Pendahuluan Grover Disease
Grover disease (GD) adalah penyakit erupsi kulit langka dengan ciri khas papul dan vesikel edematosa, diskret, dan pruritik yang muncul pada area badan dan ekstremitas. Pada kebanyakan kasus, Grover disease bersifat swasirna. Rerata durasi terjadinya erupsi kulit yaitu 2-4 minggu.[1,2]
Dahulu, Grover disease dianggap sebagai suatu dermatosis akantolitik transien. Meski begitu, penggunaan istilah ini kini menjadi kurang tepat karena telah didapatkan kasus persisten dan morfologi selain akantolisis, sehingga penggunaan istilah Grover disease lebih tepat.[1]
Etiologi Grover disease belum dipenuhi sepenuhnya. Beberapa faktor yang diduga berpengaruh terhadap munculnya lesi penyakit ini adalah cuaca panas dan berkeringat, udara kering dan dingin, kondisi medis kronis, kondisi dermatologis lain, dan induksi obat. Koinsidensi kejadian Grover disease dengan berbagai kondisi medis lainnya menunjukkan bahwa penyakit ini bersifat polipatogenik.[1-5]
Diagnosis Grover disease merupakan suatu diagnosis klinis. Meski demikian, pemeriksaan histopatologis menjadi baku emas untuk dapat membedakan Grover disease dari penyakit akantolisis lain. Ciri histopatologis khas pada Grover disease adalah akantolisis fokal dan diskeratosis dengan derajat bervariasi.[1,3]
Tata laksana awal Grover disease yaitu dengan membatasi faktor pencetus, termasuk keringat berlebihan, suhu tinggi, tirah baring lama, dan xerosis, yang dapat ditangani dengan penggunaan emolien. Bila keluhan menetap, kortikosteroid topikal dapat diberikan terutama pada bentuk erupsi sementara atau lesi terbatas.[2]
Pada kasus yang lebih berat dan persisten, terapi dapat dikombinasikan dengan retinoid sistemik atau kortikosteroid sistemik jangka pendek. Isotretinoin oral umumnya diberikan dengan dosis 40 mg/hari selama beberapa minggu hingga tercapai remisi, kemudian dosis diturunkan secara bertahap. Alternatif lain adalah acitretin dengan dosis sekitar 0,5 mg/kgBB/hari atau dosis yang lebih rendah.[2]
