Penggunaan glutathione injeksi semakin populer sebagai agen pemutih kulit, atau sering disebut dengan istilah ‘suntik putih’ (skin whitening). Meski demikian, penggunaan glutathione untuk tujuan tersebut masih menuai kontroversi, utamanya karena kurangnya bukti terkait manfaat dan keamanannya.[1,2]
Untuk mengikuti tren saat ini, banyak orang menganggap bahwa kulit yang lebih putih, cerah, dan merata adalah kulit ideal. Hal ini mendorong penggunaan preparat, yang sebelumnya digunakan untuk mengobati hiperpigmentasi, sebagai agen pencerah kulit untuk tujuan kosmetik. Glutathione intravena merupakan salah satu yang banyak dimanfaatkan untuk tujuan tersebut.[1-4]
Peran Glutathione pada Melanogenesis
Glutathione merupakan molekul tripeptida yang terdiri dari asam amino cysteine, glycine dan glutamine, yang secara alami ditemukan pada tomat, alpukat, jeruk, walnut, dan asparagus. Glutathione memiliki beberapa fungsi dalam terapi klinis, terutama dalam menangani keadaan yang berhubungan dengan stres oksidatif, seperti kelainan neurodegeneratif, penyakit hati dan keadaan inflamasi, karena kemampuannya sebagai antioksidan.[1,5,6]
Pada konsentrasi tinggi, glutathione dapat memengaruhi melanogenesis melalui beberapa mekanisme, yaitu:
- Perubahan dalam perkembangan feomelanin melawan eumelanin
- Efek glutathione pada tirosin kinase
- Efek antioksidan terhadap radikal bebas.[1,7]
Mekanisme Aksi Glutathione Sebagai Agen Pemutih Kulit
Pada dasarnya, glutathione intravena diduga berperan sebagai pemutih kulit melalui efek antimelanogeniknya, yaitu dengan menghambat aktivitas enzim tirosinase yang merupakan enzim kunci dalam sintesis melanin, serta mengarahkan proses melanogenesis dari pembentukan eumelanin yang berwarna lebih gelap menuju feomelanin yang berwarna lebih terang.
Selain itu, sebagai antioksidan, glutathione membantu menangkal radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif yang dapat merangsang melanogenesis. Kadar glutathione yang lebih rendah juga ditemukan pada kulit yang mengalami paparan sinar matahari kronis, yang kemungkinan berkaitan dengan stres oksidatif akibat paparan sinar UV.[1,5]
Adakah Basis Bukti Efikasi Glutathione Intravena Sebagai Agen Pemutih Kulit?
Bukti ilmiah yang kuat mengenai efikasi glutathione intravena (IV) sebagai agen pemutih kulit masih belum tersedia, karena penelitian klinis yang ada sangat terbatas dan belum menunjukkan efektivitas maupun efek pencerahan yang bertahan lama. Banyak studi yang tersedia mengenai topik ini memiliki keterbatasan metodologi, seperti jumlah sampel kecil dan angka dropout tinggi.[1]
Suatu uji klinis yang melibatkan 50 perempuan usia 25–47 tahun, menilai efektivitas glutathione intravena dalam mencerahkan warna kulit. Peserta kelompok glutathione mendapat glutathione 1.200 mg ditambah vitamin C secara intravena, 2 kali seminggu selama 6 minggu (12 kali pemberian). Kelompok kontrol mendapat cairan normal salin. Perubahan warna kulit dinilai menggunakan Taylor hyperpigmentation scale dan dipantau hingga 6 bulan setelah terapi dihentikan.
Setelah terapi, 37,5% peserta kelompok glutathione menunjukkan perbaikan bermakna dibandingkan 18,7% pada kelompok plasebo, tetapi perbedaan tersebut tidak mencapai signifikansi statistik. Selain itu, efek pencerahan tidak bertahan lama. Enam bulan setelah terapi, hanya satu peserta yang masih mempertahankan perbaikan tersebut. Temuan ini menunjukkan bahwa glutathione IV tidak memberikan bukti efektivitas yang kuat atau menetap untuk pencerahan kulit.[8]
Potensi Efek Samping Glutathione
Bukti yang menunjukkan keamanan penggunaan glutathione intravena masih sangat sedikit. Oleh karena itu, Food and Drug Administration (FDA) di Amerika Serikat dan Filipina mengeluarkan peringatan tentang penggunaan bahan ini.[1,7]
Efek samping yang telah dilaporkan pada penggunaan glutathione intravena mencakup kasus berat seperti Stevens–Johnson syndrome (SJS) dan toxic epidermal necrolysis (TEN). Efek samping lain mencakup nyeri abdomen berat, hingga gangguan fungsi hati, ginjal, dan tiroid.
Selain risiko yang berkaitan dengan glutathione itu sendiri, pemberian secara intravena terutama jika dilakukan dengan teknik yang tidak steril atau menggunakan produk palsu, dapat menimbulkan komplikasi serius seperti sepsis dan emboli udara yang berpotensi fatal.[1,5]
Kesimpulan
Injeksi glutathione intravena semakin populer digunakan sebagai agen pemutih kulit, atau sering disebut dengan istilah ‘suntik putih’. Meski demikian, basis bukti yang mendukung efikasinya masih sangat kurang. Selain itu, penggunaan glutathione juga telah dikaitkan dengan efek samping bermakna, seperti Stevens-Johnson syndrome, toxic epidermal necrolysis, hingga gangguan fungsi hati, ginjal, dan tiroid.
Dengan demikian, mengingat bukti efikasi yang masih kurang dan adanya laporan efek samping serius, serta belum tersedianya protokol dosis yang terstandar, penggunaan glutathione intravena sebagai agen pemutih kulit sebaiknya dihindari. Uji klinis acak terkontrol dengan jumlah sampel yang lebih besar dan pemantauan jangka panjang masih diperlukan untuk memastikan efikasi dan keamanan glutathione intravena.
