsumsi daging olahan dalam diet untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular, karena kandungan lemak jenuh, kalori, dan natrium yang tinggi. Sebagai alternatif, daging merah tanpa lemak dapat menjadi pilihan dalam diet kolesterol untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.[14,15]
Rekomendasi Dietary Guidelines for Americans 2020-2025
Dietary Guidelines for Americans 2020-2025 merekomendasikan untuk mengonsumsi 1 butir telur/hari dalam pola diet sehat, karena telur mengandung nutrisi bermanfaat lainnya: protein albumin pada putih telur; vitamin A, B12, riboflavin, folat, selenium, kolin, zat besi dan yodium pada kuning telur.[3,9,13]
Tabel di bawah ini merupakan rekomendasi jumlah asupan makanan yang mengandung kolesterol untuk mencegah penyakit kardiovaskular pada usia dewasa berdasarkan Dietary Guidelines for Americans 2020-2025.[13,15]
Tabel 1. Rekomendasi Jumlah Asupan Kolesterol Makanan untuk Usia Dewasa berdasarkan Dietary Guidelines for Americans 2020-2025
Bahan Makanan | Rekomendasi Asupan (dalam ons/minggu) |
Daging merah tanpa lemak, unggas | 652-935 gram/minggu |
Seafood (direkomendasikan untuk memilih makanan laut yang kaya akan omega-3) | 226-283 gram/minggu |
Kacang-kacangan, biji-bijian, dan produk dari kedelai (soy products) | 113-170 gram/minggu |
Sumber: dr. Eva Naomi, 2025.[13,15]
Selain itu, proses pengolahan makanan juga perlu diperhatikan. Menambahkan lemak jenuh, garam, bahan pengawet, atau digoreng cenderung meningkatkan kadar kolesterol LDL. Oleh karena itu, metode pengolahan makanan dengan merebus, memanggang, atau mengukus sangat direkomendasikan dalam diet kolesterol untuk mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.[14-16]
Kesimpulan
Sumber utama kolesterol makanan berasal dari produk hewani, seperti telur dan daging. Hubungan antara konsumsi telur dan insiden penyakit kardiovaskular serta risiko mortalitas masih kontroversial.
Beberapa studi yang mengevaluasi konsumsi daging merah menunjukkan hubungan signifikan dengan penyakit kardiovaskular dan risiko mortalitas. Namun, beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah sedang dapat menurunkan resiko penyakit kardiovaskular.
Batasan numerik asupan kolesterol makanan belum secara eksplisit ditetapkan, karena penilaian efek kolesterol pada risiko penyakit kardiovaskular menjadi rumit oleh karena kurangnya bukti yang jelas terkait jumlah yang tepat serta karena adanya pengaruh kombinasi makanan yang mengandung kolesterol.
Oleh karena itu, asupan kolesterol makanan disarankan untuk dibatasi, yaitu <200 mg/hari menurut NLA dan tidak lebih dari 300 mg/hari berdasarkan pedoman AHA dalam Dietary Guidance to Improve Cardiovascular Health 2021.
Dietary Guidelines for Americans 2020-2025 merekomendasikan konsumsi telur 1 butir/hari dan daging merah tanpa lemak sekitar 652‒935 gram/minggu. Namun pedoman ini masih belum memiliki uji klinis yang kuat untuk mendukung rekomendasinya.
Diperlukan lebih banyak lagi penelitian yang komprehensif dan melibatkan subjek penelitian yang lebih besar untuk mengevaluasi topik ini.